Hujatan untuk Bos Hoffenheim dan Ancaman bagi Kultur Tribune Jerman

Tiga belas menit terakhir pertandingan Bundesliga 1 spieltag ke-24 antara Hoffenheim dan Bayern Muenchen, Sabtu (29/2/2020) malam WIB, dihabiskan dengan cara yang tidak biasa.
Sejak menit ke-77 sampai peluit panjang ditiup wasit Christian Dingert, para pemain Hoffenheim dan Bayern hanya menendang-nendang bola di tengah lapangan. Mereka saling mengumpan satu sama lain seperti sedang berada di sebuah sesi pemanasan.
Jerman punya sejarah buruk soal main sabun di sepak bola. Pada pertandingan Piala Dunia 1982 antara Jerman Barat dan Austria, pemain kedua tim praktis melakukan hal serupa untuk menjaga agar skor 1-0 untuk kemenangan Jerman Barat tetap bertahan.
Pada laga tersebut Jerman Barat dan Austria bermain sabun supaya Jerman Barat bisa lolos ke fase gugur dan Aljazair tersingkir. Orang-orang menyebut pertandingan tersebut sebagai Aib di Gijon.
Apa yang terjadi pada pertandingan Hoffenheim vs Bayern di PreZero Arena, Sinsheim, itu tidak demikian. Tidak ada permainan sabun di sana karena ketika aksi saling umpan itu dilakukan Bayern sudah unggul 6-0 atas tim tuan rumah.
So, apa yang terjadi?
Pada menit ke-77, Dingert memutuskan untuk menyetop laga karena menilai hujatan dari suporter Bayern Muenchen terhadap bos Hoffenheim, Dietmar Hopp, sudah tak lagi bisa ditoleransi.
Dalam pertandingan tersebut kelompok suporter garis keras Bayern, Red Fanatic Muenchen, membentangkan spanduk besar bertuliskan "Dietmar Hopp Anak Pelacur". Selain membentangkan spanduk, yel-yel bernada kebencian pun mereka teriakkan.
Apa yang dilakukan suporter Bayern itu merupakan bentuk protes terhadap pengecualian yang diberikan DFB (Persatuan Sepak Bola Jerman) kepada Hopp terkait aturan 50+1 yang selama ini menjadi nyawa persepakbolaan Jerman.
Aturan 50+1 yang ditetapkan pada 1998 itu menjamin semua klub di Jerman secara mayoritas akan dimiliki oleh suporter, kecuali Bayer Leverkusen dan VfL Wolfsburg. Secara historis, Leverkusen adalah milik Bayer, sementara Wolfsburg dimiliki Volkswagen (VW).
Perusahaan minuman berenergi dari Austria, Red Bull, belakangan mengakali aturan tersebut ketika mendirikan RasenBallsport (RB) Leipzig. Agar 50% plus satu saham tetap terlihat dimiliki suporter, Red Bull melepasnya ke pegawai-pegawai mereka sendiri.
Atas apa yang diperbuat Red Bull itu, RB Leipzig pun menjadi klub paling dibenci di Jerman. Para suporter, khususnya suporter Borussia Dortmund yang amat komunal itu, melihat RB Leipzig sebagai wujud pengkhianatan terhadap suporter Jerman.
Jika RB Leipzig memilih untuk mengakali aturan, lain halnya dengan Hoffenheim. Seperti Leverkusen dan Wolfsburg, klub ini memang mendapat dispensasi dari DFB. Dispensasi diberikan karena DFB memandang Hopp sebagai sosok yang amat sangat berjasa untuk kebangkitan Hoffenheim.
Siapa Dietmar Hopp?
Hopp dan Hoffenheim punya sejarah panjang. Di masa mudanya, pria yang kini berusia 79 tahun itu pernah bermain untuk tim akademi Hoffenheim. Namun, Hopp kemudian memutuskan untuk berhenti menekuni sepak bola.
Setelah melanjutkan studi, Hopp diterima bekerja di perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, IBM. Namun, dia tak bertahan lama di sana. Pada 1972, Hopp bersama sejumlah rekannya mendirikan perusahaan peranti lunak (software) SAP yang bertahan sampai sekarang.
Dari SAP inilah kekayaan Hopp yang mencapai 14,7 miliar dolar AS berasal. Sebagian uang itu dia gunakan untuk membantu Hoffenheim bangkit dari keterpurukan.
