Final Piala Dunia 2006: Pirlo Menjadi Anggur, Italia Menjadi Juara

Di laga final Piala Dunia 2006, Andrea Pirlo membuktikan bahwa anggur yang tepat sanggup membuat masakan Italia yang sederhana jadi bercita rasa juara.
"Saya sudah minum anggur dari dulu, bahkan sejak saya kecil ibu saya menambahkan sedikit anggur pada air bening yang saya minum. Saya suka membaca tentang anggur, memahaminya, dan mencoba anggur dari berbagai wilayah dan merek."
Dalam film dokumenter yang berjudul Ford’s Fascinating World of Football Series, Pirlo berkata demikian. Di film itu ia berkisah tentang persahabatannya yang karib dengan anggur sejak kanak. Pirlo adalah anak pengusaha anggur. Bahkan kini, ia meneruskan bisnis anggur keluarganya, Pratum Coller.
Italia adalah surganya makanan. Kabar baiknya, surga itu berjalan ke seluruh penjuru dunia. Begitu mudah menemukan masakan Italia di negara mana pun, bahkan sampai di Asia yang kalau dipikir-pikir punya ciri khas masakan yang begitu berbeda.
Selain Italia, Prancis juga dikenal sebagai negara yang berkawan karib dengan kuliner. Kata orang-orang, masakan dengan harga selangit khas Prancis itu memang begitu nikmat. Namun, ada perbedaan yang kelewat besar antara masakan Italia dan Prancis.
Bila masakan Prancis kerap berbicara tentang kemewahan, maka masakan Italia adalah tentang kehangatan. Orang-orang Italia tidak membutuhkan koki-koki ternama untuk bisa memasak makanan khas Italia yang lezat. Hidangan Italia tidak lahir di hotel-hotel bintang lima, tapi di rumah-rumah. Ia dimasak dan dikembangkan oleh nenek dan ibu rumah tangga.
Berbicara soal masakan Italia tak bisa jauh-jauh dari sejarah kuliner Roma. Pada awalnya, masakan Roma lebih dikenal sebagai masakan orang miskin atau ‘la povera cucina’ (poor kitchen). Sementara, para bangsawan Roma lebih suka menyantap berbagai daging dari berbagai jenis unggas dan minum anggur.
Lantas, prinsip seperti inilah yang dibawa Italia di bawah asuhan Marcello Lippi ke Piala Dunia 2006. Di Jerman, mereka tampil sebagai orang Italia. Memainkan sepak bola bertahan yang jadi andalan mereka.
Italia menumpuk pemain dan tak mau dipusingkan dengan hasrat menunjukkan permainan cantik. Serupa dengan masakan Italia asli yang punya prinsip yang penting kenyang, Italia turun lapangan dengan mengusung tekad yang penting menang.
Eduardo Galeano dalam bukunya berkata bahwa Piala Dunia 2006 ini miskin imajinasi. Mereka yang bermain baik mengakhiri laga sebagai pecundang, mereka yang bermain supaya sekadar tak kalah malah keluar sebagai juara.
Keberhasilan Prancis masuk ke final Piala Dunia 2006 tidak dilakoni dengan cara yang hangat seperti dapur di rumah orang-orang Italia yang kerap mengepul. Permainan mereka memang cantik, mewah, dan menyenangkan, tapi lahir dari dapur hotel bintang lima yang dingin.
Zinedine Zidane yang renta dan sempat memutuskan untuk gantung sepatu itu tampil sebagai chef yang memimpin kawan-kawannya memasak permainan cantik dan sedap buat dinikmati.
Darmanto Simaepa dalam tulisannya yang berjudul "Hidangan Prancis dan Anggur yang Masih Muda" menyejajarkan taktik Prancis dengan kulinernya. Katanya, masakan Prancis punya ciri yang aneh. Orang-orang Prancis memercayai, masakan yang enak itu adalah makanan yang sanggup mengeluarkan rasa bahan utama.
