Final Piala Dunia 1998: Dua Sundulan Zidane, Satu Trofi untuk Prancis

Gregory Pierrot, dalam tulisannya di Africa as a Country, sempat menyinggung bagaimana beratnya hidup orang-orang sepertinya -- seorang keturunan Afrika -- di Prancis pada era 80-90-an. Semboyan Prancis boleh saja “liberte, egalite, fraternite,” tetapi bukan berarti semua orang Prancis bisa mendapatkan kebebasan, keadilan dan rasa persaudaraan yang merupakan makna dari semboyan itu.
Kata Pierrot, orang-orang sepertinya selalu mendapatkan pengasingan dari kaum konservatif. Bahkan, bendera Prancis tak boleh dikibarkan oleh mereka. Andai nekat mengibarkan tricolore, maka kaum konservatif akan mengamuk dan mencap orang-orang berdarah Afrika ini sebagai pembangkang politik. Jika kaum konvervatif mengamuk, maka publik juga akan mengamuk mengingat suara mereka yang dominan.
Bendera Prancis saat itu hanya bisa dikibarkan di gedung pemerintahan, acara olahraga, dan rapat partai fasis. Itu pun hanya orang yang dipandang kaum konvervatif sebagai warga asli Prancis yang boleh mengibarkannya.
Di sepak bola hal serupa juga terjadi. Pierrot menjelaskan, “orang-orang berkulit hitam dan coklat akan dipuja-puja oleh suporter mereka ketika mereka bermain apik. Namun, ketika mereka bikin kesalahan sekali saja, langsung akan meluncur hujatan bernada rasialis.” Pierrot merupakan suporter FC Metz, salah satu tim yang berkompetisi di Liga Prancis.
Dan situasinya jadi kian rumit, dan untungnya juga membaik, di 1998. Tahun itu dibuka dengan pemimpin Partai Front Nasional, Jean-Marie Le Pen, mengembuskan isu anti-keberagaman di tengah ekonomi Prancis yang sedang suram-suramnya. Le Pen bilang bahwa orang-orang berdarah Afrika dan imigran lainnya hanya beban negara karena kebanyakan dari mereka miskin.
Namun, Le Pen pada akhirnya diam seribu bahasa, sementara Pierrot untuk pertama kalinya bisa merasakan ke-Prancis-annya di 12 Juli 1998. Hari itu di Stade de France, Tim Nasional (Timnas) Prancis mencukur Timnas Brasil dengan skor telak 3-0 di final Piala Dunia 1998.
Skuat Prancis itu diisi dengan pesepak bola dari beragam kultur. Namun, aktor utama di laga final itu adalah sosok berdarah Aljazair yang kepalanya plontos. Dialah Zinedine Zidane.
***
Zidane memula Piala Dunia 1998 dengan begitu buruk. Di laga kedua babak grup, Zizou mendapatkan kartu merah saat Les Bleus menang 4-0 atas Arab Saudi. Sesungguhnya hal itu bisa dihindari: Zidane menginjak pinggul pemain Arab Saudi dengan stud-nya yang tajam. Kartu merah itu membuat Zidane absen di dua laga berikutnya.
Setelah hukumannya dilakoni, sosok yang sempat memperkuat Juventus itu berusaha keras untuk menunjukkan permainan terbaiknya. Beruntung bagi Prancis, permainan terbaik Zidane pada akhirnya terlihat di partai final. Laga itu, disebut rekannya saat itu, Stephane Guivarc’h sebagai panggungnya Zidane.
“Dia terlahir untuk membawa trofi dan kegembiraan untuk masyarakat Prancis. Ketika dia memang sangat dibutuhkan, dia sanggup bawa timnya menuju kejayaan,” ujar sosok yang sepanjang kariernya berposisi sebagai striker itu kepada ESPN.

Zidane bahkan sudah tampak mengancam saat laga final baru berjalan tiga menit. Zidane melakukan operan satu-dua saat menuju kotak penalti Selecao. Saat sudah dekat, dia pun memberikan umpan kepada Guivarc’h yang lepas dari kawalan lawan. Namun, reaksi cepat bek-bek Brasil membuat gol urung terjadi.
Tak begitu lama setelah itu, Zidane kembali menunjukkan maginya. Dalam skema tendangan jarak jauh, dia melancarkan umpan lambung kepada Youri Djorkaeff yang tak terkawal di kotak penalti. Sayang, sundulan sosok yang berkarier sebagai gelandang serang itu mengarah entah ke mana.
Menjelang setengah jam pertandingan berjalan, tepatnya pada menit ke-27, suporter Prancis meneriakkan nama Zidane bersamaan dengan announcer menyebut namanya. Sebab, Zidane berhasil mencetak gol usai menyambut umpan lambung Emmanuel Petit dari skema tendangan sudut dengan sebuah sundulan.
Zidane melompat tinggi menyambut umpan dari kiri pertahanan Brasil. Leonardo berusaha mengalahkannya, tetapi gagal. Bola sundulannya berusaha dijangkau oleh kiper Claudio Taffarel, tetapi gagal juga. 1-0 untuk Prancis.
Lalu, di penguhujung babak pertama, dia mencetak gol dalam skema serupa. Kali ini, ia menerima umpan dari kanan pertahanan 'Tim Samba'. Bola kembali ia sundul ke arah bawah. Bek Brasil, Roberto Carlos, berusaha menghalau, tapi bola justru lewat di sela-sela kakinya. Gol kembali tercipta.
Di babak kedua, Prancis lebih sering diserang oleh Ronaldo dan kolega. Namun, dalam kondisi seperti ini, Zidane tetap sanggup melancarkan dua umpan mematikan.
Pada menit ke-82, dia memberikan umpan yang berujung dengan Christophe Dugarry, yang menggantikan Guivarc’h di menit ke-58, bisa berada dalam kondisi satu lawan satu dengan sang kiper. Dan di menit-menit akhir, Zidane bisa memberikan umpan serupa kepada Petit. Bedanya, Dugarry tidak gol, tapi Petit gol.
Setelah kemenangan 3-0 atas Brasil resmi diraih, semuanya jadi terlihat seperti mimpi yang jadi kenyataan. Zidane melihat orang-orang Prancis, terlepas ras mereka, saling merangkul di tribune penonton. Dan di akhir cerita, Zidane pun melihat trofi Piala Dunia dengan tatapan haru seorang ayah yang baru melihat anaknya.

Ya, memang itulah 'anak' Prancis dan Zidane. Namanya, 'keberagaman'.
