Kumparan Logo

Analisis: Mengganti Kante adalah Kunci Kemenangan Prancis di Final

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nzonzi dan Kante merayakan gelar juara Piala Dunia bersama Lloris. (Foto: REUTERS/Damir Sagolj)
zoom-in-whitePerbesar
Nzonzi dan Kante merayakan gelar juara Piala Dunia bersama Lloris. (Foto: REUTERS/Damir Sagolj)

Sekilas, laga final Piala Dunia 2018 seperti laga biasanya bagi Tim Nasional (Timnas) Prancis. Karena seperti yang sudah-sudah, sepak bola bertahan Les Bleus pada akhirnya membawa kemenangan 4-2 atas Timnas Kroasia. Namun, kemenangan itu mungkin takkan diraih andaikata pelatih Didier Deschamps tak sadar betapa buruknya performa N'Golo Kante di laga itu.

WhoScored memberikan nilai 5,9 untuk gelandang bertahan Chelsea itu. Di skuat Prancis, tidak ada yang mendapatkan nilai lebih rendah daripada Kante. Ini mengejutkan, mengingat Kante merupakan salah satu pemain yang paling konsisten di skuat Prancis dalam perjalanannya menjuarai Piala Dunia edisi Rusia.

Di tulisan ini, kami akan membeberkan seburuk apa Kante di laga final dan bagaimana menggantinya dengan Steven N'Zonzi di menit 55 memastikan gelar juara dunia kedua bagi Prancis.

Kante yang Kalah Total di Lini Tengah

Dalam formasi 4-2-3-1 khas Prancis, Kante memiliki tugas yang begitu berat. Karena gelandang tandemnya, Paul Pogba, mendapatkan peran lebih ofensif, maka dia pun harus mengemban tugas bertahan. Sialnya, pemain berusia 27 tahun itu harus menjaga Ivan Rakitic dan Luka Modric, dua gelandang yang tampil apik sepanjang turnamen, sekaligus di laga ini.

Repotnya lagi, baik Modric dan Rakitic punya 'wilayah kekuasaan' yang berbeda. Modric bertugas untuk menjadi gelandang 'nomor 8' di sektor kanan, sementara Rakitic berada di sektor kiri. Mencarnya kedua pemain ini membuat Kante gagal mendominasi lini tengah seperti laga semifinal lawan Belgia. Terutama, karena Blaise Matuidi juga gagal mengemban tugas defensive winger di sisi kiri Prancis seperti biasanya. Agar makin jelas, simak heatmap dari WhoScored berikut.

'heatmap' Kante laga final (kiri) vs laga semifinal (kanan) (Foto: WhoScored)
zoom-in-whitePerbesar
'heatmap' Kante laga final (kiri) vs laga semifinal (kanan) (Foto: WhoScored)

Gagalnya Kante ini berujung dengan ikut 'kotor'-nya Pogba dalam tugas bertahan. Turutnya Pogba dalam bertahan berimplikasi serius dalam serangan Prancis. Tercatat, mereka hanya melancarkan satu tembakan tepat sasaran di babak pertama.

Di sisi lain, full-back Prancis yang tak tangguh-tangguh betul ketika diserang memperumit keadaan. Tak jarang Benjamin Pavard memberikan terlalu banyak ruang kepada Ivan Perisic untuk meneruskan umpan-umpan dari Rakitic. Pun begitu dengan Lucas Hernandez yang harus berhadapan dengan Ante Rebic. Perlu dicatat juga bahwa full-back Kroasia, Sime Vrsaljko dan Ivan Strinic, selalu membantu ketika Rebic dan Perisic maju.

Beruntung, saat Kante, atau full-back Prancis, tak mampu melakukan tugasnya dengan baik, masih ada Raphael Varane-Samuel Umtiti yang tampil solid di lini belakang. Plus, Hugo Lloris yang tampil gemilang dalam 55 menit kehadiran Kante di atas lapangan. Sehingga, Vatreni cuma bisa mencetak satu gol dari 7 tembakan yang mereka lancarkan dalam dominasi penguasaan bola yang hampir 70%.

Beruntung pula, terus-menerus menyerang membuat anak-anak asuh Zlatko Dalic selalu keteteran ketika diserang. Terutama, karena pemain Kroasia suka tergesa-gesa dalam melancarkan tekel ketika diserang. Dari situlah Prancis bisa memanfaatkan senjata mereka yang lain: skema bola mati.

Di menit ke-18, mereka memberikan tendangan bebas untuk Prancis yang pada akhirnya berujung gol bunuh diri Mario Mandzukic. Di menit 38, Ivan Perisic didakwa wasit melakukan handball sebelum pada akhirnya Antoine Griezmann sukses melesakkan gol dari titik putih.

Stabilitas yang Ditawarkan N'Zonzi

Nzonzi masuk menggantikan Kante. (Foto: REUTERS/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Nzonzi masuk menggantikan Kante. (Foto: REUTERS/Carl Recine)

N'Zonzi hadir di menit 55. Empat menit setelahnya, Prancis bisa mencetak satu gol tambahan melalui Paul Pogba. Kemudian, di menit 62 Prancis jadi unggul 4-1 melalui Kylian Mbappe. Dari situ, terlihat jelas bahwa gelandang Sevilla itu memberikan stabilitas di lini tengah yang gagal disuguhkan dalam 55 menit aksi Kante di atas lapangan.

N'Zonzi menunjukkan kepiawaian dalam membaca kemungkinan serangan Kroasia bermuara dalam berbagai situasi. Sesuatu yang, entah kenapa, hilang dari Kante di laga ini.

Saat Paul Pogba turun ke kotak penalti dalam skema gol ketiga, misalnya, Nzonzi menjaga ketat Mario Mandzukic yang menjadi satu-satunya pemain di luar kotak penalti. Sebab, dia tahu bahwa pemain inilah yang akan mencetak gol apabila serangan berisiko Prancis itu gagal.

Namun, bukan itu saja kelebihannya. N'Zonzi juga memiliki kemampuan operan yang bagus sehingga memudahkan tim dalam menyerang. Inilah yang membuat gol keempat bisa tercipta. Prosesnya bermula dari N'Zonzi yang menahan bola sebentar agar pemain-pemain Kroasia menekannya.

Tak lama, N'Zonzi memberikan umpan terobosan yang sampai tepat waktu ke Lucas Hernandez yang bergerak dengan lincah dari sisi kiri lapangan yang lengang sebelum memberikan operan kepada Kylian Mbappe yang secara mengejutkan bertukar posisi dengan Antoine Griezmann. Dari luar kotak penalti, gol pun bisa tercipta melalui kaki Mbappe.

Memang pada akhirnya Prancis kebobolan satu gol lagi. Namun, itu murni kesalahan Hugo Lloris ketika ditekan Mandzukic, bukan karena N'Zonzi. Nah, sekarang tampak jelas kan, kenapa Deschamps mengganti Kante dengan N'Zonzi di babak kedua? Mengganti Kante dengan N'Zonzi, singkat cerita, berbuah status kampiun Piala Dunia 2018 bagi Prancis.