Bagi koki-koki Prancis, bumbu yang berlebihan justru akan menghilangkan keaslian makanan tersebut. Makanya, tak jarang pula kuliner elite Prancis disajikan dalam kondisi setengah matang. Mereka yang memakannya diajak untuk menikmati seperti apa keaslian bahan utama masakan tersebut.
Otak di balik segala hidangan Prancis itu adalah Raymond Domenech. Lewat rumusan strateginya ia menunjukkan kepada dunia seperti apa para pemain Prancis yang sebenarnya.
Prancis adalah negara yang terbuka pada pembaruan. Orang-orang di dalamnya menolak stagnasi. Seniman, filsuf, dan ilmuwannya gemar menggali sedalam-dalamnya hingga menyentuh batas kemustahilan. Tembok penjara Bastile yang runtuh pada 14 Juli 1789 itu menjadi bukti pertama. Fesyen, arsitektur, dan lukisan-lukisan Prancis itu menjadi bukti berikutnya.
Sifat itu pulalah yang ditunjukkan Prancis di Jerman. Mereka boleh tua, berlatar belakang imigran, dan tampak tak berdaya karena kerap dicemooh sebagai kotoran hitam. Namun, lewat cara mereka mengobrak-abrik pertahanan Spanyol dan mematikan permainan Brasil, orang-orang diingatkan kembali seperti apa Prancis yang sebenarnya.

Sesederhana apa pun masakan Italia, mereka punya anggur yang nikmat yang menjadi penyempurna setiap hidangan. Di skuat Timnas Italia Piala Dunia 2006, Pirlo-lah yang menjadi anggur.
Laga final ini adalah pertarungan pertahanan gerendel bagi Italia. Ketimbang menyerang habis-habisan mereka lebih suka untuk memenuhi kotak penalti dan memotong umpan lawan sesegera mungkin.
Paruh pertama diakhiri dengan skor imbang 1-1. Pada menit ketujuh, Zidane berhasil menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor penalti. Ini menjadi ganjaran paling pantas bagi Italia karena Marco Materazzi menjatuhkan Florent Malouda di kotak terlarang.
Materazzi merengek memprotes wasit. Tapi, Horacio Elizondo, pria Argentina yang memimpin laga itu, bergeming. Hukuman penalti harus diberikan kepada Italia. Zidane mengambil alih laga satu lawan satu.
Sepakan penalti adalah pertaruhan besar. Sepintas, ia terlihat mudah bagi mereka yang mengeksekusi. Namun, mereka yang bertahun-tahun berdiri di depan gawang terbiasa bertarung sendirian. Zidane mengambil risiko itu. Kalau ia tak sanggup membuka keunggulan, ia siap menanggung beban dan cacian dari orang-orang Prancis.
Sepakan penalti itu mengarah lurus, makin lama makin naik hingga menyentuh mistar gawang. Namun, bola tetap menyentuh garis gawang. Italia tersentak, lantas berhasil membalas lewat gol Materazzi di menit 19.
Untuk gol penebusan dosa ini, Materazzi berutang pada Pirlo. Sang anggur Italia mengeksekusi tendangan sudut dengan mantap. Tanpa keraguan, ia melesakkan sepakan yang mengarah tepat di dalam kotak penalti.
Materazzi ada di sana, melompat dan melepaskan satu sundulan yang tak mampu diadang Fabian Barthez. Italia membuktikan bahwa bangunan tembok yang kokoh tak selalu membuatmu payah untuk mencetak gol.
Secara keseluruhan, Prancis yang renta itu tampil lebih menggigit. Di sepanjang laga mereka membukukan 13 tembakan dengan 7 di antaranya mengarah gawang. Sementara, Italia hanya melesakkan 5 tembakan dengan 2 yang mengarah gawang. Orang-orang bilang Italia pengecut, tak berani maju ke garis depan dan terus-terusan berlindung di balik benteng.
Italia juga tak bisa disebut buruk karena mereka berhasil meredam gempuran serangan Prancis. Keputusan Lippi untuk menurunkan pemain-pemain bertahan kelas kakap terbukti jitu. Kecuali sepakan penalti itu, Prancis tak bisa mencetak gol sampai babak tambahan waktu berakhir.
