Kumparan Logo

Egy Maulana, Masa Kecil, dan Mimpi yang Membawanya ke Eropa

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Egy Maulana Vikri (Foto:  Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Jika Anda mendengar anak Anda akan menjadi pemain sepak bola profesional di sebuah klub Eropa, apa yang Anda rasakan? Bangga bukan kepalang? Terharu? Ah, untuk mengetahuinya, kami mencoba bertanya kepada ayah dari Egy Maulana Vikri, Syaripudin.

Jumat (9/3/2018) pagi WIB, pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia tersebut bertolak ke Eropa untuk menandatangani kontrak bersama salah satu klub yang berkompetisi di level teratas. Sejauh ini, kubu Egy belum memberitahukan klub apa yang dimaksud.

Dengan bakat Egy yang mulai berpendar ketika main bersama Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri, wajar jika Egy pada akhirnya mampu menarik perhatian beberapa klub Eropa.

Menyadari bahwa sang anak akan berangkat ke Eropa, Syarifuddin pun mengungkapkan rasa bahagianya tersebut. Dia juga bercerita soal wejangan yang sudah dia berikan, beserta dengan kenangan-kenangan ketika Egy pertama kali mengenal sepak bola semasa kecil silam.

Berikut adalah petikan wawancara tim kumparan (kumparan.com) dengan ayah Egy Maulana, Syarifuddin beberapa waktu lalu.

K (kumparan): Seminggu ke depan Egy akan dikontrak klub Eropa, bagaimana perasaannya?

S (Syaripudin): Saya terharu. Jangankan dia, seandainya Egy bukan anak saya saja, saya bangga, apalagi orang kampung, macam mana pula saya orang tuanya.

Sangat bangga sekali dia jadi satu-satunya orang Indonesia yang bisa dikontrak orang luar (negeri), karena banyak pemain kita yang sekolah keluar 'kan pulang ke Indonesia nggak jadi apa-apa. Tapi kalau ini dia dikontrak, beda jalannya, bangga sekali, saya ucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolong anak saya.

Egy Maulana Vikri (Foto: AFP PHOTO / KIM DOO-HO)
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri (Foto: AFP PHOTO / KIM DOO-HO)

K: Egy di usia 17 tahun sudah dikontrak klub luar negeri. Apa bapak pernah membayangkan ini?

S: Nggak kebayang juga, cuma saya tanamkan sama dia dulu, jangan seperti main video game. Yang penting usaha kita kayak gimana. Contoh (Cristiano) Ronaldo aja. Dia ‘kan punya kecepatan, punya naluri gol juga, itu aja dia masih usaha untuk meningkatkan kemampuanya, apalagi orang kayak kita.

Saya bilang gitu karena saya dulu pernah merasakan. Saya sudah bilang ke anak saya dua-duanya, kalau cerita latihan berat itu kalian nggak usah cerita capeknya kayak gimana. Saya udah ngalamin, tapi kalau kalian cerita senang naik pesawat, nginap di hotel sini, saya nggak pernah ngalamin itu. Saya kalah. Saya bilang, tapi kalau cerita berat (latihannya), yah, nggak usah kalian cerita, saya bilang gitu. Makanya itu, motivasinya ada ke situ.

Egy Maulana Vikri (Foto: Ridho Robby/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri (Foto: Ridho Robby/kumparan)
Egy Maulana Vikri (Foto: Ridho Robby/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri (Foto: Ridho Robby/kumparan)

K: Kaget tidak waktu dikabari orang di Jakarta kalau Egy akan dikontrak klub Eropa?

S: Sangat kagetlah. Waktu itu ‘kan nggak kebayang anak saya seumur itu dikontrak (klub Eropa). Seharunya macam dia itu masih belajar, masih sekolah. Sekarang dia dikontrak, terharulah saya, nggak terbayang. Saya ‘kan sempat bilang sama dia, masalah berapa kontraknya itu nggak usah dibayangkan, yang penting kau bisa main di Eropa, dikontrak orang juga, beda dengan ketika sekolah.

Sekarang kau dikasih kesempatan dikontrak main bola di Eropa. Itu sangat luar biasa, jarang untuk orang ASEAN (Asia Tenggara) main ke sana, jadi ke depannya kau kalau bisa, semakin berat tantangan yang ada.

K: Egy nanti bersaing dengan pemain Eropa yang kemampuannya sudah terasah. Belum lagi ada faktor cuaca, itu menurut Bapak bagaimana?

S: Pernah saya tanya dia, saya bayangkan orang Eropa besar, kemampuan bagus, tenaganya kuat, jadi saya bayangkan sama dia. ‘Gimana kau main nanti, Gy?’ Saya cuma bertanya gitu, tapi dia orangnya yakin. Keyakinannya itu membuat saya termotivasi betul. Jadi untuk itu, saya sarankan dia tambah kecepatan pas latihan. Itu jadi jaminan dia bisa main di Eropa. Dia punya kecepatan, itu yang meyakinkan saya.

Syarifuddin (kiri) dan keluarga Egy. (Foto: Ridho Robby/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Syarifuddin (kiri) dan keluarga Egy. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

K: Soal Egy, katanya dari umur dua tahun sudah megang bola. Dari kecil memang sudah suka bola, ya?

