Kumparan Logo

Filosofi Tinju dalam Diri Nicolas Otamendi

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Otamendi merayakan gol kemenangan. (Foto: Reuters/Darren Staples)
zoom-in-whitePerbesar
Otamendi merayakan gol kemenangan. (Foto: Reuters/Darren Staples)

"Saya adalah seorang pemain yang tak akan segan berjuang untuk mendapatkan bola. Saya akan mencoba sekeras mungkin untuk merebut bola dari lawan. Itu adalah hal dasar yang harus dilakukan seorang bek."

Kutipan di atas adalah ucapan Nicolas Otamendi ketika dia pertama kali didatangkan oleh Manchester City dari Valencia pada musim 2015/2016 silam. Sebuah janji yang tampak gahar, namun jika Anda mengenal Otamendi sedikit lebih dalam, ucapannya di atas akan tampak terdengar biasa-biasa saja.

Perjalanan Otamendi di kancah sepak bola Eropa sudah berlangsung cukup lama. Pemain yang belajar menyepak bola secara profesional di Velez Sarsfield ini memulai kariernya di Eropa dengan membela FC Porto. Meski sempat mengalami masa peminjaman di Atletico Mineiro, perjalanannya di Eropa berjalan cukup mulus.

FC Porto sukses dia antar menjadi juara Liga Portugal, Liga Europa, serta juara Piala Liga Portugal. Bersama Valencia, walau tidak meraih titel juara, permainannya diakui oleh Guillem Balague, pengamat sepak bola Spanyol. Kepindahannya ke Manchester City juga berbuah manis, dengan gelar EFL Cup yang berhasil dia daratkan di Stadion Etihad bagi City.

Seperti yang dia ungkapkan dalam wawancara pertamanya dengan City, sebagai seorang bek dia memiliki filosofi yang cukup sederhana: merebut bola sebisa mungkin dari lawan. Terlepas dari apapun caranya, yang penting bola harus direbut dari lawan, bahkan walau harus bertarung sengit untuk hal tersebut.

Terdengar gahar memang janji dari pemain yang sekarang berusia 29 tahun ini. Tapi jika melihat masa kecil Otamendi, maka ucapannya itu memang sesuai dengan prinsip yang dia pegang.

Prinsip yang terbentuk dari sebuah olahraga bernama tinju.

***

Olahraga tinju, jika dilihat secara sekilas, memang tampak seperti sebuah olahraga yang kasar. Dua orang beradu pukul di atas ring, mengenakan sebuah sarung tangan spesial, dengan babak yang terkadang tidak bisa ditebak kapan selesainya. Tak jarang ada yang terkapar, tak jarang juga ada yang kena penyakit dalam akibat dari seringnya bermain tinju ini.

Namun, Gordon Marino berpikiran lain. Dalam tulisannya di laman The New York Times, dia menyebut bahwa olahraga tinju memiliki filosofinya tersendiri. Mengembangkan pemikiran dari Joyce Carol Oates dan Friedrich Hegel, dia menyebut bahwa dengan bertinju, manusia akan mencapai sebuah tingkatan baru dalam hidupnya.

"Dengan bertinju, akan ada sebuah pengalaman baru yang didapatkan, yaitu pengalaman bertarung. Pengalaman inilah yang mengajarkan petinju tentang kekuatan dan kelemahan dalam diri mereka sendiri," tulis Gordon Marino.

"Kaitannya dengan tinju ini, dia adalah olahraga yang sifatnya mempertaruhkan hidup dan mati. Ketika berada dalam situasi seperti itu, manusia akan mendapatkan sesuatu yang membuatnya merasa lebih bebas dan sadar. Itulah fungsi lain dari olahraga bernama tinju," tambahnya.

Bicara soal tinju, Otamendi adalah sosok yang pernah menekuni olahraga tinju ketika kecil. Otamendi lahir dan tumbuh di sebuah daerah bernama El Talar, sebuah daerah kecil yang masih merupakan bagian dari ibu kota Argentina, Buenos Aires. Sedari kecil, selain bermain sepak bola dia juga kerap bermain tinju dengan sepupunya.

Otamendi saat masih berseragam Porto. (Foto: AFP Photo)
zoom-in-whitePerbesar
Otamendi saat masih berseragam Porto. (Foto: AFP Photo)

Seringnya Otamendi bermain tinju, membuat filosofi dari permainan tinju ini sedikit demi sedikit merasuk ke dalam dirinya. Ketika menerapkannya dalam sepak bola, dia tidak takut sama sekali untuk berebut bola dengan lawan. Malah, dia merasa senang ketika bisa berebut bola dengan lawan, seperti yang dia ungkapkan dalam wawancara pertamanya dengan Manchester City tersebut.

Ketika berebut bola dengan lawan, seperti halnya bertanding tinju, akan ada sesuatu yang didapat oleh orang tersebut. Sebuah perasaan bebas dan lega, serta sebuah pengalaman baru.

Oleh karena itu, tidak heran selama berkarier di Eropa, Otamendi dikenal sebagai bek yang tangguh. Dari berbagai pertarungan yang dia alami dengan berbagai macam penyerang, banyak pengalaman yang dia dapat. Semakin banyak pengalaman, dia semakin paham apa tugas dari bek dan apa yang dia bisa lakukan, sebagaimana tinju yang membuat para pelakunya semakin sadar akan kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri.

"Saya merasa beruntung dapat memberikan penampilan terbaik saya di setiap klub yang saya bela, namun setiap pemain selalu ingin berkembang, menjadi lebih baik lagi. Sekarang saya di (Manchester) City, dan kesempatan itu ada. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," ujar Otamendi ketika pertama kali mendarat di Etihad.

Lalu sekarang apa yang terjadi? Khusus untuk Premier League musim 2017/2018, Otamendi menjadi pemain yang menorehkan rataan intersep per pertandingan tertinggi, yakni 1,9 kali. Dia juga menorehkan rataan sapuan tertinggi per pertandingan, yakni 3,7 kali, serta rataan tekel per pertandingan tertinggi ke-4 di CIty, yakni 1,8 kali.

Filosofi a la petinju itu sudah merasuk dalam diri Otamendi.

Otamendi saat berseragam Valencia. (Foto: JOSE JORDAN / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Otamendi saat berseragam Valencia. (Foto: JOSE JORDAN / AFP)

***

Di akhir tulisannya di laman The New York Times, Gordon menyebut bahwa praktik-praktik dalam olahraga tinju dapat membuat sang petinju itu sendiri tidak hanya menampilkan keberanian, melainkan juga menggunakan keberanian tersebut. Rasa takut yang kerap muncul di atas ring tinju, akan membuat petinju menjadi lebih berani, baik secara pikiran maupun perbuatan.

Itu pula yang dialami oleh Otamendi. Dengan melakoni tinju semasa kecil, pemain Timnas Argentina itu menjadi sosok yang berani dalam pikiran dan perbuatan. Walau mungkin dia banyak mengalami kekerasan dan ketakutan ketika melakoni olahraga tinju ini, setidaknya ada keberanian yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Keberanian yang membuatnya mampu bertahan di tengah kerasnya sepak bola Eropa yang tidak kenal ampun.