Ketimbang laga-laga sebelumnya, Pirlo lebih adem-ayem di laga final. Kondisi ini dapat dipahami, karena Prancis memang kerap menggempur. Namun, wujud dari predikat sebagai deep-lying playmaker itu muncul di sepanjang turnamen.
Dalam laga semifinal melawan Jerman, misalnya. Ia membuka jalan bagi Fabio Grosso untuk mencetak gol pemecah kebuntuan di menit 119. Bahkan, Pirlo menutup perjalanannya di turnamen itu dengan memanggul gelar arsitek assist terbaik.

Cara terbaik untuk menikmati anggur adalah dengan tidak mabuk-mabukan. Ia diciptakan untuk dinikmati. Disesapi pelan-pelan dan diminum di tempat yang tenang.
Anggur akan menjadi begitu sedap bila dinikmati sendiri sambil merenung, tenggelam dalam pikiran sendiri. Kalau memang harus berbincang, carilah orang yang begitu dekat denganmu. Masuk dalam pembicaraan mendalam tanpa perlu mengumbar kata-kata yang tak perlu.
Di Piala Dunia 2006 ini, Pirlo bukan pasta atau pizza yang mengenyangkan, tapi anggur yang menenangkan rekan-rekannya lewat assist akurat. Percuma bila tim memiliki pemain dengan kemampuan finishing mumpuni, tapi tak punya pemain yang bisa membukakan jalan untuk mencetak gol. Umpannya kepada Materazzi di menit 19 tadi menjadi bukti.
Di laga final yang dihelat di Olympiastadion itu, Italia berpesta. Mereka menenggak anggur demi ketenangan dan memakan sajian asli tanpa kehilangan jati diri.
Namun, serupa acara minum-minum pada umumnya, selalu ada satu orang yang membikin rusuh. Minum berlebihan, berbuat onar, dan mabuk dengan norak. Di kubu Italia, orang itu adalah Materazzi.
Di menit 110, Zidane beralih rupa menjadi banteng yang mengamuk. Ia menghantam Materazzi, menjatuhkannya dengan sekali tandukan ke arah dada. Tanpa jabat tangan, Zidane melengos dan membiarkan Materazzi mengerang menanggung akibat.
Dalam wawancara seusai laga, Zidane menjelaskan bahwa Materazzi menghina ibu dan saudara perempuannya di menit itu. Zidane, anak imigran Aljazair itu, sudah terbiasa untuk bertahan dan melawan sejak kanak.
Wasit berang dan melemparkan Zidane ke liang cemooh panjang. Seharusnya Zidane menerima tepuk tangan dan meninggalkan stadion di akhir laga, lewat pintu gerbang utama. Namun, Zidane keluar dari lapangan saat pertandingan masih berlangsung. Ia berjalan menuju lorong kamar ganti sendirian, enggan melirik kepada trofi juara yang sudah dipajang sejak awal laga.

Sudah 120 menit kedua tim berlarian di lapangan, skor tak juga berubah. Apa boleh buat, pertandingan harus berlanjut ke adu penalti. Di babak penentuan ini, Pirlo kembali menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor pertama Italia dengan piawai.
Keberhasilannya membobol gawang kembali menjadi anggur yang menenangkan. Lewat golnya itu Pirlo ingin berkata, hanya karena mereka tak bisa mencetak lebih dari satu gol di sepanjang laga, bukan berarti mereka tak bisa mencetak gol di adu penalti.
Italia benar-benar berhasil menghancurkan Barthez. Lima eksekutor mereka berhasil melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Malahan, David Trezeguet yang menjadi pesakitan karena sepakan penaltinya membentur mistar gawang yang dikawal Buffon.
Apa boleh bikin, catenaccio tak cuma melahirkan pertandingan yang membosankan, tapi juga trofi Piala Dunia keempat untuk Italia. Pada akhirnya, Azzurri mengangkat cawan anggurnya tinggi-tinggi, lalu meninggalkan Jerman dengan perut yang kenyang gelar.
