Kumparan Logo

Danone Nations Cup: Beda Cerita Dua Tim Indonesia

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemain Indonesia untuk turnamen 2019 berdoa sebelum bertanding. Foto: Kamil Zihnioglu/SIPA/DNC
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Indonesia untuk turnamen 2019 berdoa sebelum bertanding. Foto: Kamil Zihnioglu/SIPA/DNC

Jumat (11/10/2019), Danone Nations Cup (DNC) akan melangsungkan fase gugur dan pertandingan penentuan peringkat. Kabar baiknya buat Indonesia, dari dua tim yang dikirimkan, satu di antaranya lolos ke perempat final.

Danone Nations Cup tahun ini menggelar dua turnamen sekaligus: Turnamen 2018 dan turnamen 2019. Alasannya, setelah menggelar edisi 2017 di New York, Amerika Serikat, Danone absen menghelat turnamen pada 2018. Oleh karena itu, edisi 2018 pun ikut digelar pada tahun ini.

Indonesia mengirimkan dua wakil, yakni ASIOP Apacinti, selaku juara AQUADNC nasional 2018, untuk bermain di turnamen 2018 dan Fossbi Rajawali Muda, juara AQUADNC nasional 2019, untuk berlaga di turnamen 2019.

Tim Indonesia untuk turnamen 2018 akhirnya terhenti di babak grup, sementara tim Indonesia untuk turnamen 2019 lolos ke perempat final. Beda nasib, beda cerita.

****

Kamis (10/10) itu, kota Salou mendung meski tidak kunjung hujan. Suhu yang sebelumnya agak hangat, tiba-tiba turun ke 17 derajat celsius —cukup dingin untuk ukuran orang-orang Asia Tenggara, sehingga beberapa anak di tim Indonesia turun bertanding dengan mengenakan sarung tangan.

Di Complex Esportiu Futbol Salou, tempat fase grup Danone Nations Cup berlangsung, kumparanBOLA menyaksikan bagaimana tim Indonesia yang diwakili ASIOP tampil dominan pada pertandingan pertama mereka. Bulgaria, yang menjadi lawan, mereka kurung habis. Namun, satu serangan balik cepat dari Bulgaria membuyarkan segalanya. Indonesia kalah 0-1 pada pertandingan tersebut.

Pada turnamen 2018 tersebut, Indonesia boleh dibilang berada di grup yang cukup tricky. Berada di Grup C, Indonesia harus bersaing dengan Bulgaria, Portugal, Afrika Selatan, dan Brasil. Kelima tim bergelut memperebutkan dua tiket untuk bermain di babak perempat final.

kumparan post embed

Indonesia kemudian bermain imbang 1-1 dengan Portugal dan menang 2-0 atas Afrika Selatan, tetapi pada pertandingan penentuan kalah telak 0-5 dari Brasil. Dengan torehan 4 poin, peluang mereka pun habis. Indonesia mengakhiri fase grup di posisi ketiga, di bawah Brasil (12 poin) dan Bulgaria (7 poin).

Tidak jelek-jelek amat, memang. Setidaknya tidak menjadi penghuni posisi buncit. Lagipula, Indonesia masih bisa bertanding lagi untuk menentukan posisi akhir pada turnamen untuk anak-anak 12 tahun ini.

****

Indonesia mendapatkan hasil yang lebih baik pada turnamen 2019. Berada di Grup D bersama Tunisia, Jerman, Portugal, dan Hongaria, Indonesia berhasil menjadi juara grup setelah mengumpulkan 9 poin —hasil dari tiga kemenangan dan satu kekalahan.

Yang menarik, Indonesia berhasil menorehkan clean sheet pada tiga pertandingan. Tiap kali mereka meraih kemenangan, gawang mereka selalu nirbobol. Kokohnya pertahanan jugalah yang membuat mereka meraih tiket ke perempat final pada pertandingan penentuan melawan Tunisia.

Para pemain Indonesia untuk turnamen 2019 merayakan kemenangan atas Tunisia. Foto: Rossi Finza Noor/kumparan

Indonesia memulai fase grup dengan gagah; mereka sukses menundukkan Portugal 2-0. Berikutnya, gantian Hongaria yang mereka bekuk dengan skor 3-0. Namun, kemenangan atas Hongaria tersebut ada harganya: Dua pemain tumbang karena cedera.

Alhasil, dengan kekuatan tim yang relatif tidak merata, Indonesia takluk 0-2 di tangan Jerman pada pertandingan ketiga. “Ya, kelemahannya memang kekuatan antara pemain inti dan pelapis belum merata, tapi di luar itu, kami selalu tampil bagus,” ujar Alfredo Vera, pelatih yang menjadi supervisor untuk kedua tim Indonesia.

Pada pertandingan terakhir fase grup, Indonesia sukses menekuk Tunisia 1-0. Menurut Vera sendiri, penampilan Indonesia pada laga pemungkas itu tidak sebagus sebelumnya. Maklum, katanya, lawan juga sama ngototnya karena mereka juga butuh tiket untuk lolos.

Para pemain Indonesia untuk turnamen 2019 merayakan kemenangan atas Tunisia. Foto: Rossi Finza Noor/kumparan

kumparanBOLA mencatat, kesigapan para pemain belakang menjadi kunci pada laga melawan Tunisia tersebut. Berulang kali umpan silang ataupun umpan panjang langsung ke kotak penalti dihalau dengan sempurna oleh para bek dan kiper.

Catatan tiga clean sheet selama fase grup pun menjadi bukti bahwa Indonesia punya pertahanan yang tidak bisa dianggap remeh. “Ya, pertahanan kami memang tampil bagus, tapi ingat bahwa kami bukan tim defensif. Kami tetap mengutamakan serangan. Setelah ini, kami akan istirahat dan melakukan evaluasi sebelum bertanding lagi besok,” kata Vera.