Kumparan Logo

Final Liga Champions dan Kontroversi yang Menyelimutinya

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Trofi Liga Champions (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Rebecca Naden)
zoom-in-whitePerbesar
Trofi Liga Champions (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Rebecca Naden)

Kontroversi bagai bumbu dalam sepak bola. Terkadang bisa membuat pertandingan lebih menarik, kadang bisa berakhir sebaliknya jika intensitasnya berlebihan.

Pada fase gugur Liga Champions musim ini, misalnya, saat Real Madrid berhadapan dengan Juventus di babak perempat final, atau saat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan sukses melewati adangan Bayern Muenchen di semifinal. Nah, Untuk memyambut partai final Liga Champions yang mempertemukan Madrid dengan Liverpool, Minggu (27/5/2018) dini hari WIB, ada baiknya mengenang kontroversi yang sudah terjadi partai puncak di edisi-edisi sebelumnya.

Real Madrid vs Fiorentina 1957

Madrid kembali ke partai puncak usai meraih gelar juara di musim sebelumnya, di mana mereka menundukkan Stade Reims. Kali ini, Fiorentina yang jadi lawannya. Kepercayaan Madrid makin melambung karena kebetulan Santiago Bernabeu yang jadi arenanya saat itu. Pertandingan berjalan seimbang pada 45 menit pertama. Hingga akhirnya malapetaka La Viola itu datang di menit 69. Wasit Leo Horn menghadiahi Madrid tendangan penalti usai Enrique Mateos dijatuhkan.

Penalti itu jadi kontroversi. Pasalnya, Mateos lebih dulu terperangkap offside sebelum dilanggar. Lebih parahnya lagi, penyerang yang kemudian hengkang ke Sevilla itu tidak dilanggar di luar kotak penalti. Kabarnya campur tangan Jenderal Franco yang membuat wasit memberikan keputusan-keputusan yang menguntungkan Madrid. Los Blancos pun unggul 2-0, lewat gol Alfredo Di Stefano dari titik putih dan Francisco Gento. Mereka kemudian meraih titel Liga Champions kedua.

video youtube embed

Marseille vs Milan 1993

Olympiastadion, Muenchen, jadi saksi bisu keperkasaan Olympique Marseille atas AC Milan yang dilatih Fabio Capello saat itu. Gol sundulan kepala Basile Boli usai menerima sepak pojok Abedi Pele tak mampu dibalas oleh Marco van Basten dan kawan-kawan. Kemenangan Marseille bersih di malam itu. Hanya saja, campur tangan Bernard Tapie selaku petinggi klub Marseille yang mencoreng torehan cemerlang tersebut.

Enam hari sebelum final, Tapie melakukan kongkalikong dengan Valenciennes. Cara tersebut dilakukannya demi menjaga asa untuk meraih titel Ligue 1, sekaligus mengistirahatkan para pemain pentingnya. Akal bulusnya berjalan sesuai rencana. Marseille akhirnya unggul dengan skor tipis 1-0 lewat gol tunggal Alen Boksic. Namun, Federasi sepak bola Prancis menjatuhi hukuman penjara dua tahun kepada Tapie dan para pemain yang terlibat dalam skandal tersebut. Tak ketinggalan, titel juara Ligue 1 Marseille juga dicabut setelah mereka terbukti bersalah. Namun, tidak untuk titel Liga Champions mereka.

X post embed

Juventus vs Ajax 1996

Pernah berpkir mengapa Juventus selalu gagal dalam empat final Liga Champions terakhirnya? Pertandingan melawan Ajax Amsterdam pada partai puncak edisi 1995/1996 mungkin bisa dijadikan acuan. Saat itu pertandingan kudu dilalui via tendangan penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 di waktu normal. Gol cepat Fabrizio Ravanelli dibalas Jari Litmanen empat menit sebelum turun minum.

Kejanggalan mulai nampak di babak tambahan. Stamina para pemain Juve masih stabil. Hal tersebut dibuktikan dengan tiga tembakan tepat sasaran para penggawa mereka di babak tambahan paruh kedua. Bandingkan dengan torehan Ajax yang nihil. Kejanggalan yang kemudian dirasakan Finidi George, winger legendaris Ajax asal Nigeria tersebut.

“Biasanya pemain bisa melakukan itu mungkin selama 20 menit. Ketika Anda dapat melakukannya selama 90 hingga 120 menit, dan di akhir musim, itu tidak normal," kata Finidi George.

Tuduhan doping para pemain Juve akhirnya terbukti 2004 lalu. Dokter klub Juventus, Riccardo Agricola, dijebloskan ke penjara karena terbukti memasok obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh Gianluca Vialli dan kolega saat itu.

video youtube embed

Leeds United vs Bayern Muenchen 1975

Sebelum Inggris diwakili oleh Liverpool, ada Nottingham Forest, Aston Villa, Arsenal dan, Chelsea, Leeds United yang membawa panji mereka di final Liga Champions. Leeds sukses menyingkirkan klub-klub macam Anderlecht dan Barcelona sebelum akhirnya melangkah ke final. Bayern Muenchen, sang juara bertahan dua musim beruntun, kemudian jadi lawan mereka di partai puncak.

Penampilan ciamik Leeds terbukti di menit-menit awal. Mereka langsung mendominasi jalannya pertandingan dan berulangkali mengancam gawang Sepp Maier. Namun, bukan para penggawa Bayern yang membuat Leeds kalah nantinya, melainkan wasit di laga tersebut, Michel Kitabdjian. Leeds bisa saja mendapatkan tendangan penalti andai wasit asal Prancis itu mengesahkan handball Franz Beckenbauer serta pelanggaran yang dilakukan terhadap Allan Clarke.

Klimaksnya terjadi saat gol Peter Lorimer dianulir Kitabdjian. Ia tak mengesahkan gol tersebut karena menganggap salah satu pemain Leeds berada dalam posisi offside. Padahal, sebelumnya Kitabdijan sudah mengesahkan gol tersebut. Namun, tindakan persuasif para pemain Bayern yang membuatnya berkonsultasi dengan hakim garis dan kemudian berubah pikiran.

Suka tidak suka, keputusan tersebut memengaruhi mental bertanding Leeds. Bayern bahkan dengan mudah menjebol gawang mereka --hanya dalam rentang waktu 10 menit-- Melalui Franz Roth dan Gerd Mueller. Sirna sudah harapan Leeds, sebaliknya Bayern berpesta karena sukses keluar sebagai juara dalam tiga edisi beruntun.

video youtube embed

====

*Final Liga Champions akan dihelat di Stadion NSC Olimpiskiy, Kiev, Minggu (27/5/2018) dini hari WIB. Sepak mula dilakukan pukul 01:45 WIB.