Kumparan Logo

Fernando Torres dan Segenggam Keberuntungannya

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Torres didoakan lekas sembuh. (Foto: Miguel Vidal/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Torres didoakan lekas sembuh. (Foto: Miguel Vidal/Reuters)

Suasana mendadak berubah menjadi genting. Pemain-pemain berhamburan. Panik memenuhi udara.

Pertandingan Deportivo La Coruna vs Atletico Madrid, Jumat (3/3/2017) dini hari WIB, memasuki menit ke-85 ketika Fernando Torres, yang sedang berusaha menyambut bola, dihantam Alejandro Bergantinos dari belakang. Ia terjatuh dan kepalanya membentur tanah.

Torres terkapar. Tidak bergerak. Ia mengalami cedera di kepalanya.

Ini adalah satu dari sekian banyak nasib nahas yang pernah menghampiri Torres. Pada 2011, ia pindah ke Chelsea dengan nilai transfer 50 juta poundsterling hanya untuk menjadi pesakitan dan bulan-bulanan.

X post embed

Torres di Chelsea adalah Torres yang berbeda. Seolah-olah ada orang asing yang masuk ke dalam kulit dan menyusup ke dalam daging-dagingnya. Orang asing yang mengenakan tubuh bertinggi 186 cm itu lalu bermain di lapangan sebagai Torres.

Tidak ada lagi Torres yang tiap pekan menghantui bek-bek lawan seperti di Liverpool. Torres yang bermain untuk Chelsea adalah Torres yang hanya menjaringkan 20 gol dalam 110 pertandingan di Premier League. Bandingkan dengan ketika di Liverpool, di mana ia mencetak 65 gol dalam 102 pertandingan.

Namun, selalu ada cahaya menyelinap di langit paling mendung sekalipun. Karier Torres bersama Chelsea, di luar jumlah gol yang minim, tidak buruk-buruk amat. Jika urusan sukses adalah soal trofi, simak piala-piala yang didapatnya bersama The Blues: Piala FA 2012, Liga Champions 2012, dan Liga Europa 2013.

Ah, trofi yang satu itu, Liga Champions 2012, kita ingat betul bagaimana Chelsea meraihnya.

Bukan, bukan sekadar perkara menundukkan Bayern Muenchen lewat adu penalti di final, tetapi bagaimana cara mereka sampai ke final. Di babak semifinal, Chelsea menyingkirkan Barcelona-nya Pep Guardiola yang sedang gila-gilanya. Dan gilanya lagi, Torres betul-betul membuat Guardiola tampak bodoh pada pertandingan leg II di Camp Nou.

Barca sudah unggul 2-0 pada laga tersebut, yang artinya juga mereka unggul aggregat 2-1 atas Chelsea. Namun, gol Ramires di ujung babak pertama memberikan Chelsea harapan. Barca terus menggempur hingga akhir, Chelsea bertahan sekuat tenaga.

Lalu, pada menit-menit genting ketika pertandingan hampir habis, Torres menghadirkan keajaiban. Tiba-tiba saja bola lepas dari penguasaan pemain-pemain Barca dan langsung dilambungkan sejauh mungkin ke depan. Barisan pertahanan Barca kosong karena seluruh pemain sudah naik ke depan. Yang tersisa hanya tinggal Torres.

Ia lolos dari jebakan offside karena semua pemain El Barca sudah naik melewati garis tengah lapangan. Torres menerima bola itu, berlari menyusuri setengah lapangan, dan mengecoh kiper Barca, Victor Valdes. Gol. Caretaker Chelsea, Roberto Di Matteo, bersorak di pinggir lapangan, sementara Gary Neville —yang menjadi komentator laga itu— berteriak (atau melenguh panjang?) selayaknya orang orgasme.

video youtube embed

Torres sempat bermain untuk AC Milan —dan tidak sukses— selepas dari Chelsea. Namun, ia terselamatkan ketika Atletico datang menggaetnya. Torres pulang ke rumahnya.

Namun, tidak semuanya berjalan dengan indah bagi Torres di Atletico. Bocah yang dulu amat getol mencetak untuk Atletico itu seolah telah berubah menjadi pria dewasa yang sudah kepalang banyak melihat realitas pahit. Kadang Torres tampil brilian, kadang biasa-biasa saja.

Musim lalu, performa Torres terbilang lumayan, 11 gol ia lesakkan dalam 30 laga di La Liga. Musim ini? Dari 19 kali tampil, baru 5 gol ia cetak. Tidak oke-oke amat.

Jumat dini hari tadi adalah seri terakhir dari kesialan Torres. Tak lama setelah Bergantinos menghajarnya dari belakang, Torres tak sadarkan diri. Pemain-pemain Atletico berusaha membuka mulutnya --supaya lidahnya tak tertelan--, pemain-pemain Deportivo berteriak agak para dokter segera masuk ke lapangan, pelatih Atletico, Diego Simeone, tampak berang dan melakukan protes keras kepada ofisial keempat.

Sebagian pemain lainnya kalut dan panik. Wajah-wajah mereka ditutupi tangan. Sementara Bergantinos hanya memegangi kepalanya, tidak percaya. Torres langsung diangkut ke ambulans dan dibawa ke rumah sakit.

Selayaknya gol ke gawang Barca itu, keberuntungan tidak pernah benar-benar meninggalkan Torres. Malam itu, ia selamat. Tidak ada cedera parah di kepalanya. Malah, ia sempat memberikan ucapan terima kasih kepada mereka yang mendoakannya.

“Terima kasih atas perhatian, pesan-pesan, dan juga dukungannya. Agak sedikit menakutkan, memang, tapi saya berharap bisa kembali secepatnya,” kata Torres.

Ucapan segera lekas sembuh pun berdatangan. Tidak terkecuali dari mantan rekan satu timnya di Chelsea, Didier Drogba.

X post embed

X post embed

X post embed

Animo, El Niño.