kumparan
7 Jul 2019 15:39 WIB

Final Piala Dunia Wanita: Kritik Rapinoe dan Hipokritnya FIFA

Megan Rapinoe bungkam saat pemutaran lagu kebangsaan di laga Piala Dunia Wanita 2019 antara Timnas AS dan Prancis. Foto: Benoit Tessier/Reuters
Beruntunglah atlet-atlet sepak bola pria. Manakala tim negara mereka melaju ke final Piala Dunia, sorot lampu dan panggung utama cuma menjadi milik mereka saja.
ADVERTISEMENT
Lain hal dengan atlet-atlet sepak bola wanita. Semestinya Piala Dunia Wanita adalah pesta besar mereka dan sorot lampu --sebagaimana layaknya sebuah Piala Dunia itu sendiri-- menjadi milik mereka seorang.
Namun, kenyataannya tidak demikian. Final Piala Dunia Wanita, yang akan berlangsung Minggu (7/7/2019) malam pukul 22:00 WIB, berbarengan dengan digelarnya final Copa America (Brasil vs Peru), Senin (8/7) dini hari pukul 03:00 WIB, dan Piala Emas (Meksiko vs AS), Senin (8/7) pagi pukul 08:00 WIB.
Boleh jadi, perhatian mereka yang menikmati tontonan sepak bola bakal terbagi. Kemewahan seperti Paul Pogba dan Ivan Rakitic, di mana duel tim mereka, Prancis vs Kroasia di final Piala Dunia, tidak terbagi tontonan lain tidak akan dialami pemain-pemain Amerika Serikat (AS) dan Belanda, yang bermain di final Piala Dunia Wanita.
ADVERTISEMENT
Ketika menulis 'Piala Dunia Wanita dan Jalan Rumit Mewujudkan Kesetaraan', jurnalis kumparanBOLA, Marini Saragih, menggarisbawahi kejanggalan ini. Ia menuliskan kutipan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang menyebut bahwa Piala Dunia Wanita ini "bakal menyebar seperti virus" dan "merayakan keberadaan sepak bola wanita".
Namun, dengan berlangsungnya final Piala Dunia Wanita bersamaan dengan final turnamen lainnya --dan ironisnya, kedua turnamen itu adalah permainan sepak bola pria--, ucapan tersebut hanya bikin Infantino dan FIFA jadi hipokrit.
Kapten Timnas AS, Megan Rapinoe, kesal dengan hal tersebut. Pemain berusia 33 tahun itu menggunakan konferensi pers sebelum pertandingan sebagai kesempatan untuk menunjukkan ketimpangan tersebut.
"Menempatkan seluruh pertandingan pada hari yang sama adalah ide buruk. Ini adalah final Piala Dunia, hari di mana agenda-agenda lain dibatalkan. Padahal jadwal final Piala Dunia sudah ditentukan duluan. Luar biasa," kata Rapinoe seperti dilansir BBC."
ADVERTISEMENT
"Jadi, tidak, saya tidak merasa bahwa kami diperlakukan dengan rasa hormat yang sama, seperti halnya sikap FIFA pada sepak bola pria dan pria pada umumnya," lanjutnya.
Meski begitu, FIFA membantah sudah bertindak tidak adil. Menurut mereka, jadwal pertandingan final ketiga turnamen tersebut sudah dibicarakan dengan berbagai pihak.
"Jadwal pertandingan dari beberapa turnamen berbeda sudah melalui proses konsultasi yang komprehensif. Konsultasi tersebut melibatkan semua pemangku kepentingan dan sudah mempertimbangkan beragam aspek, baik untuk kalender pertandingan sepak bola wanita dan pria," demikian menurut juru bicara federasi sepak bola dunia itu.
"FIFA dan pihak Konfederasi sudah mendiskusikan pertandingan-pertandingan tersebut secara umum untuk meminimalisir bentrokan waktu," lanjutnya.
Ini bukan pertama kalinya sepak bola wanita, yang sedang memperjuangkan kesetaraan, mendapatkan batu sandungan. Padahal, hype sepak bola wanita sendiri sedang tinggi-tingginya.
ADVERTISEMENT
Baru-baru ini Nike melansir bahwa jersi Timnas Wanita AS laris bak kacang goreng. Dibandingkan dengan 2015 lalu, saat ini jersi yang dikenakan Rapinoe dan rekan-rekan terjual lima kali lipat lebih banyak.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan