Barcelona Batal Uji Tanding Lawan Klub Israel karena Ogah Main di Yerusalem
·waktu baca 2 menit

Barcelona batal melakoni uji tanding melawan Beitar Jerusalem, klub Israel yang punya suporter anti-Arab dan Muslim. Alasannya, Blaugrana ogah untuk tampil di Yerusalem yang menjadi salah satu tempat konflik paling panas di Timur Tengah.
Pembatalan ini diungkap oleh pemilik Beitar, Moshe Hogeg. Ia mengaku terpaksa membatalkan pertandingan uji coba karena tak ingin mengikuti permintaan Barcelona untuk memilih lokasi lain.
"Saya menerima kontrak untuk ditandatangani dan menemukan adanya tuntutan agar pertandingan tidak digelar di ibukota, Yerusalem, dan sejumlah tuntutan lain yang tidak saya suka," tulis Hogeg, dikutip dari Associated Press.
"Saya jadi susah tidur dan banyak berpikir. Setelahnya saya memutuskan bahwa di luar semua hal saya adalah seorang Yahudi dan Israel. Saya tidak bisa mengkhianati Yerusalem," tambahnya.
Moshe Lion, wali kota Yerusalem, juga mendukung keputusan Hogeg untuk membatalkan uji tanding. Lion mengatakan bahwa Barcelona ingin memboikot Yerusalem dan harusnya dilarang masuk ke Israel.
"Yerusalem adalah ibukota dari Israel. Keputusan untuk memboikot sangat tidak profesional, sportif, dan mengedukasi," ucap Lion dalam pernyataan.
Sejauh ini, Barcelona belum memberi pernyataan tentang pembatalan ini. Los Cules sendiri baru saja merilis jersi tandang baru.
Beitar adalah salah satu klub paling rasialis di dunia. Bahkan, fans Beitar memiliki chant rasialis ke orang Arab.
Ada ultras garis keras yang bernama La Familia dengan chant rasialis yang berbunyi 'Matilah Orang Arab' dan 'Forever pure' (berisi kebanggaan terhadap ras Yahudi).
Beitar Jerusalem pernah menghadirkan pemain muslim. Para suporter menentang keras, bahkan ada dua orang yang sampai membakar kantor administrasi klub pada 2013 sebagai bentuk protes akan hal itu.
Sami Abu Shehadeh, politikus partai Balad yang duduk di parlemen Israel, telah mengirim petisi agar Barcelona membatalkan uji tanding melawan Beitar.
"Beitar adalah wajah paling ekstrem, rasialis, dan fasis dari masyarakat Israel," sebut Sami Abu Shehadeh, dikutip dari AP News.
