Kumparan Logo

Dewa United Tersingkir, Pelatih Singgung Manila Digger Banyak Pemain Gambia

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesepak bola Dewa United Banten Moh Edo Febriansah (kanan) berebut bola dengan pemain Manila Digger FC Baboucarr Touray pada perempat final leg kedua AFC Challenge League di Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (12/3/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pesepak bola Dewa United Banten Moh Edo Febriansah (kanan) berebut bola dengan pemain Manila Digger FC Baboucarr Touray pada perempat final leg kedua AFC Challenge League di Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (12/3/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Dewa United resmi tersingkir dari AFC Challenge League (ACGL) 2025/26. Pelatih Banten Warriors, Jan Olde Riekerink, menyinggung soal banyaknya pemain Gambia di skuad tim Filipina, Manila Digger FC.

Dewa United ditahan Manila Digger FC 2-2 dalam laga leg kedua perempat final AFC Challenge League (ACGL) 2025/26 di Indomilk Arena, Kamis (12/3). Dengan begini, agregat akhir 2-3, Dewa United harus tersingkir. Usai laga, Riekerink mengungkapkan rasa kecewanya.

"Tentu saja, kami sangat kecewa. Kami bermain enam pertandingan lalu, pertandingan di Manila [leg pertama], dan kami bisa menganalisis pertandingan dengan baik. Mereka bermain dengan 9 pemain dari Gambia," ungkap pelatih asal Belanda itu.

"Saya bekerja dua tahun di Afrika, banyak kekuatan dan permainan yang tepat sasaran dari ciri khas mereka [pemain Gambia]. Itu juga yang Anda lihat di babak pertama, agak kurang beruntung karena striker kami, Alex [Martins], cedera," tambahnya.

Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, di AFC Challenge League 2025/26. Foto: AFC

Jadi, Riekerink merasa Dewa United kalah secara fisik dari pemain-pemain Manila Digger FC. Itu merupakan salah satu faktor yang membuat mereka tersingkir dari ACGL.

"Menurut saya ini lebih seperti pertandingan melawan tim dengan identitas yang sama sekali berbeda, bukan dengan identitas Filipina atau Asia," jelas Riekerink.

"Mereka punya kekuatan, mereka punya pelari, dan jika Anda ingin belajar sesuatu, maka menurut saya terkadang kami secara fisik dalam duel harus lebih tangguh. Hanya itu saja," tandasnya.