Di Liga Champions, Ronaldo Selalu Berhasil Jadi yang Terhebat

“Cristiano mencetak gol,” kalimat itulah yang berulang kali diucapkan oleh ayah Cristiano Ronaldo di jam makan malam keluarga mereka. Bukan makan malam mewah di restoran bintang lima, tapi makan malam sederhana di rumah.
Waktu itu Ronaldo masih bocah, ia masih belum menjalani pendidikan sepak bolanya di Sporting CP. Ucapan ayahnya itu sebenarnya untuk merayu ibu dan kakaknya yang tidak pernah datang menyaksikan Ronaldo bermain bola bersama tim masa kecilnya. Bukannya tak mendukung Ronaldo, mereka berdua memang tidak menyukai sepak bola.
Ucapan yang sama pulalah yang entah berapa ratus kali diperdengarkan dari pengeras suara di stadion, tulisan para jurnalis, dan obrolan-obrolan sepak bola pagi yang entah dilakukan oleh berapa ribu orang di dunia ini. Termasuk pagi ini.
Real Madrid sukses menyegel kemenangan 3-1 atas Paris Saint-Germain di leg 1 babak 16 besar Liga Champions, Kamis (15/2/2018). Satu gol dikemas oleh Marcelo, dan dua gol pertama menjadi torehan Ronaldo.
Tidak mengherankan bila Cristiano Ronaldo mencetak gol. Bukan cerita baru jika ia punya torehan luar biasa bersama Real Madrid di kompetisi sepenting Liga Champions. Karena memang seperti itulah Ronaldo.
Musim demi musim berkarier bersama Madrid, Ronaldo memang ditunjuk sebagai mesin gol. Orang-orang menyebutnya "maquina", karena ia serupa mesin yang tak pernah berhenti mencetak gol. Sebagian lagi menyebutnya “the rocket”, karena ia memang serupa roket yang terbang untuk membawa Madrid mencapai tempat-tempat tinggi yang sebelumnya tak tercapai.
Cristiano Ronaldo adalah pengecualian. Bila banyak pesepak bola menilai Liga Champions sebagai kompetisi yang menakutkan, pemain asal Portugal ini begitu akrab dengan keangkerannya.
Liga Champions selalu menjadi kompetisi tempat pelatih-pelatih rela menukar nyawa demi memenanginya. Hampir di semua akhir pertandingan final, sejumlah pesepak bola yang tadinya begitu perkasa menangis ibarat anak kecil karena mereka (sekali lagi) gagal merengkuh gelar juara.
Ronaldo bukannya tak pernah gagal di Liga Champions. Namun, segagal-gagalnya Ronaldo, ia kerap mencatatkan raihan mengesankan di kompetisi antara klub-klub papan atas Eropa ini.
Terhitung sejak musim 2011/2012 sampai musim 2017/2018, Ronaldo menjadi pemain yang begitu konsisten mencetak gol di ajang Liga Champions. Jumlah gol yang ia sarangkan ke gawang lawan tidak main-main. Selama kurang lebih delapan tahun ini, ia selalu mencetak, paling sedikit, 10 gol di kompetisi Liga Champions.
Terlalu banyak perayaan Ronaldo di Liga Champions. Namun, bukan berarti tak ada yang paling mengesankan. Bersama Manchester United-lah (musim 2007/2008), Ronaldo pertama kali mengecap rasanya bertanding di final Liga Champions.
Dalam laga dramatis yang digelar di Moskow tahun 2008, Ronaldo bahkan mencetak gol pembuka lewat sundulannya. Sayangnya, performa Ronaldo menurun setelahnya, terlebih setelah Frank Lampard mencetak gol bagi Chelsea.
Tak cuma penurunan performa, Ronaldo bahkan gagal mencetak gol dari titik penalti di babak perpanjangan waktu. Beruntung, Edwin van der Sar yang waktu itu menjadi kiper United berhasil mematahkan tembakan penalti dua pemain Chelsea.
Lantas, yang terdengar setelahnya, Ronaldo mengangkat trofi Liga Champions pertamanya.