S: Benar itu. Jadi, awalnya kami punya lapangan di Jalan Tanjung Sari. Awalnya dia ikut abangnya bawa sepatu, lama-lama dia ikut turun nendang bola, ikut dia latihan.

Waktu itu dia masih kecil sekitar jam 3 atau jam 4, dia ngaji dulu. Pulang ngaji baru main bola sama mamanya. Sampai lapangan anak-anak kan sudah habis, jadi di situ dia merajuk. Biar dia nggak nangis, itu saya bawa main sama orang gede-gede (dewasa), kebetulan saya pemain juga, saya suruh dia di depan saja, jadi saya yang lewati kiper lalu saya kasih dia biar dia yang cetak gol.

Setelah berjalan satu tahun masuk ke sekolah TK, di situlah saya tengok bakatnya berkembang, sekitar 5-6 tahun lah. Caturwulan pertama sebelum saya bawa ke Tasbi, dia rangking satu waktu itu, jadi caturwulan kedua gara-gara saya bawa latihan ke Tasbi, jadi tinggal kelas. Saya berhentikanlah dia TK. Masuklah dia pengajian, ‘kan main sepak bola terus saya giatkan. Nah, karena potensial, dan SSB Asem Kumbang belum masuk anggota di KONI dan Pengda, saya bawa ke Tasbi supaya bisa ikut turnamen.

Di situlah awalnya dia terus berkembang. Sampai dia bertemu Pak Bagja (Subagja Suihan, ayah angkat Egy, red) itu, awalnya dulu main sepak bola dilatih sama Om Mayang. Semua pelatih itu bergantian ngelatih dia. Awal berkembang di situ sempat ada seleksi timnas diikutinya. Dia masih di SSB Tasbi itu ikut seleksi timnas. Hari H mau berangkat, karena kami nggak punya uang, batal lah dia (ikut seleksi). Jadi awalnya dia berangkat ke Jakarta itu waktu piala ASBI, ada kawan abang Egy, bapaknya itu pengurus ASBI Kota Medan. Jadi dia nelepon abang Egy, katanya udah, suruh aja adik kau seleksi nanti saya yang biayai. Awalnya di situ dia berangkat ke Jakarta.

Egy (dipangku) ketika kecil. (Foto: Ridho Robby/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Egy (dipangku) ketika kecil. (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Sebelumnya, dulu pernah juga dia ditengok Indra Sjafri sebelum Indra Sjafri dikenal orang jadi megang Timnas (U-19). Waktu Evan Dimas coaching clinic di PPLP Sungga, Medan, (Egy) jadi murid untuk praktik ini, kan muridnya dari SSB. Di situ awal dia ketemu Egy. Dia bilang ini (Egy) bakatnya luar biasa bagus, kalian jaga, katanya gitu. Itulah awalnya.

Terus dalam perjalanannya, setelah ada turnamen di Myanmar waktu itu, Timnas U-14 kalau nggak salah, Egy disuruh ke Jakarta ikut seleksi. Itulah awalnya dibawa sama Bagja. Selesai dari Myanmar, pulang ke Medan untuk sekolah. Selesai sekolah, karena waktu di Ragunan si Hargianto masuk TC Timnas, ada lowongan di situ. Egy pun dimasukkan Bagja, dan dari situ awal perkembangan sepak bola dia.

K: Bapak ‘kan juga pemain sepak bola, ya, bisa digambarkan bagaimana bakatnya Egy dulu?

S: Waktu kecil itu saya tahu dia (Egy) punya bakat luar biasa. Cara dia dribbling bola dan dia cepat menangkap pelajaran. Dari situ saya tahu bakatnya luar biasa. Makanya, untuk perkembanganya itu saya bawa ke Tasbi dulu, supaya bisa ikut turnamen anak ini supaya matang.

Egy Maulana Vikri (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Egy Maulana Vikri (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Jadi, dia sudah punya bakat. Dengan sendirinya itu tinggal kita mematangkan aja. Dengan adanya bakat, begitu kita tinggal kasih tahu begini latihannya supaya dia berkembang. Sejak kecil dulu, awalnya dia dari main bola, setelah dibawa itu kan masuk omnya. Omnya yang berjasa karena dia ingin Egy terus naik, jadi dikasih tahu caranya ini-itu, supaya kemampuannya berkembang

Soal dribbling-nya yang kaki kiri, memang bakatnya seperti itu. Dia karena tangannya dulu kidal (pakai kiri), mamaknya marah. Kalau makan tangan kiri dipukul. Karena sering makan pakai tangan kanan, ya, tinggal kakinya aja emang kiri. Dia enggak digitukan, dia memang suka pakai kaki kiri dan tangan kiri.

K: Keinginan Egy main sepak bola, keinginan bapak atau Egy sejak kecil?

S: Itu dari dia (Egy). Saya nggak pernah tanamkan orang ini harus jadi pemain bola atau nggak. Saya hanya tengok perkembangan anak saya, bagaimana dan sejauh mana bakatnya.

Saya tengok bakatnya luar biasa. Saya sempat bilang kepada abangnya Egy, nanti kau kalah bagus sama dia. Itu karena dia dribbling pakai kaki kiri. Kan kita tahu kaki kiri luar biasa, nah itu makanya saya korbankan sekolahnya apanya yang penting dia bisa terus ke depan.