Atribut Komplet, Resep Ketajaman Marko Simic

Jika setiap perjalanan adalah cuplikan-cuplikan yang akan dikenang pada masa depan, maka saat ini Marko Simic sedang menyusun cuplikan indah sebagai pesepak bola untuk dikenang di kemudian hari.
Ya, sejak memperkuat Persija Jakarta, penyerang asal Kroasia ini terus membelalakkan mata pencinta sepak bola Indonesia. Derasnya kucuran gol dari kerannya dan lesakan-lesakan indah yang (hampir) selalu diperagakan di setiap laga menjadi pemicunya. Berkat dua hal itu, Simic sudah semestinya mendapat sanjungan dan patut diwaspadai oleh lawan-lawannya kelak.
Selama menjejakkan kaki di Indonesia bersama ‘Macan Kemayoran’, Simic telah mengarungi tiga turnamen pramusim: Suramadu Super Cup 2018, Super Boost Sportsfix Cup di Malaysia, dan Piala Presiden 2018. Dalam tiga turnamen pramusim itu, Simic mengantongi 14 gol.
Sukses di turnamen pramusim, ketajaman Simic terus berlanjut di AFC Cup. Terbaru, pemain berusia 30 tahun ini mengemas dua gol saat melawan wakil Singapura, Tampines Rovers, Rabu (28/2/2018), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dalam laga kedua Grup H. Dua gol itu semakin memantapkan predikat 'Super' yang melekat di depan namanya.
Sebagai seorang penyerang, Simic memiliki atribut-atribut yang membantunya untuk mencetak gol, seperti postur yang ideal. Dengan tubuhnya yang tinggi dan kekar, Simic punya keunggulan dalam duel-duel udara.
Tapi, tak sampai situ saja atribut yang dimilikinya. Kendati berpostur besar, Simic mempunyai kecepatan dan olah bola yang baik. Satu kemampuan yang jarang dimiliki penyerang sentral pada umumnya. Namun, kehebatan yang paling mencolok dan harus diakui oleh semua pihak adalah sepakan keras nan akurat baik dari open play maupun skema bola mati.
Tak cuma itu, menilik statistik pertandingan menghadapi Tampines Rovers, Simic terlihat memiliki daya jelajah yang tinggi. Pada babak pertama, Simic mencatatkan 13 sentuhan dengan hanya 3 sentuhan dia buat di kotak penalti. Usai rehat, 20 sentuhan dicatatkan Simic dengan 14 di antaranya berada di lini kedua. Meski hanya 9 kali menyentuh bola di kotak penalti, Simic mencatatkan 5 tembakan ke arah gawang, dan 3 di antaranya menjadi gol.
Catatan tersebut membuktikan bahwa Simic merupakan penyerang modern. Dengan daya jelajah yang tinggi, Simic bukan tipikal penyerang yang hanya menunggu suplai bola saja. Pergerakan Simic ke lini kedua mampu menarik garis pertahanan lawan menjadi tinggi. Oleh karenanya, pemain sayap dapat merangsek masuk ke kotak penalti dengan memanfaatkan ruang-ruang kecil yang tercipta berkat pergerakan Simic.
Selain menarik garis pertahanan lawan, Simic ikut andil membangun serangan dari lini kedua. Tercatat 9 umpan sukses ditorehkan pemain kelahiran Rijeka ini di garis tengah lapangan.

Pergerakan Simic ke lini kedua tak hanya diakhiri oleh sodoran umpan atau sepakan. Tak jarang, Simic menggiring bola untuk melewati lawan. 2 dribel sukses pun dicatatkannya ketika berhadapan dengan Tampines. Catatan-catatan itu menunjukkan betapa kompletnya eks pemain Melaka United ini.
Kompletnya atribut yang dimiliki Simic kemudian dimaksimalkan oleh pelatih Stefano 'Teco' Cugurra lewat skema ‘hafalan’, skema serangan yang membuat Persija sukses menyabet trofi Piala Presiden dan menyalakan pendar Simic. Berkat skema serangan yang bermula dari sisi sayap ini koleksi gol Simic terus bertambah, baik lewat sepakan ataupun tandukan.
Dengan skema ini, raihan gol Simic tentu akan lebih baik ketimbang di Melaka United, klub terakhir yang dibelanya. Meski di Melaka dia mampu mencatatkan 9 gol dari 9 laga, bukan tak mungkin capaian itu bakal dilewati ketika berlaga di Liga 1 2018. Sebabnya, di Persija Simic tak bekerja sendiri.
Sekarang, muncul pertanyaan: Apakah ketajaman Simic terasah karena skema ‘hafalan’ Teco atau skema ‘hafalan’ hanya bisa berjalan karena atribut yang dimiliki Simic? Entahlah. Yang jelas, saat ini semua itu bisa bekerja dengan baik dan tak ada yang bisa kita lakukan selain memberi apresiasi setinggi-tingginya.
