Kumparan Logo

Diego Costa Datang, Atletico Senang

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selebrasi Griezmann dan Costa. (Foto: REUTERS/Juan Medina)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi Griezmann dan Costa. (Foto: REUTERS/Juan Medina)

Jika bisa memilah momen kebangkitan Atletico Madrid, laga melawan Lleida Esportiu di leg pertama babak 16 besar Copa del Rey awal Januari lalu adalah waktunya. Bukan karena mereka menang dengan mudah di Camp d'Esports, markas Lleida, tapi di sanalah Diego Costa dilahirkan kembali.

Hanya enam menit yang dibutuhkan Costa untuk menjebol gawang kontestan Segunda Division B itu. Saat itu, pemain yang diboyong dari Chelsea tersebut masuk menggantikan Angel Correa di menit ke-63 dan sukses mengonversi umpan silang dari Juanfran enam menit berselang.

Bisa dibilang ini adalah perpindahan pemain yang paling memberikan perubahan signifikan pada jendela transfer tengah musim. Costa mengantar Atletico ke jenjang sebagai tim penantang Barcelona di La Liga musim ini. Gamblangnya, Costa berhasil menyulap Atletico yang semula minim agresivitas menjadi tim yang produktif.

Sebelum kedatangannya, Atletico masih menjadi tim yang mengandalkan dua hal: Antoine Griezmann dan pertahanan.

Soal kokohnya benteng pertahanan, Atletico tak terbantahkan. Hingga pekan ke-26 La Liga, Los Colchoneros baru kemasukan 11 kali --terbaik dibanding kontestan lainnya. Artinya rasio kebobolan per laga mereka hanya menyentuh 0,4. Tentu bukan karena itu Costa pulang. Namun, sebagai penangkal dari alasan yang pertama, yakni candu akan Griezmann.

Sebelumnya, Atletico amat bertumpu pada Griezmann. Lima gol dipersembahkannya kepada klub yang bermarkas di Wanda Metropolitano itu, sebelum kedatangan Costa. Tak banyak, memang, tapi --ironisnya-- itu yang terbanyak di antara para pemain lainnya.

Nah, yang jadi masalah adalah saat Griezmann gagal mencetak gol. Hasilnya mudah ditebak, Atletico gagal menang. Dua kekalahan teranyar mereka, dari Espanyol di ajang La Liga dan Sevilla pada leg pertama Copa del Rey adalah buah dari mandulnya Griezmann.

Bukan tanpa alasan Simeone mengandalkan Griezmann. Dirinya memang spesial. Tak hanya dari skill individu dan ketajaman saja, melainkan juga dari kemahiran dalam menciptakan peluang. Buktinya Griezmann menjadi pemain yang paling intens dalam melepaskan tembakan dalam rata-rata 2,7 per laga, sekaligus menciptakan peluang di angka 1,6.

Itu baru dari sisi individu. Yang jelas, sepak bola tak akan berjalan dalam jika sistemnya juga buntu. Kehebatan Griezmann akan menguap andai rekan-rekan setimnya, khususnya tandem di lini depan, tak cukup klinis dan kreatif dalam memprakarsai peluang. Fernando Torres tak setajam dulu, Kevin Gameiro juga tampil angin-anginan. Mentok opsi Simeone adalah dengan memasang Angel Correa sebagai tandem Griezmann. Tapi racikan itu terbentur dengan tipikal permainan Correa yang nyaris serupa dengan Griezmann --mengandalkan manuver dan kecepatan.

Fernando Torres saat berduel dengan Ximo Navarro. (Foto: Oscar Del Pozo / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Fernando Torres saat berduel dengan Ximo Navarro. (Foto: Oscar Del Pozo / AFP)

Perlu diingat jika Atletico selalu memiliki target-man pada periode 2011-2015. Dalam rentang itu, mereka punya Radamel Falcao dan Mario Mandzukic, striker yang tak hanya klinis, tapi juga didukung fisik kekar dan andal dalam duel udara. Mereka juga bisa jadi pemantul bola di area lawan. Torres yang kembali didatangkan ternyata tak dapat menjadi puzzle untuk menutup kekurangan itu dan, akhirnya, di bahu Costa Atletico bisa bersandar.

Tak butuh waktu lama baginya untuk mendongkrak produktivitas mereka. Costa sukses mencetak lima gol dan sepasang assist dari 10 penampilannya di semua ajang. Bahkan dalam tiga laga terakhir, Costa berkontribusi lewat dua gol dan satu assist. Saat melawan Sevilla, misalnya, penyelesaian klinis Costa sukses membungkam Ramon Sanchez-Pizjuan di menit ke-29 --yang kemudian disusul hat-trick Griezmann dan satu gol Koke.

Lebih dari itu, penampilan impresif Costa juga menular kepada Griezmann. Terhitung sejak kedatangan Costa di awal Januari lalu, dia sukses mencetak 13 gol dan 5 assist di semua ajang. Tengok saja kemenangan besar Atletico atas Leganes akhir pekan lalu, saat Griezmann berhasil memborong empat gol. Gol ketiga, misalnya, diawali dari kejelian Costa dalam menyodorkan umpan kepada Filipe Luis. Baru kemudian full-back asal Brasil itu mengirimkan umpan lambung yang dikonversi menjadi gol oleh Griezmann.

Sedangkan untuk gol pamungkas, Costa menyodorkan umpan yang kemudian berbuah gol. Di sinilah salah satu fungsi pemain berusia 29 tahun itu. Menerima long-ball, kemudian menyalurkannya kepada Griezmann.

Griezmann sebenarnya lebih ideal jika bermain di belakang penyerang utama. Simeone sendiri mengatakan jika Costa adalah figur yang tepat untuk melengkapi Griezmann --lebih tepatnya sebagai sosok saling yang melengkapi. Peraih Sepatu Emas Piala Eropa 2016 itu butuh tandem yang dinamis, klinis, dan mampu mengakomodirnya. Sementara Costa juga mesti dilengkapi dengan penyerang kreatif macam Griezmann.

X post embed

Jika sejak awal musim ini Atletico hanya mengandalkan dua hal, yakni sosok Griezmann dan pertahanan, maka Costa menghadirkan sesuatu yang tak mereka punya: produktivitas.