Kumparan Logo

El Clasico 1968: Hujan Botol di Bernabeu

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Barcelona meraih trofi Copa del Generalisimo usai menundukkan Real Madrid di El Clasico 1968. Foto: Dok. Sport
zoom-in-whitePerbesar
Barcelona meraih trofi Copa del Generalisimo usai menundukkan Real Madrid di El Clasico 1968. Foto: Dok. Sport

El Clasico dan misil sudah seperti kawan karib. Dalam sejarahnya, ada berbagai macam benda yang pernah dilempar ke lapangan oleh para suporter kedua kesebelasan,

Misil terbaru yang dilempar adalah korek api. Pada 2013, dalam laga El Clasico di Santiago Bernabeu, bek Barcelona, Gerard Pique, mendapati sebuah korek api telah dilempar ke area lapangan.

Pique awalnya berniat untuk melaporkan pelemparan itu kepada wasit. Namun, kapten tim Carles Puyol punya kebijakan lain. Supaya situasi tak bertambah panas—karena saat itu Barcelona unggul 1-0, Puyol mencegah Pique mengadukan itu ke wasit.

video youtube embed

Sebelum korek api itu pernah ada kepala babi yang dilemparkan ke arah Luis Figo oleh para pendukung Barcelona. Jauh sebelumnya lagi, pada El Clasico edisi 1947, koin dan silet pernah dijadikan misil oleh para suporter Real Madrid.

Namun, rasanya tak ada yang lebih parah dari kejadian tahun 1968, ketika suporter Real menghujani pemain Barcelona dan wasit dengan botol kaca. Laga itu pun akhirnya mendapat julukan 'La Final de las Botellas' atau 'Final Botol'.

Pertandingan itu sendiri merupakan final Copa del Generalisimo musim 1967/68. Ketika itu Copa del Rey memang disebut Copa del Generalisimo karena Spanyol masih berada di bawah cengkeraman Jenderal Franco.

Jenderal Franco ini adalah salah satu alasan mengapa rivalitas Barcelona-Real Madrid bisa begitu panas. Sebab, di bawah pemerintahannya, segala hal berbau Catalunya (juga Basque) diberangus habis-habisan. Pokoknya, Spanyol adalah harga mati.

Diktator Spanyol Fransisco Franco Foto: Reuters

Dengan begitu, setiap kali Real Madrid dan Barcelona bertemu, tensi politik selalu meninggi. Pada 1968, itu memuncak pada laga final Copa del Generalisimo yang dihelat di Santiago Bernabeu.

Hari itu suporter Real Madrid benar-benar kesal. Pertama, karena Barcelona bisa unggul cepat pada menit ke-6 melalui gol bunuh diri Fernando Zunzunegui. Kedua, karena kepemimpinan wasit Antonio Rigo dinilai berat sebelah.

Anggapan demikian muncul karena Rigo tak memberi hadiah penalti meskipun dua pemain Real Madrid terjatuh di dalam kotak. Botol-botol kaca pun kemudian dilempar masuk ke lapangan. Rigo dan para pemain Barcelona menjadi sasarannya.

Meski begitu, Barcelona berhasil mempertahankan keunggulan. Franco pun dengan berat hati menyerahkan piala kepada klub yang dibencinya tersebut pada akhir laga.

video youtube embed

Rigo kemudian memberi penjelasan mengapa dia tak memberi hadiah penalti kepada Real Madrid. Dia beralasan tidak melihat terjatuhnya Amancio Amaro dan menganggap pemain Real lainnya, Fernando Serena, cuma tersandung.

Dia kemudian dituduh telah menjual pertandingan. Yang menuduh pun tak cuma Real Madrid, tetapi juga tujuh klub Spanyol lainnya. "Sejak laga itu aku dituduh Antimadridista, alih-alih pendukung Barcelona," kata Rigo.

Bagi Barcelona sendiri, kemenangan itu punya arti luar biasa penting. Sebab, pada tahun yang sama, semboyan Mes Que un Club pertama kali dicetuskan oleh Presiden Narcis de Carreras dalam pidato kampanyenya.

Kemenangan atas Real Madrid pada El Clasico di Bernabeu itu, ditambah dengan perlakuan tak terpuji para suporter Los Blancos yang mengiringinya, semakin mempertegas status Barcelona sebagai simbol perlawanan rakyat Catalunya.