Filippo Inzaghi: Saga Tentang Kesatria di Depan Gawang

Dalam sebuah manga berjudul Area no Kishi (Knight in The Area), diceritakan sebuah saga tentang penyerang tajam yang tak segan menusuk gawang lawan. Sekilas, bicara tentang kesatria di depan gawang, nama Filippo Inzaghi adalah nama yang tentu tidak bisa luput dari pembicaraan.
Manga Area no Kishi sendiri merupakan manga gubahan Hiroaki Igano, dibantu oleh seorang ilustrator bernama Kaya Tsukiyama. Cerita di dalam manga ini berpusat kepada seorang anak bernama Aizawa Kakeru, adik kandung dari seorang pesepak bola jenius bernama Aizawa Suguru. Kakeru adalah seorang penyerang tengah, yang dianggap memiliki talenta untuk menjadi 'kesatria' di lini depan Timnas Jepang kelak.
Bicara tentang sosok 'kesatria', manga 'Area no Kishi' memang sukses menggambarkan bagaimana sosok 'kesatria' itu. Sebagaimana para pemain yang memiliki tugas masing-masing di atas lapangan, sosok 'kesatria' adalah pencetak gol ulung bagi timnya. Jika memakai istilah sepak bola, dia adalah pemain dengan peran no. 9, seorang pemain yang lazimnya berposisi sebagai penyerang tengah.
Ada banyak pemain yang biasa mengisi posisi penyerang tengah. Dewasa ini kita mengenal nama-nama seperti Gonzalo Higuain, Romelu Lukaku, Alvaro Morata, Marko Simic, dan Ezechiel N'Douassel sebagai pemain-pemain yang acap mengisi posisi penyerang tengah. Mereka memiliki keunggulan masing-masing yang membuat mereka didapuk sebagai penyerang tengah mumpuni.
Dari sekian banyak nama penyerang tengah yang malang-melintang di dunia sepak bola, ada satu nama penyerang tengah yang acap menjadi sosok yang disukai namun juga dibenci di waktu yang sama. Suporter tidak begitu terkesima melihat gaya mainnya, tapi mereka juga tidak ingin jika dia tidak ada di lapangan.
Dia adalah Filippo Inzaghi, pria kelahiran Piacenza, 44 tahun silam. Dengan segala hal yang biasa darinya, dia menjadi seorang 'kesatria' depan gawang yang begitu disegani pada masanya.
Sekelumit Cerita tentang Inzaghi
Dalam kacamata pesepak bola awam, sulit untuk menyukai sosok Filippo Inzaghi. Dari segi kemampuan mengolah bola, baik itu dribel, tendangan, maupun sundulan bolanya, tak ada yang terlalu menonjol. Semua biasa-biasa saja. Dia tidak seperti Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo yang memiliki kemampuan olah bola yang memukau.
Para manajer klub Eropa pun tak sungkan untuk melontarkan rasa tidak sukanya kepada Inzaghi. Sir Alex Ferguson bilang bahwa Inzaghi sudah lahir offside. Arsene Wenger, Gerard Houllier, dan Marcelo Lippi sama sekali tidak memberikan komentar pada Inzaghi meski dia jadi pahlawan kemenangan Milan atas Liverpool di Athena lewat dua golnya.
Dia adalah sosok yang kejam—kelewat kejam malah—jika sudah berbicara soal gawang lawan. Berbagai cara akan dia lakukan untuk mencetak gol, dan dia tidak akan lelah mencari ruang yang bisa dieksploitasi di lini pertahanan lawan, dalam upaya Inzaghi untuk mencetak gol ke gawang lawan. Inilah yang terkadang bikin pemain bertahan lawan, atau malah manajer lawan, kesal bukan kepalang.
"Mereka bisa memainkan 10 penyerang kalau mau. Namun, yang paling penting, Inzaghi tidak main atau pertandingan akan berjalan sulit," ujar Jose Mourinho jelang laga Real Madrid melawan AC Milan di ajang Liga Champions pada musim 2010/11 silam.
