kumparan
16 September 2019 15:28

Guardiola Bukan 'Fraudiola'

Facepalm Guardiola saat City dibekap Norwich. Foto: Reuters/Chris Radburn
Ada 'Guardiola', ada pula 'Fraudiola'. 'Guardiola' adalah seorang pelatih hebat yang merevolusi sepak bola modern dan telah mengumpulkan banyak trofi bergengsi. Sedangkan, 'Fraudiola' adalah pelatih yang cuma bisa jadi juara dengan bermodalkan pemain-pemain bagus.
ADVERTISEMENT
Dua sisi itu ada dalam sosok Josep 'Pep' Guardiola. Tentunya, keduanya hanyalah persepsi publik. Ada yang melihat bahwa Guardiola benar-benar sosok pelatih hebat. Soal ini, buktinya sudah banyak. Tengok saja perkembangan Leo Messi dan Raheem Sterling.
Namun, ide bahwa Guardiola cuma seorang 'penipu' juga punya dasar kuat. Sepanjang berkarier, dia cuma pernah melatih tim-tim besar dengan sumber daya melimpah. Sudah begitu, setelah pergi dari Barcelona, dia belum bisa lagi membawa tim asuhannya menjuarai Liga Champions.
Apa yang terjadi di Manchester City bisa jadi contoh bagaimana Guardiola pantas disebut sebagai 'penipu'. Di musim perdananya dia tak mampu berbuat banyak. Bahkan, saking frustrasinya, pria yang pernah menyebut Catalunya sebagai 'negaranya' itu sempat ingin segera pensiun dari sepak bola.
ADVERTISEMENT
Namun, pada musim kedua segalanya berubah. City belanja gila-gilaan dan berubah jadi kekuatan dahsyat. Sejak itu City jadi kekuatan yang sulit sekali distop di Premier League. Guardiola pun tak pernah lagi mengeluh karena dia sudah mendapat apa yang dia inginkan.
Ketidakmampuan Guardiola memenangi sesuatu bersama tim lemah itu adalah awal mula kemunculan terminologi 'Fraudiola' tadi. Namun, kini maknanya sudah meluas. Setiap kali Guardiola gagal melakukan sesuatu, orang-orang akan dengan mudah menempelkan cap itu ke jidat botaknya. Contohnya, ketika Manchester City dikalahkan Norwich City akhir pekan lalu.
Laga itu bagaikan pertarungan Daud melawan Jalut dan, seperti apa yang tertera di kitab-kitab Abrahamik, Daud keluar sebagai pemenang. Dipimpin striker Finlandia, Teemu Pukki, Norwich menang 3-2 di Carrow Road. Dengan kekalahan itu, City tertinggal lima poin dari pemuncak klasemen, Liverpool.
ADVERTISEMENT
Seusai pertandingan, Guardiola kembali bertingkah. Salah satunya adalah bilamana dia mengucapkan selamat kepada Liverpool 'atas keberhasilan menjuarai Premier League'. Ini adalah ciri khas Guardiola. Sikap pasif-agresif seperti ini.
Meski demikian, Guardiola sendiri enggan menyalahkan siapa-siapa, wabil khususnya para pemain City. Kata sosok berumur 48 tahun itu, pemain-pemain City saat ini telah berjasa mengenyahkan stigma 'Fraudiola' dari dirinya. "Mereka memberiku prestise di Inggris setelah pada musim pertama aku disebut Fraud Guardiola, Fraudiola," katanya.
"Pertandingan seperti [melawan Norwich] ini mustahil dimainkan karena kami kudu membuat banyak tekel. Para pemainku tidak bersalah dan mereka sudah berjasa besar kepadaku. Banyak orang bilang aku pelatih bagus, tetapi sesungguhnya para pemainlah yang hebat," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Dalam laga melawan Norwich itu banyak kesalahan dibuat pemain City. Namun, menurut Guardiola, kesalahan-kesalahan itu lahir karena dia salah menerapkan taktik.
"Kami kurang tajam di depan dan melakukan kesalahan-kesalahan individual tetapi itu salahku. Terkadang, hal macam itu terjadi dan aku tidak perlu bilang kepada mereka salahnya di mana. Sekarang, para pemain paham bahwa harus berbenah," ujar Guardiola.
Well, sampai di mana pembenahan itu berhasil dilakukan para pemain City akan terlihat pada pertandingan Liga Champions tengah pekan ini. Di laga matchday I fase grup City akan bertolak ke Ukraina untuk menghadapi Shakhtar Donetsk. Setelah itu, pada akhir pekan nanti, mereka akan menjamu Watford di Etihad Stadium.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan