Danone Nations Cup: Habis Tekel Lawan, Jangan Lupa Minta Maaf

Apa yang Anda ingat ketika bermain bola waktu kecil dulu? Menyepak bola plastik sampai penyok? Memecahkan jendela tetangga, lalu kabur begitu saja? Atau barangkali dipanggil pulang karena hari sudah sore? Ah, those are good times…
Tentu saja rentetan ceritanya masih banyak lagi; mulai dari anak yang punya bola otomatis main sampai harus repot-repot merogoh kolong mobil kalau bola plastiknya nyangkut di dalam. Pokoknya, tempat main tidak jadi soal. Di tengah jalan pun jadi. Lalu, kalau ada mobil atau motor lewat bagaimana? Ya, terpaksa minggir dulu.
Sepak bola dalam napas “yang penting hepi” ini jauh dari sepak bola profesional yang ingar-bingar dan penuh dengan tuntutan. Selayaknya menjadi dewasa, tanggung jawab dan tuntutan itu pada akhirnya cuma bikin capek saja. Menjadi bocah tanpa ada beban ini-itu adalah kemewahan yang datang satu kali dan tidak bisa diulang lagi.
Saya pun menyaksikan sendiri betapa menyenangkannya menjadi bocah dan bermain bola hanya untuk senang-senang saja. Sejak Selasa (8/10/2019), saya mengikuti tim Indonesia yang bermain di Danone Nations Cup, sebuah turnamen yang dikhususkan untuk anak-anak 10-12 tahun. Di sini, tiap-tiap anak bertanding dengan membawa nama negara masing-masing untuk memperebutkan trofi juara.
Indonesia mengirimkan dua wakil, yakni SSB ASIOP Apacinti dan SSB Fossbi Rajawali Indonesia. Keduanya merupakan pemenangan turnamen nasional pada tahun 2018 dan 2019. Semestinya, ASIOP mewakili Indonesia pada turnamen tahun lalu. Namun, karena Danone Nations Cup absen menggelar turnamen pada 2018, mereka lantas menggabungkannya dengan turnamen tahun 2019. Jadilah ada dua tim yang dikirimkan sekaligus.
Kamis (10/10), kedua tim Indonesia itu menjalani cerita dan nasib yang berbeda. Sementara ASIOP gagal menembus fase grup pada turnamen 2018, Fossbi Rajawali justru berhasil melangkah ke perempat final turnamen 2019 dengan menjadi juara grup. Tim yang mereka langkahi pun tidak main-main: Dari mulai Portugal, Jerman, Tunisia, hingga Hongaria.
Lantas, apakah ASIOP berkecil hati? Tidak, tuh. Well, rasa kecewa memang pasti ada, tapi saya tidak melihat kekecewaan itu menjadi berlarut-larut. Begitu kelar bertanding melawan Brasil —di mana mereka kalah 0-5— anak-anak itu dengan santainya duduk sembari menyaksikan pertandingan-pertandingan lain.
Tak jarang mereka bersorak mendukung tim negara lain atau merasa gemas ketika ada sebuah peluang bagus tidak berbuah gol. Sisanya, mereka ngobrol ngalor ngidul dan melempar celetukan saja.
“Habis ini kita ngapain, ya?”
“‘Kan masih ada pertandingan perebutan peringkat.”
“Oh, iya…”
“Kalau trofi, masih bisa dapat apa, ya?”
“Bisa jadi tim fair play, kayaknya…”
“Kalau gitu, kita sapa baik-baik aja yang lain. ‘Good morning… Good morning’ gitu…”
“Hahahahahaha!”
Begitulah. Mereka tidak terlihat seperti tim yang baru saja dibabat habis lima gol tanpa balas. Padahal, kalau sedang bermain, tim ini seriusnya minta ampun. Main boleh sembari senang-senang, tetapi disiplin dan rasa kompetitif itu tetap ada.
Tiga hari mengikuti turnamen ini, saya mendapatkan kesan bahwa kemenangan bukanlah satu-satunya hal yang penting di sini. Kekalahan memang bisa bikin siapa pun nangis sesenggukan —seperti yang saya lihat dari tim Mesir setelah kalah dari Aljazair—, tetapi toh jalan mereka menjadi masih panjang. Masih ada kesempatan untuk membalas rasa kesal akibat kekalahan itu di lain hari.
Yang tidak kalah penting, kedisiplinan dan rasa respek terhadap lawan serta ofisial pertandingan tetap dijaga. Contoh kecil saja, saya sering melihat tiap ada pemain yang terjatuh karena dilanggar, lawannya akan langsung menghampiri dan membantunya bangkit lagi.
Pada kesempatan lain, saya juga menyaksikan sendiri bagaimana seorang pemain dari tim Indonesia yang bertanding di turnamen 2019 meminta maaf karena menekel lawan. Awalnya, sih, ketika wasit meniup peluit tanda pelanggaran, dia kecewa. Namun, rekannya buru-buru mengingatkannya untuk meminta maaf karena sudah menekel lawan sampai terjadi pelanggaran.
“Eh, eh, ayo… Minta maaf dulu, minta maaf dulu.”
Seperti tersadar dari rasa kesalnya, si pemain itu buru-buru menghampiri lawan yang baru ia tekel dan membangkitkannya seraya meminta maaf. Sudah. Selesai. Ia pun langsung mencari posisi untuk menjaga pemain lain karena tendangan bebas akan segera dieksekusi.
Nah, sekarang, kebayang enggak Anda melihat Sergio Ramos meminta maaf setelah menjegal Lionel Messi?