Hopp mulai menanamkan uangnya di Hoffenheim pada 2000, saat klub tersebut masih berkubang di divisi lima liga sepak bola Jerman. Perlahan-lahan, dengan bekingan finansial darinya, Hoffenheim berhasil bangkit sampai akhirnya promosi ke Bundesliga 1 pada 2008.
Harus diakui, jasa Hopp memang besar. Apalagi, stadion yang saat ini dipakai Hoffenheim dibangun dengan uang pribadi sang hartawan. Inilah yang kemudian, pada 2015, membuat DFB memberi pengecualian kepada Hopp untuk jadi penyandang dana tunggal di Hoffenheim sampai 20 tahun ke depan.
Apa Imbasnya untuk Suporter?
Pada 2017, aksi protes pernah dilakukan suporter-suporter Jerman terhadap sosok bernama Martin Kind. Kind yang saat ini berumur 75 tahun adalah mantan presiden klub Hannover 96.
Protes dilakukan ketika Kind berupaya untuk mengambil alih kepemilikan Hannover 96 secara penuh. Dia bahkan telah mengajukan aplikasi kepada DFB agar diberi pengecualian sebagaimana halnya Hopp.
Namun, upaya itu gagal. Tekanan konstan dari suporter Hannover 96, ditambah dengan pergantian jajaran direksi, membuat Kind akhirnya mundur pada 2019 lalu. Suporter yang mendukung aturan 50+1 pun bertempik sorak.
Kini, protes massal dialamatkan kepada Hopp. Isunya pun tidak lagi cuma soal kepemilikan, melainkan soal hukuman kolektif yang diberikan kepada suporter Borussia Dortmund karena menghina Hopp.
Suporter Dortmund dilarang bertandang ke Sinsheim oleh DFB karena terus-terusan menghina Hopp terkait kepemilikan tunggal tadi. Bagi para suporter, ini adalah pertanda bahwa DFB lebih memilih untuk memihak orang-orang kaya ketimbang mereka.
Hopp menjadi sasaran karena dia adalah subjek utama dari permasalahan ini. Tak cuma suporter Bayern dan Dortmund, fans dari Borussia Moenchengladbach serta Union Berlin pun melakukan aksi serupa.
Dalam pertandingan Hoffenheim vs Bayern itu, para suporter sempat bersitegang dengan para pemain ketika pertandingan sedang berada dalam masa skorsing. Selepas laga, CEO Bayern, Karl-Heinz Rummenigge, pun melontarkan kecaman kepada para suporter.
"Mewakili Bayern Muenchen, aku merasa malu dengan tingkah para idiot ini. Sudah saatnya Bundesliga, DFL (penyelenggara liga, red), dan DFB mengambil sikap untuk melawan para idiot ini. Ini adalah sisi kelam sepak bola dan tindakan para fans kami tidak bisa dimaafkan," kata Rummenigge, dilansir DW.
Pernyataan Rummenigge itu disusul dengan munculnya laporan dari Jerman bahwa Bayern Muenchen akan memberantas aktivisme yang suporternya sendiri. Padahal, aktivisme suporter, termasuk suporter Bayern, adalah alasan mengapa tribune di Jerman sekarang ini minim aksi diskriminasi.
Grup ultras terbesar Bayern, Schickeria Muenchen, adalah salah satu aktor terpenting yang berjasa dalam melakukan perlawanan terhadap diskriminasi, menuntut penegakan HAM di Qatar, serta mengingatkan publik akan kekejaman Holocaust.
Salah satu cara Schickeria dalam mengingatkan publik akan kekejaman Holocaust adalah dengan membentangkan spanduk raksasa bergambar Kurt Landauer, presiden Bayern Muenchen dari etnis Yahudi yang menjadi korban Nazi.
Karena aksi para suporter di Sinsheim itu, wacana untuk mencabut keanggotaan dan hak mendapatkan tiket bagi anggota ultras Bayern mulai mengemuka. Hal serupa berpotensi juga dilakukan klub-klub lain seperti Gladbach.
Jika ini sampai terjadi, kultur tribune di Jerman bisa mengalami perubahan signifikan yang mengerikan. Anasir-anasir sayap kanan yang belakangan menguat di Eropa bisa mendapat panggung lebih besar lagi jika ini sampai terjadi. Tanpa ultras yang bisa melawan, mereka bisa dengan mudah masuk kembali ke stadion-stadion.