Ronaldo boleh disebut sebagai pemain bintang, tapi bukan berarti ia selalu bermain baik. Final kedua Liga Champions yang dilakoninya, United berhadapan dengan Barcelona. Berbeda dengan final pertamanya, di partai pamungkas ini Ronaldo tampil buruk.
Agaknya, sebagai penyerang yang tengah disorot, Ronaldo masih belum matang perkara mengalahkan ego. Di laga ini ia tampil individualis. Kecenderungannya, tiap kali mendapat bola, ia langsung melakukan aksi individual melewati lawan dan langsung melepaskan tembakan.
Buruknya permainan Ronaldo diperparah dengan kegagalan Manchester United menjuarai Liga Champions. Pertandingan ditutup dengan kemenangan 3-1 Barcelona.
Setelahnya, Ronaldo hengkang ke Madrid. Di musim 2013-2014, Real Madrid berhadapan dengan Atletico Madrid di partai pamungkas Liga Champions.
Entah apa yang memenuhi isi kepala Ronaldo waktu itu. Yang jelas, ia kembali melakoni laga dengan aksi-aksi individu. Sebagai penyerang, ia cenderung pelit mengumpan, padahal rekan setimnya ada di posisi yang jauh lebih baik darinya.
Tak satu gol pun tercipta di waktu normal. Keempat gol yang dikemas Real Madrid tercipta di babak perpanjangan waktu. Dan yang luar biasa, Ronaldo tak mencetak gol di laga ini.
Atas kemenangan ini, Real Madrid berutang pada gol Sergio Ramos yang menyamakan kedudukan (mereka tertinggal di menit ke-36 akibat gol Diego Godin) dan gol pembalik keadaan yang dicetak oleh Gareth Bale. Setelahnya, keran gol yang tersumbat itu kembali lancar. Real Madrid menambah dua gol dan menutup pertandingan dengan kemenangan 4-1.
Jika Ronaldo adalah antidot di Liga Champions, maka ia adalah dua antidot untuk dua hal. Yang pertama, keangkeran Liga Champions justru meningkatkan daya ledaknya sebagai mesin gol.
Yang kedua, bila di pertandingan-pertandingan sebelum final ia tampil sebagai andalan klub, di laga final, ia kerap tampil sebagai pemain yang mengutamakan diri sendiri. Mengejar aksi-aksi individu, yang sayangnya, mengganggu permainan tim.
‘Keegoisan’ Ronaldo kembali muncul di final Liga Champions musim 2015/2016. Bertanding di San Siro Milan, Madrid kembali berhadapan dengan Atletico Madrid. Pertandingan berlangsung sampai babak adu penalti.
Di pertandingan ini, Ronaldo sibuk beradu argumen dengan wasit. Namun, beruntung, ia berhasil melaksanakan tugasnya sebagai salah satu algojo penalti di babak tambahan.
Yang mengesalkan, penampilan buruknya di laga final itu justru ditutup dengan raihannya sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Champions 2015/2016 dengan torehan 17 gol.
Musim 2016/2017, bukan musim yang mudah untuk Ronaldo. Musim ini diawalinya dengan mematahkan anggapan miring publik yang menilai Portugal tidak sanggup memenangi Piala Eropa.
Namun, kita tahu cerita setelahnya. Portugal berhasil menjadi juara. Ronaldo ditarik keluar di babak pertama karena cedera. Ronaldo yang sama pula yang mengangkat trofi juara. Apa boleh buat, ia menjadi kapten bagi Timnas Portugal.
Namun, Liga Champions musim ini menjadi kompetisi yang mendewasakan Ronaldo.
Dalam suratnya untuk diri sendiri di portal The Players' Tribune, beberapa tahun berkarier bersama Madrid membuat gelar juara bukan persoalan emosi, tapi kewajiban. Kemenangan tidak dirasa lagi sebagai upaya untuk memuaskan hasratnya sebagai pesepak bola, tapi menunaikan kewajibannya untuk membalas jasa klub yang sudah menghidupinya.

Yang berusaha dikalahkan Madrid di pertandingan final itu bukan hanya Juventus, tapi 'kutukan' gelar Liga Champions yang sudah bertahan 10 tahun lebih. Katanya, tidak akan ada klub yang bisa memenanginya dalam dua musim berturut-turut.
Namun, di kaki Ronaldo, kutukan tinggal cerita. Ia berhasil mencetak dua gol di partai puncak. Gol pertamanya bahkan menjadi gol pembuka bagi Real Madrid. Tak cuma mencetak gol pembuka di partai final, Ronaldo membuktikan dominasinya di keseluruhan kompetisi. Namanya, lagi-lagi tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di musim ini, 12 gol. Waktu bermainnya yang mencapai 1.200 menit juga menjadi catatan yang tertinggi.
Ronaldo boleh mengalami musim-musim yang sulit di La Liga, tapi daya ledaknya di Liga Champions tetap enggan padam. Gol pertamanya melawan PSG tadi menjadikannya sebagai pemain pertama yang mencetak 100 (total, ia sudah mencetak 101 gol) gol di Liga Champions untuk klub yang sama.
Seburuk-buruknya Ronaldo di kompetisi liga, entah faktor X apa yang membuatnya tak terkalahkan di Liga Champions. Toh, kenyataannya, sepak bola Eropa seperti tak berhenti disambangi pemain-pemain hebat. Catatan statistik tentang raihannya seolah menegaskan, di Liga Champions, pemain hebat datang dan pergi, tapi Ronaldo tinggal tetap.
“Ketika kami kembali ke Bernabeu untuk merayakan kemenangan ini, Cristiano Jr, (anak Cristiano Ronaldo) berlari-lari di tengah lapangan dengan riang. Sekilas, kenangan itu muncul. Kenangan tentang masa kecil saya yang berlarian di jalanan Madeira (tempat tinggal Ronaldo semasa kanak) tanpa rasa takut, saya yang waktu itu berlarian dengan penuh rasa gembira,” seperti itu Ronaldo melukiskan apa yang ia rasakan saat merayakan gelar Liga Champions ke-12 Real Madrid. Tahun ini, entah apa yang akan ditulisnya.
