kumparan
28 Feb 2018 7:51 WIB

Analisis: Miskin Kreativitas, Bali United Gagal Kalahkan Global Cebu

Gol Spaso selamatkan Bali United dari kekalahan. (Foto: Dok. Bali United)
Hantu bagi pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro, di Stadion Rizal Memorial bernama penalti. 27 tahun silam, Widodo gagal menjalankan tugasnya sebagai eksekutor Tim Nasional Indonesia dalam adu penalti melawan Thailand pada partai puncak Sea Games XVI di stadion berkapasitas 12.000 penonton tersebut.
ADVERTISEMENT
Serupa tapi tak sama. Kali ini, di stadion yang sama, giliran anak asuhnya, Ilija Spasojevic, yang gagal memaksimalkan peluang dari titik putih. Akibat kegagalan itu, Bali United harus puas bermain imbang 1-1 menghadapi wakil Filipina, Global Cebu, pada laga kedua Grup G AFC Cup, Selasa (27/2/2018).
Sejatinya, tak ada perubahan yang signifikan dalam daftar susunan pemain. Tak berpaling dari formasi 4-3-3, pelatih kelahiran Cilacap ini langsung menurunkan pilar-pilar andalannya.
Irfan Bachdim yang baru kembali dari cedera pun diturunkan sejak menit awal. Namun, ada sedikit perbedaan di lini tengah. Pemain asal Belanda, Kevin Brands, yang biasa menghangatkan bangku cadangan dipasang bersama Nick van der Velden dan Fadil Sausu dari menit pertama.
ADVERTISEMENT
Meski hanya sedikit mengubah komposisi pemain, dampaknya terlihat begitu besar. Velden yang biasa berperan sebagai pengirim umpan ke lini depan kini ditugaskan bermain lebih ke dalam menggantikan peran M. Taufiq. Alhasil, lini tengah Bali United miskin kreativitas.
Dalam beberapa aspek, tim asuhan Widodo ini lebih unggul atas lawannya. Dalam penguasaan bola, Bali United mencatatkan 61,5% berbanding 38,5% milik lawannya.
Soal tembakan tepat ke arah gawang pun, ‘Serdadu Tridatu’ lebih banyak dengan total 5 kali berbanding 2 tembakan milik 'Yellow Machine'. Akan tetapi, ada beberapa hal yang menyebabkan Bali United gagal meraih poin penuh yang diharapkan.
Agresivitas Bali United Berujung Petaka
Menargetkan poin penuh, tak ada pilihan bagi Bali United selain terus melakukan serangan. Di awal babak pertama, Bali United mencoba memberikan rasa takut dengan bermain agresif. Dua bek sayap mereka diinstruksikan bermain lebih ke depan guna menciptakan ruang di sisi sayap pertahanan lawan.
ADVERTISEMENT
Namun, instruksi malah berujung petaka. Pada menit ke-12, Global Cebu mampu memanfaatkan ruang yang tercipta karena dua bek sayap Bali United bermain lebih ke depan.
Lewat satu serangan balik, pemain sayap Global Cebu menyodorkan umpan silang atas dengan baik. Bola yang sempat membentur mistar langsung disambar oleh Curt Dizon.
Stadion Rizal Memorial (Foto: Wikimedia)
Seusai gol tersebut, Bali United menurunkan agresivitasnya. Ricky Fajrin dan Andhika Wijaya terlihat hati-hati untuk masuk ke daerah pertahanan lawan. Bali United tak mampu menciptakan peluang berbahaya hingga babak pertama usai.
Usai rehat, Bali United kembali meningkatkan agresivitas guna menyamakan kedudukan. Global Cebu lagi-lagi dapat memanfaatkan hal tersebut dengan mengandalkan serangan balik. Beruntung bagi Bali United, peluang-peluang klub asal Filipina itu gagal berbuah gol kedua.
ADVERTISEMENT
Kerapatan Lini Pertahanan Global Cebu
Terlepas dari minimnya kreativitas di lini tengah, barisan penyerang Bali United mendapat kesulitan untuk membuka ruang di area pertahanan. Empat pemain bertahan dan empat pemain tengah yang berdiri di sepertiga pertahanan sendiri menjadi pemicunya. Kecepatan pemain sayap Bali United tak dapat dimaksimalkan dengan baik.
Bahkan untuk mendapatkan bola, baik Stefano Lilipaly ataupun Bachdim, harus bergerak ke lini kedua. Dua bek sayap Bali United, Andhika dan Ricky, juga selalu terlambat membantu serangan. Tak heran bila penguasaan bola Bali United lebih dominan di sepertiga pertahanan sendiri.
Memasuki babak kedua, Widodo mulai mengubah strategi. Bermula dengan menarik keluar Kevin Brands dan memasukkan Yabes Roni, skema serangan Bali United ikut berubah pula menjadi 4-4-2.
ADVERTISEMENT
Fano –sapaan akrab Stefano- bermain lebih dekat dengan Spasojevic. Perubahan ini berjalan efektif. Buktinya, tendangan penalti yang didapat berasal dari pergerakan Fano.
Untuk mengatasi perubahan tersebut, Global Cebu menarik garis pertahanan lebih ke dalam. Tak heran, jika melihat barisan bertahan Global Cebu mencatatkan 19 intersep, 15 tekel, dan 32 halauan.
Tak Berkutiknya Spasojevic
Terlepas dari torehan satu golnya di menit 74 dan kegagalannya dalam mengeksekusi tendangan penalti, peran Spaso –demikian Spasojevic disapa- sebagai pemantul bola ke sisi sayap dalam laga ini tak terlihat.
Selain suplai bola yang kurang, keputusan pelatih Global Cebu menumpuk pemain di dalam kotak penalti berhasil membuat pergerakan Spaso terbatas. Sepanjang 45 menit pertama, Spaso gagal mencatatkan tembakan ke arah gawang. Perpaduan penjagaan zona dan penjagaan orang per orang sukses meredam Spaso.
ADVERTISEMENT
Selain nihil tembakan, pemain berusia 30 tahun ini hanya berhasil memegang bola sebanyak 7 kali. Ketika bermain dengan dua penyerang, Spaso mendapat sedikit ruang untuk melancarkan serangan. 1 gol dan 5 upaya menjadi bukti sahih.
Akan tetapi, pergerakan Spaso terlanjur terbaca dan serangan Bali United pun tak tajam-tajam amat sepanjang babak kedua. Untuk itu, Bali United harus puas dengan satu angka yang memperkecil kans mereka melaju ke babak selanjutnya. Tapi, tenang saja, selagi masih ada kesempatan, apa pun bisa terjadi, bukan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan