Kumparan Logo

Direktur Olahraga untuk Real Madrid? Mengapa Tidak

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Zidane butuh bantuan di Real Madrid. (Foto: Reuters/Juan Medina)
zoom-in-whitePerbesar
Zidane butuh bantuan di Real Madrid. (Foto: Reuters/Juan Medina)

Di balik kemenangan spektakuler atas Valencia pada jornada ke-21, Sabtu (27/1/2018), Real Madrid sejatinya masih menyimpan segudang persoalan. Pasalnya, kemenangan tersebut pun belum mampu benar-benar membuat mereka mendekati Barcelona serta menghapus rasa malu akibat disingkirkan Leganes di Copa del Rey.

Saat ini, Real Madrid tertinggal 19 angka dari Barcelona yang ada di puncak klasemen La Liga. Secara matematis, El Real memang masih mungkin menyalip El Barca. Namun, sepak bola bukanlah matematika. Muskil rasanya untuk berharap Barcelona kehilangan poin sedemikian banyak. Apalagi, tim asuhan Ernesto Valverde itu baru saja kedatangan dua pemain baru dalam diri Philippe Coutinho dan Yerry Mina.

Praktis, asa Real Madrid kini hanya ada di Liga Champions. Cristiano Ronaldo dan Dani Carvajal telah mengatakan demikian. Celakanya, di kompetisi antarklub paling elite se-Benua Biru itu, Real Madrid harus melewati adangan Paris Saint-Germain di babak 16 besar. Padahal, dengan kedatangan Neymar dan Kylian Mbappe, Les Parisiens kini menjadi salah satu kandidat terkuat juara.

Apabila ditilik, skuat Real Madrid sebenarnya tak berbeda jauh dengan musim lalu. Di tim utama, mereka tak kehilangan satu orang pun. Akan tetapi, siapa pun yang mengikuti kiprah Real Madrid musim lalu tahu bahwa kekuatan mereka yang sebenarnya tidak terletak di tim utama, melainkan pada kualitas para pelapis.

Pada musim panas 2017, Alvaro Morata, James Rodriguez, dan Pepe dilepas. Padahal, tiga pemain ini adalah nama-nama yang begitu krusial bagi Real Madrid pada musim lalu. Mereka memang tak mencetak gol di partai-partai penting seperti final Liga Champions, tetapi merekalah yang memastikan para pemain kunci bisa tampil optimal di laga-laga terbesar.

Morata, James, dan Pepe adalah pemain cadangan yang punya kualitas tak jauh berbeda dengan para pemain utama. Di pertandingan-pertandingan kecil, merekalah yang dimainkan oleh Zinedine Zidane untuk memberi waktu istirahat bagi para pemain inti. Dengan keberadaan tiga pemain tadi, Real Madrid pun kemudian bisa bertarung di setiap front yang tersedia.

Namun, itu semua tak terjadi musim ini. Ditambah dengan menurunnya performa pemain utama, makin menjadilah masalah Real Madrid. Gambaran umumnya kira-kira seperti itu.

Masalah ini, menurut Graham Hunter dalam kolomnya di ESPN, merupakan akibat dari adanya satu kekurangan fundamental di kubu Madrid. Kekurangan yang dimaksud adalah ketiadaan seorang direktur olahraga.

Dalam kolom tersebut, Hunter berbicara panjang lebar soal peran direktur olahraga di sebuah klub. Menurutnya direktur olahraga adalah sosok yang menjembatani semua kepentingan di dalam klub, terutama kepentingan yang menyangkut pemilik klub dengan pelatih. Khusus di Madrid, hal ini menjadi sangat penting karena pada dasarnya, sosok yang menjalankan peran sebagai direktur olahraga di sana adalah sang presiden, Florentino Perez.

Pada bursa transfer musim panas 2017, Perez membuat blunder. Dia melepas para pemain cadangan berpengalaman untuk memberi tempat kepada para pemain muda minim pengalaman macam Jesus Vallejo, Dani Ceballos, Marcos Llorente, Borja Mayoral, dan Theo Hernandez. Hasilnya, ya, seperti sekarang ini.

Pertanyaannya sekarang, benarkah Real Madrid membutuhkan seorang direktur olahraga?

Morata dan James bersama Marcelo. (Foto: Reuters/Miguel Vidal)
zoom-in-whitePerbesar
Morata dan James bersama Marcelo. (Foto: Reuters/Miguel Vidal)

Pada dasarnya, ya. Bahkan, tidak cuma Real Madrid saja, tetapi semua klub sebenarnya membutuhkan sosok direktur olahraga. Idealnya, dengan keberadaan sosok direktur olahraga, tugas pelatih bisa menjadi lebih ringan.

Gambarannya begini. Apabila, katakanlah, Massimiliano Allegri di Juventus membutuhkan seorang penyerang sayap yang bisa mempertajam lini depan, maka dia tinggal menyampaikan hal demikian kepada Giuseppe Marotta.

Secara teknis, Marotta memang bukan direktur olahraga Juventus, melainkan manajer umum (general manager) sekaligus CEO (chief executive officer). Akan tetapi, Marotta adalah seorang manajer umum yang khusus beroperasi di bidang olahraga. Artinya, dia adalah sosok yang bertanggung jawab dalam proses jual-beli pemain, perpanjangan serta pemutusan kontrak, dan semacamnya. Baru nanti di bawah Marotta ada sosok direktur olahraga bernama Fabio Paratici.

