Kumparan Logo

Alvaro Morata dan Masalah-masalah yang Menghantui Langkahnya

kumparanBOLAverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alvaro Morata sedang dalam masalah. (Foto: Reuters/David Klein)
zoom-in-whitePerbesar
Alvaro Morata sedang dalam masalah. (Foto: Reuters/David Klein)

Ketika pemain termahal sebuah klub hanya tampil sebagai cameo pada salah satu laga terpenting klub tersebut, tentunya ada sesuatu yang salah. Itulah yang terjadi pada Alvaro Morata.

Morata didatangkan Chelsea dengan ekspektasi luar biasa tinggi. Musim lalu, dia merupakan penyerang tengah paling efektif milik Real Madrid dan catatan positif itu jadi alasan utama di balik keberanian Chelsea mengeluarkan uang 58,5 juta poundsterling untuk merekrutnya. Tak cuma menggelontorkan banyak uang, manajer Antonio Conte sebelumnya juga sudah menyingkirkan penyerang andalannya musim lalu, Diego Costa, demi memberi jalan bagi Morata.

Kepercayaan Chelsea itu tidak disia-siakan oleh Morata. Pada laga debutnya di Premier League menghadapi Burnley, Morata langsung mencetak 1 gol dan 1 assist. Tak heran jika kemudian dirinya langsung diplot menjadi penyerang utama. Dalam lima pertandingan berikutnya, 5 gol dan 1 assist berhasil disumbangkannya.

Akan tetapi, performa Morata kemudian menukik. Selanjutnya, dia butuh 11 pertandingan untuk mencetak 5 gol tambahan di Premier League. Sejak gol terakhirnya ke gawang Brighton and Hove Albion, 26 Desember 2017, sudah ada sembilan laga yang dia lalui.

Ya, memang sembilan laga itu tak semuanya dilalui Morata dengan bermain penuh. Akan tetapi, dari sana ada 450 menit bermain yang dia kumpulkan. Memang, Morata bukannya sama sekali tak berguna karena dia pun berhasil menambah koleksi assist-nya, tetapi selain itu Morata justru lebih doyan mengoleksi kartu. Tiga kartu kuning plus satu kartu merah didapat Morata dalam kurun waktu tersebut, termasuk satu kartu kuning pada laga melawan Barcelona.

Pertanyaannya, ada apa sebenarnya dengan Morata?

Ada tiga alasan di balik penurunan performa Morata ini. Pertama, soal kondisi fisiknya yang tak prima. Kedua, soal kepercayaan diri, dan ketiga, soal ketidakmampuan mengemban tanggung jawab.

Kondisi fisik Morata sebenarnya sudah bermasalah sejak awal musim. Tipisnya skuat Chelsea membuat Conte mau tidak mau harus memforsir pemain-pemain utamanya. Hasilnya, pada pertandingan kesembilan berseragam Chelsea, Morata tumbang.

Pada laga menghadapi Manchester City, akhir September 2017, Morata mengalami cedera dan harus ditarik keluar pada menit ke-35. Laga melawan City inilah yang menjadi titik balik performa Morata. Ini adalah titik awal menurunnya performa pemain asal Spanyol ini.

Sejak itu, Morata tidak pernah benar-benar fit. Bahkan, Conte sekalipun sampai pernah mengeluhkan situasi ini.

Morata berduel pada laga versus City. (Foto: John Sibley/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Morata berduel pada laga versus City. (Foto: John Sibley/Reuters)

"Selama ini kita selalu bicara soal hasil buruk, tetapi situasi yang lebih genting justru dilupakan. Pemain seperti Morata, bagi kami, sangat penting dan sudah lama menghilang. Aku tidak tahu sampai kapan dia bakal absen," kata Conte pada 9 Februari 2018.

"Kami kesulitan mencari solusi untuk rasa sakit yang dia derita di punggungnya. Jika kalian bertanya berapa lama waktu yang dia butuhkan, aku tidak tahu. Inilah mengapa aku sangat khawatir," tambahnya.

Sejak Conte mengatakan hal itu, Morata sudah bermain tiga kali. Akan tetapi, tak sekali pun eks pemain Juventus ini tampil penuh. Total, menit bermainnya dalam tiga laga itu hanya mencapai 56 menit, meski ada 1 assist yang sukses dia kemas.

Setelah masalah fisik itu, ada masalah kepercayaan diri. Kerapnya Morata absen tentu saja berpengaruh pada mentalnya pula. Buruknya kepercayaan diri Morata ini sudah terlihat kala Chelsea bermain imbang 2-2 dengan Arsenal, awal Januari 2018 silam. Pada laga tersebut, Morata gagal menuntaskan tiga peluang satu-lawan-satu yang didapatnya.

Bermasalahnya mental Morata ini diperparah dengan kematian seorang sahabat dekatnya karena kecelakaan mobil, Januari lalu. Masalah ini membuat gerak-gerik Morata jadi tidak seperti biasanya dan hasil akhirnya pun akhirnya tidak sebaik biasanya.

Morata buang-buang peluang. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
zoom-in-whitePerbesar
Morata buang-buang peluang. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)

Terakhir, ada masalah tanggung jawab. Sebelum membela Chelsea, Morata memang tidak pernah menjadi tumpuan utama di lini depan klub-klub yang dia bela. Di Real Madrid, sudah jelas bahwa dia adalah cadangan Karim Benzema. Sementara, di Juventus dulu ada Carlos Tevez sampai Fernando Llorente yang bisa meringankan beban Morata.

Di Juventus, Morata tak jarang diturunkan pada babak kedua ketika Tevez dan Llorente menemui jalan buntu. Dengan demikian, Morata jadi bisa lebih lepas dalam bermain dan pada akhirnya mampu mencatatkan gol-gol krusial untuk Juventus, seperti pada final Coppa Italia 2016 serta semifinal Liga Champions 2014/15.

Sementara itu, di Chelsea situasinya berbeda. Morata adalah aktor utama yang didatangkan sebagai pemain termahal sepanjang masa klub. Tanpa sosok yang lebih senior seperti Tevez dan Llorente sebagai pendamping nyatanya Morata masih kesulitan, meski sebetulnya dia punya kemampuan yang mumpuni.

Ketika Conte akhirnya memutuskan untuk mencadangkan Morata pada laga melawan Barcelona, keputusan itu bisa dimaklumi dengan mudah. Faktanya, Morata memang belum kembali ke bentuk terbaik dan di pertandingan dengan pertaruhan sebesar itu, memainkan Morata justru bisa jadi bumerang. Faktanya lagi, tanpa Morata pun permainan Chelsea tidak bermasalah, walau tetap gagal meraih kemenangan.

Namun, terlepas dari itu semua, satu hal yang tak boleh dilakukan Chelsea maupun Conte adalah melepas Morata begitu saja. Biar bagaimana pun, Morata adalah pemain yang punya kompetensi dan sudah terbukti bisa berperan penting di laga-laga besar. Jika Morata nanti bisa menemukan bentuk terbaik seperti pada awal musim, toh, Chelsea juga yang akan menuai indahnya.