kumparan
9 September 2018 4:56

Hector Bellerin dan Musuh Bernama Homofobia

Hector Bellerin tak menyukai ArsenalFanTV. (Foto: Dok. Hector Bellerin)
Hector Bellerin bukan pesepak bola biasa. Pertama, jelas dia punya kualitas yang membuat dirinya bisa menjadi andalan di klub seperti Arsenal. Selain itu, Bellerin juga punya kegiatan ekstrakurikuler yang cukup padat di luar lapangan.
ADVERTISEMENT
Jika sedang tak berlari-lari di lapangan hijau, Bellerin menghabiskan waktunya di dunia mode. Gaya berpakaian dan gaya rambut yang dia tampilkan pun kerap menjadi sorotan.
Sayangnya, tak semua orang menyukai apa yang ditampilkan Bellerin. Rio Ferdinand, misalnya, pernah secara terbuka mengejek gaya berpakaian Bellerin dengan mengunggah foto suntingan di akun Twitter-nya. Namun, bagi Bellerin itu bukan masalah.
Yang kemudian membuat Bellerin merasa sakit hati adalah hinaan bernada homofobia yang diterimanya dari orang-orang. Hinaan itu didapat Bellerin karena rambut panjangnya yang kerapkali dibiarkan terurai ketika dirinya sedang tak bermain sepak bola.
"Seringkali aku menerima hinaan di dunia maya, tetapi terkadang di stadion pun aku mendengarnya. Mereka memanggilku 'lesbian' karena aku memanjangkan rambut," ungkap Bellerin dalam wawancara eksklusif dengan The Times.
ADVERTISEMENT
"Selain itu ada lagi hinaan bernada homofobia yang kuterima. Sebenarnya, selama ini aku sudah belajar untuk tak memedulikan itu, tetapi biar bagaimana pun itu semua berpengaruh padaku. Ada masa-masa di mana aku jadi meragukan diri sendiri," lanjutnya.
Bagi Bellerin, apa yang dialaminya ini adalah imbas dari adanya sebuah ide tentang bagaimana seorang pesepak bola seharusnya terlihat. Mereka yang menyimpang, sudah pasti akan dijadikan olok-olokan.
"Ada tekanan untuk menjadi sama dengan yang lain. Kupikir ini sangat berbahaya. Di dalam hidup, semua orang berhak untuk berekspresi karena hanya dengan begitulah mereka bisa jadi lebih bahagia," kata pemain 23 tahun tersebut.
Raheem Sterling diapit oleh Hector Bellerin dan Matteo Guendozi (paling kanan) di laga Arsenal vs Manchester City. (Foto: John Sibley/Reuters)
Bellerin kemudian berbicara soal prospek keberadaan pemain gay di sepak bola. Menurutnya, di olahraga lain menjadi seorang gay lebih bisa diterima.
ADVERTISEMENT
"Tidak mungkin menjadi seorang gay di sepak bola karena beberapa fans memang belum siap. Ketika itu terjadi di rugbi, di mana pemain Wales [Gareth Thomas] menyatakan diri sebagai seorang gay, orang-orang bisa menerima itu dan menghormati keputusannya," ucap Bellerin.
"Di sepak bola kulturnya berbeda. Hinaan yang diterima bisa jadi sangat personal, sangat menyakitkan, terutama untuk pemain lawan," tutupnya.
Saat ini, di Premier League tidak ada sama sekali pesepak bola yang mengaku gay secara terang-terangan. Akan tetapi, pada musim 2010/11 dan 2012/13 dulu pernah ada seorang pemain gay yang berlaga di liga tersebut, yakni Thomas Hitzlsperger. Namun, Hitzlsperger sendiri baru mengaku sebagai gay setelah pensiun, tepatnya pada 2014.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan