Kumparan Logo

Dekadensi Barcelona Salah Siapa?

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ekspresi kekecewaan Lionel Messi, Luis Suarez, dan Gerard Pique saat Barcelona dikalahkan Granada. Foto: Reuters/Marcelo Del Pozo
zoom-in-whitePerbesar
Ekspresi kekecewaan Lionel Messi, Luis Suarez, dan Gerard Pique saat Barcelona dikalahkan Granada. Foto: Reuters/Marcelo Del Pozo

Seperempat abad sudah berlalu sejak Barcelona mengawali musim La Liga seburuk ini. Hanya tujuh poin yang bisa mereka rengkuh dari lima pertandingan. Bahkan, sudah dua kekalahan mereka terima. Bagi klub macam Barcelona, hal seperti ini jelas tidak bisa diterima.

Ketika Barcelona terakhir kali mengalami awal buruk seperti ini mereka masih diasuh oleh Johan Cruijff. Tim itu sebenarnya sempat dijuluki Tim Impian karena memiliki pemain-pemain hebat dan sanggup menorehkan prestasi cemerlang pula. Namun, ketika mencatatkan rekor buruk tadi, Tim Impian Cruijff memang sudah hampir habis.

Kini, sejarah berulang. Di bawah besutan Ernesto Valverde Tejedor—yang pernah jadi bagian dari Tim Impian Cruijff selama dua musim—Barcelona meraih dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan di awal musim 2019/20. Lantas, apakah Barcelona generasi ini juga bisa dibilang sudah hampir habis?

Dalam skuat Barcelona saat ini ada nama Lionel Messi, Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Luis Suarez. Keempat pemain itu sudah beredar di sepak bola dalam waktu lama dan usia mereka sudah di atas kepala tiga. Satu nama lain yang masuk kategori ini adalah Ivan Rakitic.

Di antara lima nama tersebut, ada tiga yang sudah memperkuat Barcelona sejak pertama kali merajai Eropa bersama Josep Guardiola. Mereka adalah Pique, Busquets, dan Messi. Sampai sekarang pun mereka praktis belum tergantikan.

Barcelona bukannya tidak berusaha melakukan regenerasi. Mereka sudah membeli pemain-pemain seperti Samuel Umtiti, Clement Lenglet, Frenkie de Jong, Arthur Melo, sampai Ousmane Dembele dan Antoine Griezmann. Namun, hasilnya tetap masih belum memuaskan.

Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Lionel Messi, tiga alumni La Masia yang masih bertahan jadi tulang punggung Barcelona. Foto: AFP/Dani Pozo

Sebagian menuduh Valverde sebagai biang keladinya. Pelatih satu ini dianggap tidak pas untuk mengusung gaya bermain khas Barcelona yang sudah membawa mereka ke berbagai trofi bergengsi itu. Taktik Valverde dinilai terlalu pragmatis dan minim variasi.

Itu memang benar, tetapi menuding Valverde seorang sebagai biang keladi itu terlalu mudah. Bagaimana dengan orang yang bertanggung jawab atas penunjukan Valverde? Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa menyediakan pemain sesuai dengan kebutuhan klub?

Pada dasarnya, permasalahan Barcelona ada pada bagaimana mereka memperlakukan akademinya sendiri, La Masia. Barcelona hanya bisa benar-benar dominan ketika mereka memiliki alumni akademi sebagai tulang punggung tim. Tim Impian Cruijff dan tim asuhan Guardiola jadi buktinya.

Memang benar bahwa Barcelona pun tetap bisa berprestasi tanpa dominasi para alumni di tim inti. Keberhasilan menjuarai Liga Champions 2006 adalah contohnya. Namun, gelar itu bisa dibilang sebagai buah dari keberuntungan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Frank Rijkaard dan tim asuhannya yang diperkuat Ronaldinho, lawan Barcelona di final 2006 itu bermain dengan sepuluh orang. Kiper Arsenal, Jens Lehmann, diusir wasit di menit-menit awal laga dan itu mengubah peruntungan Barcelona.

Kemudian, saat Barcelona menjadi juara Liga Champions 2015 di bawah besutan Luis Enrique, keberadaan alumni La Masia masih amat terasa. Messi, Pique, dan Busquets belum berusia 30 tahun. Mereka juga masih punya Andres Iniesta dan Xavi Hernandez.

Tampak luar bangunan anyar La Masia yang diresmikan pada 2011. Foto: AFP/Josep Lago

Artinya, keberadaan alumni La Masia begitu krusial bagi Barcelona. Dengan minimnya pasokan dari akademi seperti sekarang ini, bukan hal mengherankan jika Barcelona akhirnya kesulitan sendiri. Klub ini tidak memiliki identitas. Padahal, identitas adalah kekuatan terbesar mereka.

Persoalan La Masia ini pelik. Semua berawal ketika Sandro Rosell menjadi presiden pada 2010. Tujuh tahun sebelumnya Rosell sudah menjabat sebagai wakil presiden klub di bawah Joan Laporta. Akan tetapi, pria kelahiran 1964 itu kemudian mundur karena tidak setuju dengan ide Laporta yang memprioritaskan pengembangan pemain muda.

Perlu dicatat bahwa pemain-pemain macam Messi, Busquets, dan Iniesta berkembang di bawah era kepemimpinan Laporta. Sosok ini pulalah yang memulangkan Gerard Pique setelah sempat menjualnya ke Manchester United. Dengan kata lain, Laporta adalah bapak pembangunan era kejayaan Barcelona.

Sayangnya, setelah dua periode memimpin, Laporta harus lengser. Dia pun kemudian digantikan oleh Rosell pada 2010. Di bawah komando Rosell, segalanya berubah. Pada era inilah salah urus La Masia dimulai. Tak cuma itu, Rosell juga mengamankan kepentingannya dengan merombak jajaran manajemen, termasuk dengan menunjuk Josep Maria Bartomeu sebagai wakil.

