Kumparan Logo

Cercaan Bobotoh sebagai Bentuk Rasa Cinta pada Persib

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Viking Persib begitu ramai. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Viking Persib begitu ramai. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Takeshi Tatsumi, karakter utama dalam manga Giant Killing, pernah berujar seperti ini.

"Suporter itu boleh mengatakan apa pun yang mereka inginkan dan pikirkan. Itu adalah hak istimewa yang mereka miliki. Toh, itu adalah bukti cinta dari mereka."

Tatsumi--meski ia hanya sebatas karakter fiksi dalam sebuah manga--tidak salah. Jika menilik apa yang kerap suporter lakukan dalam mendukung tim kesayangannya, mereka adalah kelompok yang bebas dalam mengeluarkan ekspresi dukungan.

Hanya suporter-lah yang rela membuat koreografi demi mendukung tim kesayangannya saat bertanding. Suporter juga yang rela mengeluarkan ongkos agar bisa menonton tim kesayangannya bermain di manapun, baik itu ketika kandang maupun tandang.

Maka, dengan segala pengorbanan yang sudah mereka lakukan, jangan heran pula jika pada suatu momen, suporter akan mengeluarkan kritik tajam maupun ejekan secara langsung saat tim kesayangannya tidak tampil sebagaimana mestinya. Hal itulah yang dialami Persib Bandung ketika bermain di Martapura.

kumparan post embed

***

Tidak akan ada yang menyangsikan betapa besarnya kecintaan bobotoh (sebutan untuk pendukung Persib) kepada Persib Bandung. Jumlah mereka yang tersebar di seantero Jawa Barat, baik yang menjadi anggota firma macam Viking, Bomber, ataupun yang tidak, menunjukkan besarnya basis suporter Persib.

Ketika Persib berlaga di manapun--pengecualian ketika mereka main di Wamena serta Serui--, bobotoh kemungkinan besar akan hadir mendukung. Tak peduli berapa ongkos yang dihabiskan, ataupun lamanya waktu yang harus ditempuh, mereka pasti akan siap mengisi tribune untuk mendukung Persib.

Itu ketika Persib main tandang. Saat Persib berlaga di kandang, baik itu Siliwangi, Jalak Harupat, maupun Gelora Bandung Lautan Api, (GBLA) jangan tanya berapa jumlah mereka yang hadir. Pemandangan penuhnya tribune Siliwangi, Jalak Harupat, maupun GBLA adalah hal yang jamak terlihat.

Namun, seperti yang diucapkan oleh Ben Parker--paman Peter Parker, tokoh Spider-Man--, bahwa seiring kekuatan yang besar hadirlah tanggung jawab yang besar, para pemain dan ofisial tim Persib pun dihantui tekanan yang besar seiring besarnya dukungan yang diberikan.

Teriakan berisi hinaan adalah sesuatu yang akan lazim didengar saat tim Persib bermain buruk. Cercaan yang keluar dalam bahasa Sunda, mungkin akan jadi santapan bagi telinga Anda saat bobotoh merasa kecewa akan permainan Persib.

Nah, hal inilah yang muncul ketika Persib berlaga menghadapi Barito Putera dalam laga pekan 12 Liga 1 2019 di Stadion Demang Lehman, Martapura. Pada pertandingan tersebut, Persib kalah dengan skor 0-1 dari Barito selaku tuan rumah. Gol tunggal dari Ady Setiawan jelang akhir laga jadi gol penentu kemenangan Barito.

instagram embed

Kekalahan ini melengkapi catatan nirmenang Persib dalam tiga laga terakhir. Sebelum takluk dari Barito, 'Maung Bandung' kalah dari Bali United (0-2) di Jalak Harupat serta dihantam 1-5 oleh Arema FC di Kanjuruhan.

Menilik catatan di atas, sontak jika kekecewaan meliputi para bobotoh. Mereka yang hadir langsung di Demang Lehman tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan rasa kecewanya tersebut.

Dalam sebuah video yang tersebar di media sosial, terutama Instagram, ada sebuah kejadian ketika para pemain dan ofisial tim Persib mendatangi bobotoh yang hadir di Demang Lehman selepas laga lawan Barito Putera. Tujuan mereka sebenarnya mulia. Mereka ingin meminta maaf atas performa buruk yang mereka perlihatkan dalam tiga laga terakhir.

Namun, alih-alih tepuk tangan, justru cercaan dan hujatan yang mereka dapat. Beberapa teriakan bahkan terdengar jelas. Berikut beberapa di antaranya (maaf jika bahasanya sedikit kasar).

"Eze (Ezechiel) stupid (bodoh) a**ing. Sok a**ng lah. Eze stupid a**ing teu niat maen goblog mentang-mentang rek dipiceun (Eze enggak niat main kamu mentang-mentang mau dibuang)," teriak salah seorang bobotoh.

