De Ligt Bikin Gol Bunuh Diri, tapi Juventus Taklukkan Inter

Juventus menundukkan Inter pada pertantingan International Champions Cup 2019 yang berlangsung di Stadion Nanjing Olympic Sports Center, Nanjing, China. Pada laga yang berlangsung Rabu (24/7/2019) malam WIB ini, Bianconeri menang lewat adu penalti.
Inter unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri bek anyar Juventus, Matthijs de Ligt, pada menit ke-10. Sementara, Juventus menyamakan kedudukan lewat gol Cristiano Ronaldo pada menit ke-68.
Setelah bermain imbang selama 90 menit, kedua kesebelasan melanjutkan duel ke babak adu penalti. Dalam babak tos-tosan ini, Juventus menang dengan skor 4-3. Kiper mereka, Gianluigi Buffon, sukses menepis tiga tendangan pemain Inter.
****
Kota Nanjing sudah diselimuti malam ketika pertandingan digelar. Namun, dari layar televisi sekali pun, Anda bisa melihat bahwa itu adalah malam yang gerah. Peluh yang mengucur dari tubuh pemain bukan sekadar buah dari pergerakan mereka saja.
Suhu di Nanjing mencapai 31 derajat celsius dengan kelembapan mencapai 76% (kelembapan normal biasanya berada di sekitar angka 40-50%). So, wajar jika water break diberlakukan pada laga ini.
Menjelang babak pertama berakhir, wasit memberikan water break selama tiga menit. Jeda singkat ini digunakan oleh Pelatih Inter, Antonio Conte, untuk memberikan instruksi kepada para pemainnya.
Sementara buat Juventus, water break ini lebih dari sekadar istirahat untuk minum. Ini adalah berkah. Mereka bisa sedikit bernapas dan mengatur lagi strategi mereka.
Bukan apa-apa, semenjak babak pertama dimulai, Juventus kesulitan untuk mengembangkan permainan. Inter-lah yang lebih dominan. La Beneamata tampak lebih nyetel dan lebih nyaman mengaplikasikan gaya permainan pelatih anyar mereka.
Conte menerapkan formasi 3-5-2. Kendati begitu, formasi tersebut berubah menjadi 5-3-2 ketika timnya bertahan. Ketika menyerang, dua orang bek tengah Inter naik sampai ke tengah lapangan, sementara kedua wingback begerak melebar untuk membantu serangan.
Taktik itu menciptakan dua kondisi. Pertama, jarak antarpemain Inter menjadi lebih rapat dan memudahkan mereka untuk melakukan pressing terhadap pemain Juventus. Kedua, lini pertahanan Inter menjadi lebih "penuh" ketika bertahan, membuat Juventus kesulitan untuk menembusnya.
Pada berbagai kesempatan, Inter dengan mudah melepaskan umpan-umpan direct ke lini depan atau melepaskan umpan panjang ke sisi sayap. Sebaliknya, para pemain Juventus --yang acap terlihat gugup ketika ditekan-- sering membuang bola ke sayap, yang ujung-ujungnya dihalau juga oleh pemain Inter.
Manakala momen itu terjadi, Anda bisa melihat Conte bertepuk tangan di pinggir lapangan. Taktiknya berhasil.
Hanya saja, meskipun dominan dari segi penguasaan bola dan jumlah peluang (Inter melepaskan 16 tembakan dengan 3 tepat sasaran, sementara Juventus 12 dengan 5 tepat sasaran), Nerazzurri buruk dalam hal penyelesaian peluang.
***
Ketika laga berjalan sepuluh menit, Inter mendapatkan sepak pojok di sisi kanan pertahanan Juventus. Dari eksekusi tendangan sudut itu, bola diarahkan langsung ke kotak penalti The Old Lady.
Matthijs de Ligt, yang sedang berdiri di tiang jauh, berniat menghalau bola itu dengan kaki kanannya. Namun, bukannya menciptakan halauan, ia malah membelokkan bola masuk ke dalam gawang timnya sendiri.
Apes. Ini adalah pertama kalinya De Ligt menjadi starter di laga pramusim. Sial, ia justru hadir ketika timnya kebobolan tiga gol --dengan salah satunya ia "ciptakan" sendiri.
Juventus mencoba bangkit. Namun, solidnya pertahanan Inter membuat mereka kesulitan. Cristiano Ronaldo sempat mencoba mencari ruang tembak dengan bergerak dari sayap kiri untuk melepaskan sepakan kaki kanan. Namun, ruang itu tidak ada. Alhasil, bukannya menembak, ia hanya bisa memberikan operan ke tengah.
Pada kesempatan lain, Adrien Rabiot mencoba peruntungan dengan melakukan serbuan dari tengah. Setelah menerima bola, ia langsung berlari ke depan kotak penalti Inter. Eks pemain Paris Saint-Germain itu lantas melepaskan sepakan dari luar kotak penalti, tetapi Samir Handanovic masih bisa menepisnya.
Di pinggir lapangan, Conte tidak berhenti meneriakkan instruksi. Manakala pemain-pemain depan Inter kehilangan bola di area pertahanan Juventus, eks pelatih Chelsea itu lantas meminta para pemain belakang timnya untuk bertahan di posisi masing-masing. Ini membuat Juventus jadi tidak leluasa untuk melakukan transisi secara cepat dari bertahan ke menyerang.
Pada akhirnya, gol penyama kedudukan Juventus pun lahir bukan dari open play. Pada menit ke-68, mereka mendapatkan tendangan bebas tak jauh dari kotak penalti Inter. Cristiano Ronaldo, yang menjadi algojonya, melepaskan sepakan kaki kanan ke arah tiang jauh dan membobol gawang Inter.
Skor 1-1 itu bertahan sampai waktu normal habis. Laga pun berlanjut ke adu penalti.
****
Gianluigi Buffon menunjukkan bahwa sekalipun ia sudah tidak muda lagi, bukan berarti kemampuannya luntur sama sekali. Pada babak tos-tosan, ia sukses menepis tiga tendangan pemain Inter, yakni Andrea Ranocchia, Samuele Longo, dan Borja Valero.
Ia juga sempat memblok tendangan penalti Nicolo Barella, tetapi bola kemudian lolos via sela-sela tubuhnya dan masuk ke dalam gawang. Namun, selain itu, Buffon tampil impresif. Ia berhasil menebak arah seluruh tendangan pemain Juventus.
Eksekusi penalti bek Juventus, Merih Demiral, akhirnya menutup pertandingan ini dengan kemenangan untuk sang juara Serie A musim kemarin. Demiral membayar lunas utang dua rekannya, Rabiot dan Federico Bernardeschi, yang eksekusi penaltinya gagal --satu melambung, sementara yang lainnya membentur mistar.
