Kumparan Logo

Hikayat Final-final Antartim Senegara di Liga Champions

kumparanBOLAverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Real Madrid pada laga melawan Atletico Madrid. Foto: Reuters/Sergio Perez
zoom-in-whitePerbesar
Real Madrid pada laga melawan Atletico Madrid. Foto: Reuters/Sergio Perez

Final Liga Champions musim 2018/2019 akan menghadirkan pertemuan antara dua tim yang berasal dari negara yang sama. Ya, dua tim dari Inggris, Liverpool dan Tottenham Hotspur—secara mengejutkan—sukses mengunci tempat di partai final.

Sejak Liga Champions (dulu bernama European Cup) pertama kali diadakan di musim 1955/1956, pertemuan Liverpool dan Spurs menjadi edisi keenam final Liga Champions antara dua tim senegara. Dengan kata lain, sepanjang sejarah Liga Champions, sudah lima kali partai finalnya mempertemukan dua tim yang berasal dari negara (dan liga) yang sama.

Menariknya, pertemuan dua tim senegara di laga final Liga Champions baru terjadi di musim 1999/2000, 44 tahun setelah Liga Champions pertama kali diadakan. Setelah itu, tren perjumpaan dua tim dari negara yang sama di babak final Liga Champions meningkat.

Kendati begitu, tercatat hanya tiga negara saja, Spanyol, Jerman, dan tentunya, Inggris, yang pernah mengirimkan dua wakilnya hingga babak final. Selain itu, dalam lima pertemuan ini, tak melulu tim yang berjaya di liga domestik keluar menjadi pemenang.

Lantas, tim apa sajakah yang ikut partisipasi dalam lima pertemuan tersebut, dan bagaimana hasilnya? kumparanBOLA telah merangkum info dan fakta dari masing-masing lima pertemuan tersebut di bawah ini.

Real Madrid vs Valencia (1999/2000)

Pertandingan final Liga Champions musim 1999/2000 antara Real Madrid dan Valencia. Foto: PATRICK HERTZOG / AFP

Spanyol menjadi negara pertama yang sukses mengirimkan dua wakilnya di final Liga Champions. Adalah Real Madrid dan Valencia yang sukses mengharumkan Negeri Matador dengan mencatatkan prestasi bersejarah ini.

Menariknya, partai final Liga Champions musim 1999/2000 ini nyaris menghadirkan gelaran El Clasico, laga derbi antara Madrid dan Barcelona. Namun, Barcelona mesti takluk di tangan Valencia di babak semifinal.

Untuk laga finalnya sendiri, Madrid sukses keluar sebagai pemenang dengan skor yang cukup meyakinkan, 3-0. Gol-gol dari Fernando Morientes, Steve McManaman, dan Raul Gonzalez tak mampu dibalas sebiji pun oleh Gaizka Mendieta dkk.

Jika bermain di era sekarang, hasil yang didapatkan Madrid itu kemungkinan besar terasa (sangat) normal.

Namun, saat itu, kemenangan Madrid dengan perbedaan skor yang cukup jauh itu terbilang cukup mengejutkan. Pasalnya, Valencia, di musim itu, terbilang superior atas Madrid. Dalam dua pertemuan di La Liga, Los Che sukses meraih satu kemenangan dan satu imbang saat bersua Madrid. Di akhir musim, posisi Valencia (3) juga lebih tinggi ketimbang Madrid (5).

AC Milan vs Juventus (2002/2003)

Pertandingan final Liga Champions musim 2002/2003 antara AC Milan dan Juventus mesti berakhir lewat babak adu penalti. Foto: ADRIAN DENNIS / AFP

Hanya berselang tiga musim, final Liga Champions kembali menghadirkan pertemuan antara dua tim senegara. Kali ini, Italia-lah yang mengirimkan dua wakilnya, AC Milan dan Juventus, ke babak final.

Bertanding di Old Trafford, dua tim ini sukses membawa pertandingan ala Italia ke Inggris. Dengan pertahanan yang sama-sama tangguh, tak ada satupun dari kedua tim ini yang sukses mencetak gol, baik di waktu normal maupun di perpanjangan waktu.

Pada akhirnya, duel Milan dan Juventus ini mesti ditentukan lewat babak adu penalti. Milan keluar sebagai pemenang setelah Andriy Shevchenko menaklukkan Gianluigi Buffon dan membuat skor di adu penalti menjadi 3-2.

