Kumparan Logo

Final Liga Champions: Tentang Gol Indah Zidane ke Gawang Leverkusen

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Zidane tersenyum senang (Foto: Reuters / Juan Medina)
zoom-in-whitePerbesar
Zidane tersenyum senang (Foto: Reuters / Juan Medina)

"Saya mencoba untuk mencetak gol seperti itu lagi, namun tendangan seperti itu tak pernah terjadi lagi. Tidak pernah. Baik di latihan ataupun di pertandingan. Seolah tendangan itu hanya tercipta pada momen istimewa."

Ketika itu, musim 2001/2002. Real Madrid sedang menjalani sebuah musim yang bisa dibilang buruk. Meski sudah menggelontorkan uang banyak untuk mendatangkan beberapa pemain bintang, termasuk Zinedine Zidane, mereka tak kunjung meraih prestasi.

Di ajang La Liga, Madrid gagal bersaing dengan Valencia yang di akhir musim keluar sebagai juara. Di ajang Copa del Rey, Madrid juga gagal bersaing dengan Deportivo La Coruna. Mereka kalah oleh Super Devor di babak final. Dua trofi domestik lepas dari genggaman skuat yang kala itu baru memulai proyek Los Galacticos jilid pertama mereka.

Dengan dua gelar yang sudah lepas dari genggaman, musim tersebut, saat itu, disinyalir akan berakhir menjadi musim yang buruk bagi Madrid. Satu-satunya peluang yang mereka miliki hanya Liga Champions. Di babak final, lawan yang mereka hadapi pun tidaklah mudah. Bayer Leverkusen sedang naik daun saat itu.

Meski dirundung kesulitan di sana-sini, akhirnya Madrid memiliki cara manis untuk mengakhiri musim tersebut dengan sesuatu yang positif. Zinedine Zidane-lah yang menemukan, sekaligus mengguratkan cara manis tersebut.

***

Tanggal 15 Mei 2002. Stadion Hampden Park, Glasgow, dihiasi atmosfer yang begitu ramai. Terang saja, tempat itu menjadi venue dari partai final Liga Champions musim 2001/2002 antara Real Madrid dan Bayer Leverkusen.

Keramaian memang bisa ditangkap di Hampden Park saat itu. Namun, sesuatu yang hadir bukan hanya keramaian saja. Ada tekanan dan tuntutan yang juga hadir di situ. Tuntutan dan tekanan untuk meraih kemenangan. Tuntutan dan tekanan untuk meraih gelar, karena kedua tim memiliki kesulitan yang sama.

Seperti halnya Madrid, Leverkusen juga kehilangan kesempatan untuk meraih dua gelar domestik pada musim tersebut. Di ajang Bundesliga, mereka kalah saing dengan Borussia Dortmund. Sedangkan di ajang DFB Pokal, mereka dikalahkan oleh Schalke 04 di partai final.

Mengusung semangat yang tidak jauh beda, pertandingan antara kedua tim berlangsung cukup seru. Leverkusen yang datang sebagai tim underdog, menantang Madrid dengan sekuat tenaga. Tertinggal sejak awal laga lewat gol Raul Gonzalez di menit 8, lima menit berselang Leverkusen berhasil menyamakan kedudukan lewat sundulan dari Lucio.

Setelah terjadinya dua gol tersebut, pertandingan berjalan semakin seru. Meski berstatus sebagai underdog, Leverkusen tak segan menekan lini pertahanan Madrid. Di sisi lain, Los Blancos bertahan sedemikian rupa, dan hanya sesekali melancarkan serangan. Tekanan dari Leverkusen memang begitu kuat saat itu.

Tendangan voli ZIdane. (Foto: DAMIEN MEYER / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Tendangan voli ZIdane. (Foto: DAMIEN MEYER / AFP)

Hingga akhirnya, momen magis itu terjadi di menit 45. Lewat sebuah skema serangan cepat, Santiago Solari mengirimkan bola kepada Roberto Carlos yang merangsek maju ke depan. Dari sisi kiri, Carlos mengirimkan umpan ke arah kotak penalti. Umpan yang dilepas Carlos ini tidak sebegitu sempurna, karena bola melayang ke atas, dan diprediksi akan jatuh ke tanah dengan cepat.