"Eleh wae lah a**ing (Kalah terus lah a**ing)," teriak bobotoh yang lain.

"Butut lah a**ing. Butut eleh wae lah (Jelek lah a**ing. Jelek kalah terus nih)," timpal bobotoh yang lain.

instagram embed

Menilik teriakan bernada kecewa tersebut, kumparanBOLA bertanya kepada Ketua Viking Frontline, Tobias Ginanjar. Sebagai salah satu orang yang sudah lama mendukung Persib, ia mewajarkan ketika bobotoh, yang sudah kesal dengan akumulasi hasil buruk Persib, menelurkan kekecewaan mereka.

"Kejadian itu (cercaan terhadap pemain dan ofisial tim) merupakan hal yang wajar, sebagai bentuk akumulasi kekecewaan bobotoh terhadap performa tim yang tengah jeblok," ujarnya ketika dihubungi pada Selasa (6/8/2019).

"Persib merupakan tim besar dengan sejarah prestasi yang luar biasa. Oleh karena itu pemain-pemain yang bermain untuk Persib harus mempunyai mental baja yang siap untuk dikritik. Jadikan kritikan dan cacian tersebut sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik lagi ke depan," lanjutnya.

Masalah kritik suporter terhadap pemain dan ofisial tim Persib ini tentu bukan barang baru. Pada 2016 silam, Kim Kurniawan dan Dejan Antonic pernah mendapatkan kritikan serupa. Bahkan, sempat keluar sebuah istilah bahwa Kim adalah anak emas yang selalu dibela meski penampilannya jeblok.

Antonic pada akhirnya memang memilih pergi. Tapi, lain dengan Kim. Ia menjawab kritik itu dengan penampilan gemilang di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 serta Liga 1 2017. Pemain berdarah Jerman itu akhirnya mendapatkan respek dari bobotoh atas keberaniannya menjawab kritik dengan bukti.

Lalu, jika menilik lebih luas, kritik terang-terangan suporter terhadap tim juga adalah hal biasa. Teraktual, di awal musim 2019, Bonek--pendukung Persebaya--pernah mengeluarkan kritik pedas terhadap Persebaya. Ketika itu, Persebaya main di leg pertama perempat final Piala Indonesia lawan Madura United.

instagram embed

Alih-alih menang, Persebaya hanya mampu main imbang 1-1. Hasil minor ini merupakan akumulasi hasil minor lain yang diterima Persebaya selama awal musim 2019. Bonek yang kecewa langsung turun ke lapangan, sembari membentangkan spanduk bertuliskan 'Jangan Bikin Malu Surabaya'.

Kritik itu menjadi pelecut yang membuat permainan Persebaya meningkat. Meski mereka akhirnya tidak lolos ke semifinal Piala Indonesia, di ajang Liga 1 2019, Persebaya mampu naik hingga sekarang, per pekan 13 Liga 1 2019, duduk di peringkat lima klasemen sementara dengan raihan 17 poin.

Pemain dan ofisial tim Persebaya mampu menjawab kritik dengan hasil nyata. Lalu, apa yang akan dilakukan Persib?

***

Liga 1 2019 sudah memasuki pekan ke-13. Masih banyak pekan yang bakal dilalui oleh Persib. Untuk putaran pertama saja, masih tersisa lima laga lagi yang akan dijalani Persib. Terdekat, mereka akan bertandang ke Surajaya untuk menghadapi Persela Lamongan, Kamis (8/8).

Tobias pun memberikan sarannya untuk para pemain dan ofisial tim. Menurutnya, untuk menjawab kritik serta cercaan yang dialamatkan kepada mereka, Persib harus menunjukkan hasil nyata. Sisa lima laga yang ada adalah kunci Persib dalam mengembalikan muruah mereka sebagai tim besar Indonesia.

"Putaran pertama masih sisa beberapa pertandingan lagi. Coba jadikan beberapa pertandingan sisa tersebut sebagai sarana pembuktian para pemain dan pelatih bahwa mereka layak berada di Persib," ujar Tobias.

Pemain Persib Bandung pada laga pertandingan Liga 1 2019, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Ya, Tobias, maupun para pendukung Persib yang lain, mungkin hanya bisa meminta agar para pemain dan ofisial tim berbuat sesuatu untuk meningkatkan penampilan tim. Seperti kata Tatsumi, hal itu merupakan hak istimewa suporter. Mereka boleh meminta dan mengatakan apapun sesuka hati, tanpa ada larangan apa pun.

Karena, pada akhirnya, semua cercaan itu adalah bentuk cinta dari suporter pada timnya, namun dalam bentuk yang lebih ekstrem.