Football Rant: Penting Nggak, Sih, Sejarah untuk Jadi Tim Besar?

Awalnya, semua tampak baik-baik saja untuk Paris Saint-Germain (PSG). Kalah satu kali tidak apa-apa, toh sepanjang fase grup mereka mampu menunjukkan superioritas: menang lima kali, mencetak 25 gol, dan hanya kebobolan empat gol. Mestinya, ini jadi musim yang lebih baik buat mereka.
PSG, bagi mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan Liga Champions, adalah anak bawang. Jangankan dibandingkan dengan Real Madrid yang mengoleksi 12 gelar, oleh Olympique Marseille saja mereka kalah. Dalam lembar cerita Marseille, klub dari kota pelabuhan ini sudah mendapatkan satu trofi Liga Champions —pada 1993, meski di musim tersebut mereka tersandung skandal pengaturan skor—, sementara PSG belum pernah.
Les Parisiens memang tidak punya tradisi panjang di Liga Champions (dulu European Cup). Mereka tidak pernah benar-benar menjadi tim raksasa di Eropa sampai kemudian mendapatkan guyuran uang dari Qatar. Banjir fulus itu membuat mereka berani mendatangkan pemain-pemain mahal kelas satu. Ambisi besar pun dipatok.
Kenyataannya, mendatangkan gelar juara tak semudah menggelontorkan uang. Well, PSG memang digdaya di Prancis. Namun, demi mendapatkan status ‘elite’ dan menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar ‘orang kaya baru’, trofi Liga Champions harus didapatkan.
Ketika Neymar dan Dani Alves berhasil didaratkan pada awal musim 2017/2018, PSG memang tampak tidak main-main dengan ambisi itu. Mereka melaju kencang di fase grup, meskipun di dalamnya ada Bayern Muenchen yang notabene lebih berpengalaman di Liga Champions.
Catatan impresif di fase grup itu membuat mereka lolos ke babak 16 besar dengan status juara grup. Pada beberapa kesempatan, menjadi juara grup bisa berarti satu hal: mendapatkan lawan yang lebih enteng di fase grup, yakni runner-up dari penghuni grup lainnya.
Apes buat PSG, mereka malah bertemu Madrid, yang (secara mengejutkan) dikangkangi oleh Tottenham Hotspur dan hanya mampu menjadi runner-up Grup H. PSG boleh optimistis dan merasa lebih kuat dari sebelum-sebelumnya, tetapi ini Madrid… bukan klub sembarangan.

Hasilnya, yah… Anda bisa lihat sendiri. Madrid yang sedang terseok-seok di La Liga itu masih bisa menyingkirkan PSG dengan agregat 5-2. Kehadiran Neymar sekalipun tidak mampu menghindarkan PSG dari kekalahan 1-3 di kandang Madrid. Inilah nasib: mimpi diberangus mereka yang jauh lebih mapan.
PSG boleh kaya. Mereka juga boleh menyandang status ‘tim kuat’ kini. Namun, menyandang status ‘tim besar’ adalah perkara berbeda. Dibutuhkan rentang yang lebih panjang untuk menyusun sebuah tradisi sampai mereka benar-benar dianggap ‘tim besar’.
Di Football Rant episode 22 ini, saya dan Yusuf Arifin membahas hal itu, tentang bagaimana sejarah dan tradisi kuat ternyata masih bisa memberikan kekuatan sebuah tim untuk terus melaju. Bagi PSG, masa menjadi ‘tim besar’ memang belum datang. Namun, bertahun-tahun lagi, siapa yang tahu?
Lalu, bagaimana dengan peserta Liga Champions lain yang ‘kaya mendadak’ seperti, misalnya, Manchester City? Simak pembahasan kami.
