kumparan
Bola & Sports28 November 2019 13:07

Astana vs Man United: Karpet Merah untuk Pemain Muda 'Iblis Merah'

Konten Redaksi kumparan
[PORTRAIT] Man United
Marcus Rashford merayakan golnya untuk Manchester United. Foto: Action Images via Reuters/John Sibley
Bagi beberapa pemain muda Manchester United, menarik betul pertandingan tandang Liga Europa melawan FC Astana, Kamis (28/11/2019) malam WIB. Sebab, inilah saat ketika The Red Devils membentangkan karpet merah untuk para youngster.
ADVERTISEMENT
Rata-rata usia skuat United untuk laga ini hanyalah 20,3 tahun. Angka yang jelas sangat muda, dan langkah ini sungguh beralasan. Sebab, United sudah pasti lolos ke babak 32 besar Liga Europa.
Saat ini, pasukan Ole Gunnar Solskjaer berada di posisi pertama Grup L dengan 10 poin. Unggul 2 poin atas AZ Alkmaar yang berada di posisi kedua. Sementara, Partizan FK berada di peringkat ketiga karena hanya mengoleksi 4 poin dari 4 laga.
Saat melawan Astana, tentu aksi pemain-pemain muda populer seperti Mason Greenwood, Tahith Chong, Angel Gomes, hingga Axel Tuanzebe layak diperhatikan. Bagi pemain-pemain itu, inilah waktunya mematangkan kemampuan dan mencuri hati Solskjaer.
Mason Greenwood
Striker muda Manchester United, Mason Greenwood. Foto: Reuters/Jason Cairnduff
Greenwood merupakan seorang penyerang, dan dia sudah mencetak 2 gol di Liga Europa dan 1 di Premier League. Ini impresif, karena rata-rata sosok berusia 18 tahun ini hanya tampil selama 30 menit per laga dalam dua ajang tersebut.
ADVERTISEMENT
Sementara, Chong biasa beroperasi sebagai winger. Karena terus tampil mengecewakan bersama tim senior, Chong diturunkan ke tim U-23 pada musim ini. Beruntung untuknya, di tim muda United, Chong kembali menemukan sentuhan ajaibnya.
Chong telah menciptakan 4 gol dan 2 assist di ajang Premier League 2 musim ini. Kecepatan, dribel, kapabilitas umpan dan tembakan menjadi alasan di balik catatan itu. Selain itu, Chong secara perlahan menjelma menjadi sosok pemimpin di tim junior.
Angel Gomes
Angel Gomes, pemain termuda United. Foto: Reuters/Jason Cairnduff
Di sisi lain, Gomes tak kalah menjanjikannya dengan Chong. Baru berusia 19 tahun, Gomes telah menunjukkan bersama tim muda United atau pun Timnas Inggris bahwa dia mampu tetap tenang dalam tekanan. Bahkan, dia bisa menipu lawan via aksi dribel.
ADVERTISEMENT
Terakhir, Axel Tuanzebe dan reputasinya mungkin well-known jika dibandingkan nama-nama yang disebutkan tadi. Tuanzebe sendiri merupakan sebab mengapa Chris Smalling dipinjamkan ke AS Roma pada bursa transfer musim panas ini.
Sebagai seorang bek tengah, Tuanzebe memiliki modal penting. Dia cakap dalam mengantisipasi serangan dan juga andal dalam melancarkan umpan. Dalam urusan terakhir, tercatat Tuanzebe memiliki akurasi operan di atas 88% musim ini.
Namun, laga lawan Astana bukan hanya untuk para pemain muda United yang sudah populer. Dalam wawancara prapertandingan, Solskjaer telah menjanjikan tiga nama ini bakal menjalani debut seniornya di United: Ethan Laird, Di’Shon Bernard, Dylan Levitt.
Pertanyaannya, siapa mereka?
Mari kenalan dengan Laird terlebih dahulu. Sosok berusia 18 tahun ini sering mendapatkan pujian dari pelatih tim muda United dan Timnas Inggris. Sebagai full-back kanan, Laird memiliki segalanya.
ADVERTISEMENT
Pertama, Laird jago dalam membaca alur pertandingan dan artinya dia tahu kapan harus menyerang dan bertahan. Kedua, dia memiliki fisik dan stamina yang sama kuatnya. Ketiga, tentu saja, Laird juga diberkahi dengan kemampuan olah bola yang mumpuni.
Sekarang, mari bahas Bernard. Posisinya ialah bek tengah, dan dia datang dari Chelsea pada 2017. Sejak saat itu, dia menjadi pilihan reguler di jantung pertahanan tim U-23 United. Pada akhirnya, Bernard pun mendapatkan kontrak profesional pada April.
Video
Yang mengesankan dari Bernard adalah tubuhnya yang tinggi. Dengan postur setinggi 193 sentimeter, jangan kaget kalau sosok asal London ini terlihat begitu dominan dalam duel udara. Gaya bermain Bernard mirip Smalling, hanya lebih tenang.
ADVERTISEMENT
Sementara, Levitt merupakan gelandang yang sudah mendapatkan kepercayaan dari Ryan Giggs untuk ikut serta dalam kegiatan Timnas Wales. Ini mengesankan, karena usianya baru 19 tahun dan dia sudah terlibat di tim senior negaranya.
Sebagai seorang gelandang pengatur serangan, Levitt begitu dinamis, kreatif, dan secara mental juga stabil. Kombinasi ketiga ini membikin dia cukup oke dalam memutus alur serangan lawan dan membantu timnya sendiri mencetak gol.
Dylan Levitt
Dylan Levitt dalam sesi latihan Manchester United. Foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko
Sebenarnya, youngsters United yang layak diperhatikan tak hanya itu. James Garner, kawan Levitt sejak berusia 7 tahun, juga tak kalah jagonya sebagai seorang gelandang. Keduanya pun sering dijadikan tandem di tengah dalam laga-laga U-23 United.
Juga ada D'Mani Mellor, striker sudah bikin 3 gol dan 4 assist di ajang Premier League 2 dan terus berusaha keluar dari bayangan Greenwood. Hingga Max Taylor yang tak lama ini cerita comeback-nya kalahkan kanker terdengar hingga ke pelosok dunia.
ADVERTISEMENT
Ya... ada banyak betul. In fact, ada 16 pemain akademi dalam skuat United untuk duel lawan Astana. Mungkin, saat menyaksikan laga ini, sebaiknya Anda tak fokus dengan skor. Biarkan saja para pemain muda membikin Anda terkagum-kagum dengan aksinya.
Karena itulah esensi sebenarnya pertandingan ini.
----
*Pertandingan Astana vs Man United akan berlangsung di Stadion Astana Arena, Kamis (28/11/2019) malam WIB. Sepak mula akan berlangsung pukul 22:50 WIB.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan