kumparan
8 Oktober 2019 18:57

Garuda Select II: Alfriyanto Nico Tak Ingin Bahasa Menjadi Masalah

Salah satu pemain Garuda Select II, Afriyanto Nico
Salah satu pemain Garuda Select II, Alfriyanto Nico. Foto: Angga Putra/kumparan
Perkenalkan, namanya Alfriyanto Nico Saputro. Penyerang 16 tahun asal Solo.
ADVERTISEMENT
Kemampuan yang ia miliki mengantarkannya terpilih sebagai satu dari 24 pemain yang mengikuti program Garuda Select II. Inggris kembali menjadi tempat utama pemusatan latihan garapan PSSI bersama Super Soccer dan Mola TV tersebut.
Dengan begitu, terang saja Nico--sapaan akrabnya--mesti menguasai dasar-dasar bahasa Inggris. Yang jadi soal, ia belum fasih. Ia bahkan tampak malu-malu saat kumparanBOLA memintanya untuk bercakap sedikit dengan bahasa tersebut.
Nico tak ingin ambil pusing. Ia datang ke Inggris untuk menjadi pesepak bola andal dan karena itu, ia tak ingin bahasa menjadi penghambat.
Lagi pula, ia dan para pemain lain akan dibantu penerjemah selama di Inggris. Begitu cerita Nico saat ditemui usai acara pelepasan Garuda Select II di Kantor Kedubes Inggris, Jakarta, Selasa (8/10/2019) sore WIB.
ADVERTISEMENT
"Saya sudah belajar bahasa Inggris sama beberapa teman. Cuma sampai sekarang belum terlalu bagus. Lagian di sini juga ada yang bantu translate, hehe," jelasnya kepada kumparanBOLA.
Nico menyebut bahwa kehadiran penerjemah kelak bakal sangat memudahkan ia dan rekan-rekannya. Namun, itu cuma buat sesaat.
Suatu waktu ketika berkarier di luar negeri, tentu ia tidak dapat mengandalkan penerjemah terus menerus. Berangkat dari situ, ia akan tetap mendalami bahasa Inggris selama latihan.
"Selama di sana pasti akan belajar bahasa Inggris. Kami juga enggak bisa pakai penerjemah terus," ucapnya.
Pada akhirnya, Nico amat yakin bahwa ia bakal berkembang selama di Inggris nanti. Selain bahasa, ia sudah mendapat banyak masukan soal cara untuk beradaptasi di sana, termasuk menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin.
ADVERTISEMENT
"Intinya kami sudah ada yang ngajarin gimana cara buat adaptasi. Selain bahasa, makanan juga. Cuaca di Inggris 'kan juga beda. Nah, kami diajar buat nyiapin apa saja. Di sana 'kan beda jauh. Jauh lebih dingin," ujar Nico.
Inggris berjarak amat jauh dengan Indonesia. Kira-kira sekitar 11.842 kilometer sehingga Nico tak bisa ujug-ujug pulang sesukanya.
Kondisi itu mungkin memang menyebalkan. Namun, jika ini adalah salah satu 'harga' yang harus dibayar untuk menjadi pesepak bola hebat di masa depan, kenapa tidak?
"Kalau dipikir-pikir memang jauh, tetapi kesempatan ini harus diambil. Saya harus berjuang dan enggak boleh putus asa dan malah kepikiran pengin pulang," katanya.
"Yang penting saya di sana main bola. Harus percaya diri saja," tutup Nico.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan