Kumparan Logo

Evolusi dan Stabilitas Nemanja Matic

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Matic saat berkostum Chelsea (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Matic saat berkostum Chelsea (Foto: Reuters)

Hanya ada dua, dalam sejarah sepak bola, pemain yang namanya diabadikan sebagai istilah khusus. Pertama, Johan Cruyff yang namanya abadi lewat gerak tipu "Cruyff Turn", dan kedua, Claude Makelele yang namanya digunakan untuk menyebut sebuah peran khusus dalam sepak bola, "Makelele Role".

Olahraga ini memang tak kekurangan legenda, tetapi agar nama seorang pemain bisa diabadikan seperti kedua orang itu, tentu pemain tersebut harus benar-benar spesial. Harus benar-benar lain dari yang lain, dan maka dari itu, nama N'Golo Kante pun kemudian dinominasikan untuk menggantikan nama Makelele di "Makelele Role" menjadi "Kante Role".

Kante memang spesial dan itu sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Untuk pemain yang berperan sebagai interseptor dan perebut bola, Kante adalah Lionel Messi-nya. Keberhasilan Kante membawa Leicester City dan Chelsea menjuarai Premier League adalah buktinya. Di sana, dia menunjukkan bahwa dia adalah solusi atas segala persoalan yang dimunculkan lini tengah lawan.

Fenomenalnya Kante ini memang mampu membuat mata terbelalak dan lidah berdecak. Namun, hal ini juga membuat orang lupa bahwa baik di Leicester maupun Chelsea, ada masing-masing satu gelandang tengah lain yang punya peran tak kalah krusial.

Di Leicester, ada Danny Drinkwater, seorang gelandang tengah klasik Britania yang meski punya kemampuan melepas umpan yang bagus, tetap sangat mengandalkan determinasi. Jika Kante berperan sebagai pemotong arus serangan lawan, maka Drinkwater adalah orang yang mengolah bola hasil curian Kante itu menjadi serangan balik yang mematikan.

Kemudian, tentu saja, Nemanja Matic di Chelsea.

Seperti halnya Kante, Matic juga punya peran sebagai gelandang bertahan. Sebagai manajer dari tim yang bermain dengan formasi 3-4-3 dan bisa menyerang dengan lima pemain sekaligus, masuk akal jika Antonio Conte kemudian menduetkan pemain seperti Kante dan Matic di lini tengah. Stabilitas, tentu saja, menjadi kata kunci di sini.

Kante menutup sinar Matic. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Kante menutup sinar Matic. (Foto: Getty Images)

Sebagai pemain, Nemanja Matic memang identik dengan kata stabilitas. Ketika dulu dia dibeli Chelsea kembali dari Benfica pada 2014, ada banyak analisis yang bertebaran di media, namun dari sekian banyak analisis tersebut, intinya cuma satu: Matic adalah pemain yang bisa menghadirkan stabilitas bagi Chelsea.

Ketika itu, Chelsea memang sedang sangat membutuhkan gelandang tengah yang tangguh. Frank Lampard sudah semakin menua, John Obi Mikel tidak sedang menjalani musim yang bagus, dan Ramires lebih kerap dipasang melebar di formasi 4-3-3. Lalu, mengapa harus Matic?

Tentu ada alasan mengapa Chelsea rela mengeluarkan uang senilai 1,5 juta poundsterling pada tahun 2009 untuk menggaet Matic dari klub Slovakia, Kosice. Ketika itu, usia Matic baru 21 tahun dan baru saja mentas dari ajang Piala Eropa U-21 pada tahun yang sama. Di situ, Chelsea sudah melihat potensi seorang Matic.

Namun, Matic yang dibeli Chelsea pada 2009 itu bukanlah Matic yang kembali pada 2014. Ketika pertama kali datang ke London, Matic adalah seorang playmaker. alias pemain nomor 10. Meski bertubuh besar dan kadang terlihat canggung, dia punya sentuhan yang lembut dan akurasi umpan yang ciamik. Ketika itu pun sudah cukup banyak orang yang menggadang-gadang bahwa Matic bakal menjadi pemain penting Chelsea di masa depan.