Kejayaan di final Liga Champions ini membuat Milan mampu membalas dendam terhadap Juventus, yang sukses menjuarai Serie A di musim tersebut.

Manchester United vs Chelsea (2007/2008)

Kapten Chelsea, John Terry terpeleset kala mengeksekusi penalti di partai final Liga Champions 2007/2008 melawan Manchester United. Foto: FRANCK FIFE / AFP

Di Liga Champions musim 2007/2008, Inggris berhasil mengirimkan dua wakil terbaiknya, Manchester United dan Chelsea, ke partai final. Ya, United dan Chelsea memang menjadi yang terbaik di Inggris kala itu karena dua tim ini adalah penghuni klasemen teratas Premier League secara berurutan.

Sebagai dua tim terbaik, tak mengherankan apabila United dan Chelsea menghadirkan pertarungan yang seru dan penuh drama di laga ini. Gol yang dicetak Cristiano Ronaldo dan Frank Lampard memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Di perpanjangan waktu, tak ada gol tercipta, dan Chelsea mesti bermain dengan 10 orang setelah Didier Drogba diusir wasit karena menampar Nemanja Vidic.

Namun, drama terbesar terjadi di babak adu penalti. Maju sebagai penendang penalti yang dapat menentukan kemenangan timnya, kapten Chelsea, John Terry, malah gagal total. Terry terpeleset, dan tendangannya melambung jauh. Nasib Terry semakin tragis setelah United sukses keluar sebagai pemenang di laga ini, sekaligus melengkapi double mereka di musim itu.

Real Madrid vs Atletico Madrid (2013/2014)

Real Madrid berpesta seusai mengalahkan Atletico Madrid di final Liga Champions musim 2013/2014. Foto: GERARD JULIEN / AFP

Final Liga Champions musim 2013/2014 terbilang bersejarah. Pasalnya, final kali itu tak hanya mempertemukan dua tim senegara, tetapi yang juga berasal dari kota yang sama.

Dua tim terbaik dari kota Madrid, Atletico dan Real, saling bertemu di Estadio da Luz, Portugal, untuk memperebutkan trofi tertinggi di level Eropa. Di musim itu, Atletico tentu berambisi untuk mengakhiri musim dengan sempurna setelah sukses menjuarai La Liga. Sayang, akhir musim mereka justru anti-klimaks.

Kendati inferior dari Atletico di liga domestik, Madrid mampu membuktikan reputasi mereka sebagai yang terbaik di Liga Champions. Rival sekota mereka itu digasak dengan skor telak, 4-1. Hebatnya, dominasi Madrid di laga final itu baru dimulai di menit ke-90.

Ya, Madrid baru membobol gawang Atletico, sekaligus menggagalkan kemenangan lawannya, lewat gol di injury time babak kedua waktu normal. Adalah Sergio Ramos, yang menjadi pencetak gol krusial itu lewat sundulannya.

Di babak perpanjangan waktu, Madrid mampu mencetak tiga gol ke gawang Thibaut Courtois lewat kaki Gareth Bale, Cristiano Ronaldo, dan Marcelo. Pada akhirnya, Madrid sukses memenangi trofi Liga Champions kesepuluhnya.

Real Madrid vs Atletico Madrid (2015/2016)

Tendangan penalti Antoine Griezmann yang gagal di final Liga Champions 2015/2016 melawan Real Madrid. Foto: TIZIANA FABI / AFP

Dua musim setelah Da Luz, Atletico memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam mereka terhadap Madrid. Ya, dua tim raksasa La Liga ini kembali bertemu di final Liga Champions, tepatnya di final Liga Champions musim 2015/2016 yang dihelat di San Siro, Italia.

Sayang, misi balas dendam Atletico mesti berakhir pahit. Untuk yang kedua kalinya, Los Colchoneros mesti takluk di tangan rival sekotanya di babak pemungkas Liga Champions.

Kekalahan Atletico kali ini bisa dibilang tak separah dua musim sebelumnya. Namun, rasa sakitnya mungkin dua kali lipat, karena Atletico sesungguhnya dapat memenangi laga ini apabila sang bintang, Antoine Griezmann, tak gagal mengeksekusi penalti di waktu normal.

Gagalnya penalti Griezmann membuat waktu normal berakhir dengan skor 1-1. Tak ada gol tercipta di perpanjangan waktu, dan pertandingan mesti berlanjut ke babak adu penalti. Di babak tos-tosan, Madrid keluar sebagai pemenang dengan skor 5-3.