Eks Pelatih Timnas U-17 Gabon Disebut Lakukan Asusila ke Banyak Anak Laki-laki
·waktu baca 3 menit

Kabar mengejutkan datang dari sepak bola Gabon. Baru-baru ini mencuat kabar eks pelatih Timnas U-17 Gabon, Patrick Assoumou Eyi, disebut melakukan tindak asusila kepada para pemainnya.
Diwartakan The Guardian, sejumlah korban telah angkat suara atas tindakan keji yang dilakukan Eyi atau yang dikenal dengan sebutan Capello ini. Salah satu eks pemain yang dilatih Eyi mengatakan bahwa Eyi akan memancing orang yang akan menjadi ke korbannya ke rumahnya, yang disebut sebagai ‘Taman Eden’.
Kemudian, salah satu korban lainnya yang bermain untuk tim U-17 Gabon antara 2015 hingga 2017 mengeklaim bahwa Eyi beberapa kali berbuat asusila padanya. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa hal itu adalah sebuah syarat agar bertahan di tim nasional.
“Dia memaksa saya untuk melakukan hubungan seksual dengannya. Itulah syarat bertahan di timnas,” ucap sang pemain yang tidak diketahui identitasnya ini dikutip dari The Guardian.
“Capello memerkosa begitu banyak anak laki-laki. Dia terkadang pergi ke pedesaan untuk mencari yang baru. Dia memanfaatkan kemiskinan dan juga memberikan beberapa anak laki-laki kepada pejabat lain,” imbuhnya.
“Di timnas kami, mayoritas harus memberikan seks. Itulah realitas sepak bola Gabon selama beberapa dekade, tetapi tidak ada yang bisa mematikan sistem. Predator terlalu banyak, kami menderita bak di neraka,” ujarnya.
Eyi sendiri meninggalkan perannya sebagai pelatih Timnas U-17 Gabon pada 2017. Kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya sebagai Direktur Teknis La Ligue de I’Estuaire yang merupakan kompetisi tertinggi di negara tersebut.
Meski tak lagi menangani tim muda Gabon, tindakan keji Eyi urung berhenti. Ada korban yang mengeklaim bahwa Eyi berbuat asusila padanya ketika ia berusia di bawah 18 tahun saat mengikuti akademi bernama Academie Club de Libreville di Akanda, pinggiran Kota Libreville, antara 2017 hingga 2019.
“Saya memiliki beberapa pengalaman seksual dengan Capello (Eyi), saya berkewajiban untuk itu. Anda tahu, saya berhenti dari sepak bola. Saya mencoba yang terbaik untuk keluarga saya dan sekarang saya tinggal di luar negeri. Saya tidak bisa kembali,” ucap sang pemain.
Sementara itu, korban mengaku bahwa mereka tidak melaporkan tindakan keji Eyi kepada pihak kepolisian. Pasalnya, mereka sudah tidak percaya terhadap sistem peradilan Gabon.
Kendati demikian, keluhan atas kasus tuduhan tindakan asusila tersebut telah diterima FIFA melalui Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Dunia, FIFPro.
“Penyelidikan awal kami menghasilkan bukti yang konsisten dari saksi yang kredibel yang semuanya menceritakan tentang praktik memaksa pemain muda untuk melakukan hubungan seksual sebagai prasyarat untuk peluang sepak bola,” tulis pernyataan FIFPro dikutip dari The Guardian.
“Jika tuduhan ini memang benar, itu adalah bukti lebih lanjut bahwa sepak bola secara konsisten dieksploitasi, di lintas liga dan benua, sebagai wadah bagi pelaku untuk mengakses, mempersiapkan, memeras, dan menyerang pemain. Lebih banyak yang harus dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan yang mengerikan ini dan kami meminta badan pengatur sepak bola untuk bertindak sebagai hal yang mendesak,” lanjut bunyi pernyataan tersebut.
