Kumparan Logo

Brigata Curva Sud: Cinta Mendalam Berbalut Kreativitas dan Loyalitas

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PSS Sleman (Foto:  Instagram/@bcsxpss.1976)
zoom-in-whitePerbesar
PSS Sleman (Foto: Instagram/@bcsxpss.1976)

Pada musim 2008/2009, tribune selatan Stadion Maguwoharjo Sleman tiba-tiba diisi suporter dengan pakaian serba hitam. Kendati jumlahnya tak sebanyak di tribune lain, ini merupakan hal yang tak biasa. Itu sontak menyedot perhatian penonton lain yang hadir langsung ke stadion.

Berawal dari individu-individu yang tak menginginkan keberadaan pemimpin saat mendukung PSS Sleman, meraka mencoba untuk memisahkan diri dan menghadirkan sesuatu yang baru.

Dengan mengusung konsep Ultras--istilah untuk menyebut suporter fanatik di sepak bola Italia--perbedaan tak hanya terletak dari apa yang dikenakan saja, melainkan apa yang dilakukan saat mendukung PSS.

Dengan mengedepankan kreativitas, suporter yang dikenal dengan nama Ultras PSS itu memilih berdiri dan terus meneriakan dukungan selama pertandingan berlangsung. Dua hal itulah yang kemudian membedakan Ultras PSS dengan Slemania--kelompok suporter PSS yang lebih dulu berdiri dan memiliki anggota lebih banyak.

Hadir dengan berbeda, Ultras PSS tak lantas diterima dengan baik. Dalam beberapa pertandingan, Ultras PSS dilarang masuk ke tribune selatan, yang sejatinya merupakan tempat bagi suporter tamu.

Lalu, apa yang dilakukan Ultras PSS saat mendapat larang tersebut? Mereka memilih untuk keluar stadion, dan menyanyikan dukungan di luar halaman Stadion. Satu hal yang patut ditiru, karena mereka tak memilih jalan kekerasaan saat larangan tersebut didentumkan.

Larangan itu akhirnya lenyap setelah salah satu tokoh Slemania, Trimurti Wahyu Wibowo atau yang lebih dikenal dengan nama Babeh WY, melobi panitia pelaksana untuk membiarkan Ultras PSS menempati tribune selatan ketika PSS bertanding.

Kendati mengusung konsep yang identik dengan kekerasan, Ultras PSS memilih untuk meniadakannya dan hanya menelan hal-hal positif dari Ultras, seperti kreativitas dan loyalitas. Maka dari itu, ketika PSS dihadapkan pada masalah finansial, di saat banyak suporter yang memilih untuk tak hadir ke stadion, Ultras PSS dengan kreativitasnya terus memberi dukungan di dalam stadion.

instagram embed

Hal itu rupanya memantik beberapa komunitas untuk bergabung mendukung PSS di tribune selatan. Bermula dari lima komunitas, Ultras PSS menjadikan laga PSS melawan Persebaya Surabaya pada 5 Februari 2011 sebagai momentum untuk mendirikan Brigata Curva Sud (BCS) dan menebarkan benih-benih kreativitas dan loyalitas di tribune selatan.

Seiring berjalannya waktu, benih tersebut mulai tumbuh yang terejawantahkan dalam koreografi dan chant yang dibuat seapik mungkin. Hal itu pula yang menjadi daya tarik bagi siapa saja yang melihat dan mendengar untuk bergabung dengan BCS. Dengan kreativitas dan loyalitas itu, nama BCS perlahan mulai terdengar di Sleman.

BCS sendiri tidak memiliki ketua, dengan mengusung 'No Leader Just Together', semua anggota memiliki hak dan kewajiban yang sama ketika pengambilan keputusan dan melaksanakan kebijakan yang telah disepakati. Selain itu, ada aturan-ataruan yang tercantum dalam manifesto BCS, seperti gerakan positif untuk membeli tiket sebagai bentuk penghargaan untuk klub kebanggaan dan mengapresiasi pemain sekaligus membantu keuangan klub.

Namun, ada sebuah manifesto yang membuat dukungan BCS tak hanya terjadi di dalam stadion saja. Manifesto tersebut diberi nama 'Mandiri Menghidupi'. Yang berarti, BCS yang bergerak secara mandiri, harus dapat menghidupi PSS dari segi finansial.

Suporter PSS Sleman (Foto: Instagram @pssleman)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter PSS Sleman (Foto: Instagram @pssleman)

Hal tersebut kemudian memicu BCS untuk mengedepankan ekonomi kreatif dan mulai menjalankan bisnis merchandise yang diberi nama Curva Sud Shop (CSS). Dengan modal seadanya, CSS dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang mesti dilalui. Mulai dari tempat, hingga pekerja yang rela dibayar rendah.

Namun, dengan perjuangan yang gigih, CSS akhirnya dapat memberikan pemasukan untuk PSS dari royalti yang diperoleh. Sebuah hal yang jarang dilakukan kelompok suporter di Indonesia. Selain CSS, untuk menambah pemasukan bagi tim, BCS mendirikan Curva Sud Mart (CSM) yang menjual barang kebutuhan sehari-hari.

Sayang, segala macam hal positif yang coba dibangun BCS harus menghadapi badai besar. Tepatnya pada 2014, BCS harus terluka oleh insiden sepak bola gajah yang terjadi pada laga PSS melawan PSIS Semarang di babak delapan besar Divisi Utama Grup N.

instagram embed

Lima gol yang tercipta pada laga yang berakhir untuk kemenangan PSS dengan skor 3-2, berasal dari gol bunuh diri. Banyak pemain yang dihukum oleh federasi sepak bola Indonesia. Sepak bola Sleman pun perlahan padam dan menghilang.

Untuk membalikkan keadaan, selang satu tahun, BCS membuat laga uji tanding yang bertajuk 'Cinta dan Dedikasi'. Uji tanding yang mempertemukan PSS dan Bali United ini menjadi persembahan dari BCS untuk pemain yang menjadi korban dari sepak bola gajah tersebut. Uji tanding ini kemudian dirayakan sebagai 'Hari Kebangkitan Brigata Curva Sud' dan mematik manajemen untuk segera berbenah diri.

Sejak itu, BCS dan PSS terus berkembang dengan caranya masing-masing. Dan, puncak perjalanan BCS terjadi pada 2017. Saat itu, salah satu situs yang fokus terhadap perkembangan suporter sepak bola dunia, Copa90, menasbihkan BCS sebagai suporter terbaik Asia.

instagram embed

Dalam video yang berdurasi 5 menit 29 detik itu, BCS mampu mengalahkan suporter macam Bangal Brigade (East Bengal FC, India), Boys of Straits (Johor Darul Takzim, Malaysia), Frente Tricolor (Suwon Samsung Bleuwings, Korea Selatan), dan Urawa Boys (Urawa Red Diamonds, Jepang). Keberhasilan ini tak lepas dari kreativitas berupa koreografi yang ciamik dan loyalitas yang ditunjukkan BCS setiap mendukung 'Elang Jawa'.

Dan, kemarin, Senin (5/2/2018), perjalanan dan perjuang BCS untuk terus mendukung klub kesayangannya telah menginjak tahun ketujuh. Untuk itu, ucapan 'Selamat Ulang Tahun' dan 'Teruslah Berjuang' layak dilontarkan untuk salah satu suporter terbaik di Asia dan Indonesia ini.