Matic di sesi latihan Chelsea (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Matic di sesi latihan Chelsea (Foto: Reuters)

Sayangnya, pada musim pertama di Chelsea, Matic lebih kerap berkutat dengan cedera yang sudah dideritanya sejak di Piala Eropa. Hasilnya, bisa duduk di bangku cadangan Chelsea saja sulitnya bukan main untuknya. Masa depan Matic di Chelsea semakin buram ketika pada 2010, dia diasingkan ke Vitesse Arnhem bersama bek berbakat, Slobodan Rajkovic.

Rajkovic sendiri pada akhirnya tidak pernah masuk ke dalam rencana Chelsea dan kini, dia lebih dikenal sebagai bek andalan klub-klub semenjana. Nasib yang dialami Rajkovic itu bisa saja dialami Matic jika pada 2011 dia tidak dijual ke Benfica.

Sebenarnya, "dijual" bukanlah kata yang tepat karena ketika itu, Matic tak ubahnya "uang tambahan" yang harus dikeluarkan Chelsea untuk menggaet David Luiz. Namun, di bawah asuhan Jorge Jesus, Matic mampu -- atau lebih tepatnya, dipaksa -- untuk berevolusi.

Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian pada 2014 lalu, Matic bercerita bagaimana Jorge Jesus langsung memerintahkan agar dirinya bermain sebagai gelandang bertahan setibanya di Benfica. "Dia berpikir bahwa aku bisa bermain lebih baik di posisi itu," kata Matic.

video youtube embed

Awalnya memang sulit bagi Matic. Namun, selain harus bekerja keras sendiri, dia mendapat banyak bantuan baik itu dari Jesus sendiri maupun Javi Garcia yang saat itu masih membela Benfica. Tak hanya itu, Matic pun mengaku kerap menonton video rekaman gelandang bertahan untuk mempelajari pergerakan mereka.

"Benfica selalu bermain menyerang karena di Liga Portugal mereka merasa selalu bisa memenangi pertandingan, jadi ketika kami sedang tidak menguasai bola, saya langsung berusaha untuk merebut kembali dan merancang serangan balik. Saya benar-benar menikmati peran itu," imbuh Matic.

Pada dasarnya, itulah yang kini dilakoni Matic. Sebagai gelandang bertahan, Matic memang komplet. Dari segi postur saja dia sudah intimidatif. Tingginya mencapai 194 cm dan hal itu sangat menguntungkan dalam duel-duel udara. Selain itu, dia juga punya agresivitas dalam melancarkan tekel-tekel.

Namun, yang membuat Matic punya keunggulan tersendiri dibanding gelandang-gelandang bertahan lain adalah kemampuannya sebagai playmaker yang sejatinya tak pernah hilang. Matic memang bukan Andrea Pirlo. Akan tetapi, visinya sama sekali tidak buruk. Jika pada musim lalu Kante bertindak sebagai pemburu bola, maka Matic-lah yang meredistribusi bola itu ke pemain-pemain ofensif Chelsea.

X post embed

Satu hal lain yang membedakan Matic dengan Kante adalah bagaimana mereka melakoni peran sebagai gelandang bertahan. Jika Kante lebih dikenal karena determinasi dan penempatan posisinya, maka Matic sangat, sangat mengandalkan penempatan posisi dan kekuatan fisik.

Kemudian, jangan lupa pula bahwa Matic juga memiliki kemampuan mencetak gol dari luar kotak penalti. Contoh paling mutakhir tentu saja adalah bagaimana dia menggetarkan jala gawang Hugo Lloris di semifinal Piala FA dan membuat Kurt Zouma melongo di bangku cadangan.

Sayang, kisah kasih Matic dan Chelsea jilid kedua ini pun tampaknya bakal segera berakhir. Kedatangan Tiemoue Bakayoko dari Monaco benar-benar mengancam posisi Matic. Bakayoko memang lebih muda, lebih dinamis, dan lebih punya kecepatan dibanding Matic. Untuk manajer seperti Conte, Bakayoko memang lebih ideal.

Kini, Matic tinggal sejengkal lagi dari status sebagai pemain Manchester United dan bereuni dengan Jose Mourinho yang membangkitkan kariernya di Chelsea. Bersama United, talenta pria kelahiran Sabac ini tidak akan tersia-siakan. Pasalnya, kalau ada satu pemain yang benar-benar dibutuhkan United di lini tengah, pemain itu adalah Nemanja Matic.