Pada 2003 Rosell sebenarnya sempat mencalonkan diri sebagai presiden klub. Janjinya ketika itu adalah mendatangkan megabintang bernama David Beckham. Sedari awal Rosell memang ingin agar Barcelona memiliki proyek Galacticos seperti Real Madrid.

Ketika akhirnya dia menjadi presiden, Rosell pun mewujudkan ini. Pembelian Neymar Junior adalah bukti yang paling nyata. Transfer itu adalah sebuah pernyataan dari Rosell bahwa Barcelona sudah tidak lagi seperti dulu. Barcelona sudah menjadi salah satu klub paling elite di dunia dan harus bersikap selayaknya.

Sandro Rosell, Presiden Barcelona yang merusak La Masia. Foto: AFP/Pierre-Philippe Marcou

Di sisi lain, pada era Rosell ini Barcelona akhirnya merasakan kesuksesan yang mereka pupuk sejak era Laporta. Kesuksesan inilah yang, ironisnya, membuat kesempatan para alumni La Masia menjadi kian tertutup. Sebagai klub elite, Barcelona dinilai sudah tak bisa lagi mencoba-coba pemain seperti sebelumnya. Alih-alih begitu, mereka pun memilih membeli pemain jadi seperti Neymar.

Visi Barcelona inilah yang bertahan sampai sekarang. Rosell memang kemudian mundur karena skandal aliran dana transfer Neymar tetapi itu semua dilanjutkan oleh Bartomeu yang jadi suksesor. La Masia tetap dianaktirikan, Barcelona terus memilih membeli pemain dari luar, dan akhirnya ini berujung pada kebijakan penunjukan pelatih.

Dengan minimnya input dari La Masia, Barcelona kehilangan pemain-pemain yang dididik dengan filosofi mereka sendiri. Untuk merangkai para pemain non-akademi di tim utama, pelatih seperti Valverde yang akhirnya ditunjuk. Memang benar bahwa Valverde sebenarnya adalah 'orang dalam' Barcelona sendiri tetapi dia tak pernah dididik di sistem ini.

Hasilnya, ya, seperti sekarang ini. Barcelona punya pemain bagus tetapi tidak memiliki tim yang solid. Sebagai contoh, saat ini Valverde terpaksa memainkan De Jong di tempat yang tidak seharusnya. Di Ajax, De Jong bermain di tempat Busquets beroperasi tetapi saat ini dia bermain di sisi kanan lini tengah.

Fenomena De Jong ini adalah bukti bahwa pemain-pemain yang ada di skuat Barcelona saat ini tidak melulu bisa disusun secara sempurna. Kita tidak bicara soal kualitas individual si pemain karena, hell, siapa pula yang lancang meragukan De Jong? Ini adalah soal kecocokan dan Barcelona tidak punya itu.

Apa yang dialami Barcelona sekarang adalah hasil dari salah urus selama hampir satu dasawarsa. Tentu saja mereka masih punya kans untuk bangkit musim ini karena mereka punya nama-nama yang bisa menjadi pembeda. Namun, sampai kapan Barcelona bakal terus mengandalkan figur? Kapan Barcelona akan sadar bahwa sistem adalah sahabat terbaik mereka?

Frenkie de Jong belum digunakan dengan optimal di Barcelona. Foto: AFP/Josep Lago

Ini sebelumnya juga sudah pernah terjadi. Setelah era Tim Impian Cruijff habis, Barcelona menunjuk Louis van Gaal sebagai pengganti. Van Gaal kemudian menghancurkan fondasi tim dengan melakukan 'Belandaisasi' dan hasilnya tidak keruan. Barcelona baru bisa bangkit setelah Laporta naik dan restorasi identitas dilakukan secara sistematis dan terstruktur.

Saat ini Barcelona ada di urutan delapan klasemen dengan koleksi tujuh poin. Ini memang terlihat buruk tetapi sesungguhnya kiamat belum dekat bagi mereka. Masih ada banyak sekali kesempatan yang mereka miliki untuk mendulang poin demi gelar juara. Penebusan itu akan mereka mulai saat melawan Villarreal, Rabu (25/9/2019) dini hari WIB.

Villarreal kini berada persis di atas Barcelona. Dengan koleksi delapan angka mereka nangkring di urutan ketujuh. Jika dilihat dari tren yang ada, kans kedua tim bisa dibilang sama. Namun, Barcelona nanti akan bermain di Camp Nou. Dari dua laga kandang yang sudah dijalani, mereka selalu memetik kemenangan.

Faktor Camp Nou inilah yang, setidaknya untuk saat ini, harus betul-betul dioptimalkan Barcelona. Mereka butuh momentum untuk bangkit dan bisa mendapatkannya di pertandingan nanti. Terlebih, di sana Messi kemungkinan sudah bisa bermain dari awal. Usai dianugerahi penghargaan Pemain Terbaik FIFA, bisa diperkirakan motivasi La Pulga bakal berlipat ganda.

Jadi, demikianlah situasi Barcelona saat ini. Jalan mereka masih sangat panjang untuk bisa benar-benar berjaya kembali karena solusi yang dibutuhkan pun merupakan solusi jangka panjang. Sembari menanti perubahan dilakukan, satu-satunya harapan adalah dengan memanfaatkan segala keuntungan yang ada entah itu faktor stadion maupun Messi.

=====

Barcelona akan menjamu Villarreal dalam pertandingan La Liga 2019/20 pekan keenam, Rabu (25/9/2019) dini hari pukul 02:00 WIB, di Camp Nou.