Namun, tepat di titik jatuhnya bola, berdiri seorang Zidane yang sudah bersiap. Jelang bola jatuh, Zidane mengambil kuda-kuda, lalu mengayunkan kaki kirinya ke arah bola. Bola berputar dengan cepat, lalu melesat masuk ke gawang Leverkusen yang dikawal Hans-Joerg Butt. Madrid unggul 2-1 atas Leverkusen. Zidane baru saja mencetak salah satu gol indah di final Liga Champions.

video youtube embed

Selepas gol itu, Leverkusen berusaha keras mengejar ketertinggalan. Walau sudah berusaha dengan keras, bahkan beberapa kali Butt sampai maju ke depan ketika situasi set-piece, Leverkusen gagal menyamakan kedudukan. Madrid menang, dan sukses meraih gelar Liga Champions kesembilan mereka saat itu.

Madrid, lewat sepakan indah Zidane, sukses mengakhiri musim dengan apik ketika itu. Berbagai pihak yang menjadi saksi terciptanya gol indah tersebut, tidak ketinggalan berkomentar soal gol dari Zidane ini.

"Sebenarnya itu bukanlah serangan yang bagus. Solari melepas umpan panjang kepada Roberto Carlos, yang sukses menerima bola dengan kaki kirinya. Bahkan, saya ragu dia melihat Zizou (Zidane) saat itu. Namun itulah momen ketika keindahan tercipta. Zidane menendang dengan kaki kirinya, dan bola mengarah masuk ke gawang," ujar Steve McManaman, mantan gelandang Madrid.

"Semua berlangsung begitu cepat. Saya tak punya waktu untuk berpikir, tapi saya melihat gol itu dengan baik. Saya melihat kuda-kuda Zidane, dan saya tahu dia akan menendang. Hasilnya luar biasa. Dia menendang dengan kaki kiri, dan bola melayang dengan tinggi. Sebuah bahasa tubuh yang magis," ujar Solari, mantan gelandang Madrid.

"Bagi para penonton ketika itu, itu adalah gol yang cukup apik. Secara teknis, gol itu sulit untuk diciptakan. Hanya seorang Zidane yang bisa membuat gol seperti itu," ujar Klaus Toppmoeller, pelatih Leverkusen ketika itu.

***

Gol yang tercipta pada 15 Mei 2002 tersebut masih dibicarakan sampai saat ini. Selain dibicarakan sebagai salah satu gol terindah yang pernah tercipta di final Liga Champions, gol tersebut juga dianggap sebagai bagaimana caranya mengakhiri musim dengan apik, di tengah segala kesulitan yang ada.

Uniknya, hal yang sama juga terjadi pada musim 2017/2018 ini bagi Real Madrid dan lawannya, Liverpool. Baik itu Madrid maupun Liverpool sudah kehilangan peluang mendapatkan trofi domestik, dan hanya menyisakan Liga Champions sebagai satu-satunya jalan trofi yang tersisa.

Posisi kedua tim juga hampir sama keadaannya seperti 2001/2002 silam. Madrid dianggap sebagai unggulan, dengan status juara bertahan dua kali Liga Champions, sedangkan Liverpool datang sebagai penantang setelah lama tak menginjakkan kaki di partai final Liga Champions.

Maka, dengan posisinya yang sekarang sudah berganti menjadi pelatih kepala Real Madrid, Zidane mestinya sudah paham bagaimana caranya mengakhiri musim dengan indah, karena pada musim 2001/2002 dia sudah pernah melakukannya.

====

*Final Liga Champions akan dihelat di Stadion NSC Olimpiskiy, Kiev, Minggu (27/5/2018) dini hari WIB. Sepak mula dilakukan pukul 01:45 WIB.