Paratici inilah nantinya yang benar-benar bergerak mencari pemain. Bekerja sama dengan kepala pemandu bakat, Paratici akan membuat daftar nama-nama pemain yang kira-kira bisa dibeli dan tidak. Bisa dibeli dan tidaknya seorang pemain ini tentu kembali lagi ke persoalan apakah Juventus punya uang atau tidak dan untuk itu, yang menentukan adalah Marotta.

Setelah daftar pemain dikerucutkan, Marotta kemudian mengajak Allegri kembali berbincang. Apabila Allegri setuju, maka pemain yang dimaksud akan dikejar. Di sini, yang melakukan pengejaran itu adalah Marotta sendiri, dengan Paratici sebagai sosok pendamping.

General Manager Juventus, Giuseppe Marotta. (Foto: Juventus FC)
zoom-in-whitePerbesar
General Manager Juventus, Giuseppe Marotta. (Foto: Juventus FC)

Dengan alur kerja seperti itu, tugas Allegri pun menjadi jauh lebih sederhana. Dia tidak perlu lagi memikirkan negosiasi ini-itu dan hanya fokus pada urusan melatih serta mempersiapkan tim. Itu saja.

Namun, tidak semua relasi pelatih-direktur olahraga bisa berjalan semulus ini. Di Chelsea, misalnya, direktur olahraga mereka, Michael Emenalo, harus mundur dari jabatannya pada November 2017 lalu. Pria Nigeria itu kemudian memilih untuk menerima tawaran dari Monaco.

Mundurnya Emenalo ini terjadi karena adanya perseteruan dengan Antonio Conte. Sampai Januari 2018 ini pun Conte masih terus mengkritik kebijakan transfer Chelsea yang menurutnya tidak memuaskan. Padahal, Emenalo adalah salah satu sosok yang paling bertanggung jawab membangun kejayaan Chelsea selama kurang lebih satu dekade.

Emenalo sendiri sebenarnya tidak dapat disalahkan. Sebab, mantan pemain Tim Nasional Nigeria ini sudah mendatangkan berbagai pemain di posisi yang dibutuhkan Conte, seperti penyerang (Alvaro Morata), gelandang (Danny Drinkwater dan Tiemoue Bakayoko), serta bek (Antonio Ruediger).

Conte pun sebetulnya tidak secara langsung mengeluhkan kinerja Emenalo, melainkan ketidakmampuan Chelsea bersaing secara finansial dengan duo Manchester. Walau begitu, Emenalo adalah ujung tombak dari segala kebijakan transfer yang ditetapkan manajemen dan maka dari itu, eks bek Notts County itu memutuskan untuk mundur saja.

Tak cuma Chelsea, Real Madrid pun sebenarnya punya pengalaman buruk soal direktur olahraga. Pada masa Jose Mourinho dulu, Los Merengues pernah punya direktur olahraga bernama Jorge Valdano. Namun, pria Argentina ini akhirnya mundur karena berselisih paham dengan The Special One.

Emenalo, punya karier mentereng di Chelsea. (Foto: Olly Greenwood/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Emenalo, punya karier mentereng di Chelsea. (Foto: Olly Greenwood/AFP)

Setelah Valdano mundur, Real Madrid sempat tidak punya direktur olahraga sampai akhirnya pada 2011 lalu Zinedine Zidane ditunjuk untuk memegang jabatan ini. Zidane sendiri bergabung kembali dengan Real Madrid setahun sebelumnya untuk penjadi penasihat khusus. Mantan pesepak bola terbaik dunia itu kemudian merangkak naik sampai akhirnya menjadi pelatih kepala.

Namun, masa bulan madu Zidane dan Real Madrid itu sudah berakhir. Usai mempersembahkan trofi La Liga dan dua gelar Liga Champions, Madrid kemudian terpuruk. Bahkan, Zidane dan Perez terkesan punya misi sendiri-sendiri. Contohnya, saat Madrid dikabarkan mendekati Kepa Arrizabalaga, Zidane tiba-tiba saja berkata, "Kami tidak butuh kiper."

Di situasi seperti ini, sosok direktur olahraga pun mutlak dibutuhkan. Di situ, sosok ini akan menjadi penyangga (buffer) antara sang presiden dan sang pelatih. Ego serta pemikiran dua kepala berbeda itu harus dicarikan jalan tengahnya dan itu adalah tugas dari direktur olahraga. Nantinya, baru segala hal itu dirumuskan menjadi satu mazhab dan mazhab itulah yang akan dijadikan pedoman bagi sebuah klub untuk bergerak di lantai bursa.

Walau demikian, mencari sosok yang bisa menjadi penjembatan seperti itu tidaklah mudah dan ini bukan cuma soal mampu atau tidak, melainkan cocok atau tidak. Soal mampu atau tidak, tak perlu ditanya lagi karena di setiap pekerjaan, kompetensi adalah hal mutlak. Sementara, perkara kecocokan ini lain lagi. Kasus Emenalo tadi bisa dijadikan contoh.

Lalu, bagaimana selanjutnya untuk Real Madrid? Well, untuk musim ini memang semuanya sudah terlambat. Namun, agar masalah musim ini tak terulang kembali, manajemen Real Madrid sebaiknya segera memulai proses pencarian direktur olahraga.