Bernostalgia dengan Laga Persib vs PSMS pada Final Perserikatan 1985

Laga klasik Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (21/1/2018), menghadirkan fragmen kecil akan satu peristiwa besar yang pernah terjadi di kancah sepak bola Indonesia. Fragmen itu memaksa memori untuk membangkitkan kenangan-kenangan yang sempat pupus karena banyaknya peristiwa terjadi setelahnya.
Salah satu momen yang patut dikenang lagi yakni laga final Divisi Utama Perserikatan 1985 di Stadion Utama Senayan atau sekarang bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno. Laga final yang berlangsung pada Sabtu 23 Februari 1985 itu menjadi ulangan pertemuan dua tahun sebelumnya. Pada final edisi 1983, PSMS keluar sebagai juara setelah menang adu penalti dengan skor 3-2.
Maka dari itu, menjelang laga final 1985 dimulai, Persib datang dengan keinginan besar untuk menjungkalkan PSMS dan membalas kekalahan sebelumnya. Dengan ambisi meletup-letup itu, Persib yang hadir didampingi oleh puluhan ribu Bobotoh, seakan menjadi tim yang paling siap menatap laga.
Sebelum sepak mula, menurut laporan Harian Waspada edisi 24 Februari 1985, jumlah penonton mencapai 150.000 orang, melampaui kuota Stadion GBK yang cuma 100.000. Oleh karenanya, banyak kericuhan terjadi, seperti pintu bagian barat didobrak oleh ribuan penonton yang tak sabar untuk masuk ke dalam stadion.
Karena tribune tak sanggup lagi menampung, banyak penonton melompati pagar dan masuk lapangan untuk menyelamatkan diri. Alhasil, sekitar 2.500 pihak keamanan kewalahan menertibkan penonton. Untuk menyiasatinya, penonton diizinkan untuk menyaksikan pertandingan di pinggir lapangan. Akibat dari itu semua, sepak mula pertandingan yang direncanakan pada pukul 19:00 WIB harus diundur beberapa menit.
Saat peluit dibunyikan, tribune Stadion GBK mulai bergemuruh. Dengan ambisi yang meletup-letup, Persib langsung menguasai pertandingan dan melancarkan serangan. Pejaga gawang PSMS, Ponirin Meka, dipaksa bekerja keras oleh tiga penyerang 'Maung Bandung', yakni Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan, dan Iwan Sunarya yang kerap melakukan sepakan keras dari luar kotak penalti.
Melihat tim kesayangannya digempur, pendukung PSMS beberapa kali harus menahan napas. Akan tetapi, gol pembuka pada laga tersebut dicetak oleh pemain PSMS, M.Sidik, setelah memanfaatkan umpan ciamik dari kapten tim, Sunardi B.
Memasuki menit ke-34, kiper Persib, Sobur, kembali harus memungut bola dari gawangnya karena gagal menahan sepakan M.Sidik. Skor 2-0 untuk keunggulan PSMS bertahan hingga babak pertama rampung.
Tertinggal dua gol tentu membuat Bobotoh yang hadir waswas. Kembali dari ruang ganti, Persib mulai bermain dengan keras. Hal ini sukses memancing emosi pemain PSMS yang membuat barisan pertahanan goyah.
Gol pertama Persib pun akhirnya tercipta pada menit ke-65, setelah pemain belakang PSMS, Sunardi A, menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak 16. Iwan Sunarya yang menjadi algojo, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut sehingga kedudukan berubah menjadi 1-2.
Gol penyama kedudukan bermula dari sepak pojok yang terjadi di menit ke-74. Iwan Sunarya dengan tenang mampu mengirimkan bola dengan baik ke depan gawang, kemudian Ajat Sudrajat menyundul bola dan menggetarkan jala gawang PSMS.
Sampai wasit Jafar Umar meniupkan peluit tanda waktu normal berakhir, kedudukan tetap 2-2. Oleh karena itu, pemenang harus dilanjutkan melalui perpanjangan waktu. Persib kembali memulai laga dengan permainan ngotot. Tekel keras mewarnai babak tambahan ini. Alhasil, keributan di dalam lapangan tak terhindarkan.
Namun, 2X15 menit berakhir tanpa gol tambahan. Pemenang harus ditentukan lewat adu tendangan penalti.
Di sinilah petaka bagi 'Maung Bandung' bermuara. Empat eksekutor penalti Persib gagal menjalankan tugasnya. Mereka adalah Iwan Sunarya, Adeng Hudaya, Dede Iskandar, dan Roby Darwis. Hanya Ajat Sudrajat yang dapat menaklukkan Ponirin Meka di bawah mistar.
Satu gol Persib dalam adu tendangan penalti dibalas dua gol oleh PSMS yang dicetak oleh Musimin dan Mamek Sudiono. PSMS pun berhak atas gelar juara Perserikatan pada musim 1985. Perayaan dilangsungkan di seluruh penjuru Sumatera Utara. Gelar tersebut menjadi gelar keenam PSMS di kompetisi amatir sepak bola Indonesia.
Ambisi Persib yang meletup-letup pun harus berakhir dengan kekecewaan. Dua kekalahan di babak final oleh tim yang sama tentu akan membuat luka dalam yang amat sakit. Karena itu, rivalitas kedua tim tak pernah padam meski waktu terus berjalan.