Namun, justru itulah yang bikin dia diingat oleh banyak orang. Naluri pembunuhnya, yang hadir karena analisis tiada henti semalam sebelum laga (Gattuso mengucapkan ini, dilansir FourFourTwo), membuat Inzaghi selalu tahu cara menyengat di saat yang tepat. Meski secara sederhana, tapi memang itulah cara Inzaghi membuat namanya dikenal dunia.
Sampai akhirnya, tak terasa dia sudah mencetak 275 gol sepanjang 603 pertandingan yang dia jalani selama karier sepak bolanya, dengan rincian gol terbanyak ketika dia membela AC Milan (126 gol) dan Juventus (89 gol). Dengan catatannya ini, maka tak heran Inzaghi kerap dikaitkan sebagai pemain andalan Juventus atau AC Milan.
Namun, sebenarnya di manakah Inzaghi, tepatnya, bisa disebut sebagai legenda? Di manakah naluri 'kesatria' depan gawangnya terasah?
Antara Juventus dan AC Milan: Di Manakah Inzaghi Bersinar Terang?
Juventus dan AC Milan menjadi dua klub tempat Inzaghi paling banyak menorehkan gol, ketika di Piacenza, Hellas Verona, Atalanta, dan Parma, dia tidak begitu banyak menorehkan gol. Maka, menjadi menarik untuk menelisik kisah Inzaghi bersama Juventus dan AC Milan.
Musim 1997/98 menjadi awal dari kisah Inzaghi bersama Juventus. Didatangkan dari Atalanta, dia langsung menjadi andalan di lini depan Juventus. Dia menorehkan 18 gol di musim tersebut, menjadi pencetak gol terbanyak Juventus sekaligus mengantarkan Bianconeri menjuarai Serie A musim 2017/18.
Namun, setelah itu, hubungan Inzaghi dan Juventus kian memburuk. Pertikaian yang acap terjadi antara dirinya dan Alessandro Del Piero, serta kedatangan David Trezeguet pada awal musim 2001/02 akhirnya membuat Inzaghi memutuskan pindah ke AC Milan. Di San Siro inilah, bakat Inzaghi sebagai pencetak gol semakin terasah.
Selain 126 gol yang sukses disumbangkan pemain berjuluk Super Pippo tersebut, berbagai gelar prestisius macam Serie A, Coppa Italia, Supercoppa Italiana, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub sukses disumbangkan Inzaghi untuk Milan. Selama masa bermain di Milan ini pula, dia menjadi semakin dikenal oleh publik sepak bola Italia dan dunia.
Bukti cintanya kepada Milan ini pun ditunjukkan dengan dirinya yang menjadi pelatih tim Primavera Milan selepas dia pensiun. Dia juga sempat menjadi pelatih Milan senior, sebelum akhirnya gagal dan akhirnya menjadi pelatih Venezia.
Sedangkan di Juventus, meski dia mencatatkan prestasi apik di masa-masa usia emasnya, dia pada akhirnya menjadi pemain yang dianggap pengkhianat. Masalah yang dia alami juga membuat Juventus tidak terlalu mengenang dirinya.
***
Memang masa kejayaan penyerang bergaya main seperti Inzaghi sudah usai. Perkembangan taktik yang membuat sepak bola menjadi semakin cepat membuat Inzaghi tergerus, sampai akhirnya dia memutuskan pensiun dari dunia sepak bola pada 2012 silam.
Namun, selayak Messi atau Ronaldo, dia adalah penyerang yang mewakili sebuah era. Pada masa ketika sepak bola adalah tentang keindahan dan umpan-umpan matang, Inzaghi muncul dan menjadi sebuah legenda, mewujud salah satu 'kesatria' yang cukup diingat di masanya.
Lalu, menyoal tempatnya kembali, AC Milan tampaknya adalah tim yang jadi pelabuhan paling pas bagi dirinya. Tempatnya bermain dalam waktu yang lama dan menahbiskan dirinya sebagai pemain ternama. Legendanya ini akan menghiasi kembali laga Juventus lawan AC Milan, yang akan digelar pada Minggu (1/4/2018) dini hari di Stadion Allianz.
====
*Anda bisa menyaksikan laga Juventus lawan AC Milan, Minggu (1/4/2018) dini hari WIB, secara gratis di kanal SuperSoccer x kumparan. Nantikan juga Kumparan Giveaway dan hadiah menarik dari kami.
