Kumparan Logo

Identitas Taktik Mourinho, Manchester United, dan Pentingnya Fellaini

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kata Mourinho: Ntaps, kawan-kawan! (Foto: REUTERS/Phil Noble)
zoom-in-whitePerbesar
Kata Mourinho: Ntaps, kawan-kawan! (Foto: REUTERS/Phil Noble)

Tak terasa, sudah tiga musim Jose Mourinho menangani Manchester United. Pertanyaan pun muncul: apakah dia sudah mengubah Manchester United menjadi lebih baik?

Jose Mourinho, selama menjalani karier sebagai pelatih, memiliki tren yang unik. Sejak menangani Porto--klub tempatnya menancapkan nama sebagai pelatih kenamaan--sampai terakhir dia menangani Chelsea edisi kedua (sebelum hijrah ke Manchester United), Mou tidak pernah diam lama di sebuah klub. Paling lama, dia hanya berdiam selama tiga musim, yaitu saat menangani Chelsea edisi pertama dan Real Madrid.

Sekarang, dia sudah memasuki musim ketiga bersama Manchester United. Di musim ketiga ini, harapan kepada Mou masih tetap tinggi, apalagi di musim kedua kemarin dirinya gagal menyumbang gelar untuk United. Namun, yang terjadi, sejauh ini United masih duduk di peringkat 8 klasemen sementara Premier League musim 2018/19 dengan catatan tiga kali menang dan dua kali kalah.

Atas raihan buruk ini, banyak cap yang disematkan kepada pelatih asal Portugal tersebut. Ada yang menyebutnya miskin taktik, pendekatan yang dia terapkan kuno, bahkan ada yang sampai menyebut bahwa United di tangan Mourinho adalah tim yang tidak memiliki identitas.

Benarkah seperti itu? Benarkah Mou gagal membentuk sebuah identitas di Manchester United? Ada sedikit ulasan dari Tifo Football soal ini, sekaligus menunjukkan bahwa Mourinho, sebenarnya, adalah pelatih cerdas.

Pakem Dasar 4-3-3, Serta Beberapa Elemen di Dalamnya

Sejak pertama kali menangani Manchester United pada musim 2016/17, Jose Mourinho memiliki sebuah pakem dasar yang hampir selalu dia gunakan dalam setiap pertandingan. Pakem dasar 4-3-3, dengan dua skema berbeda ketika menyerang dan bertahan, menjadi warna dari permainan dasar United selama beberapa musim ke belakang.

Ketika menyerang, Manchester United mengubah pakem dasar dari 4-3-3 menjadi 3-4-3, dengan gelandang bertahan yang turun, dua full-back yang naik, serta dua winger yang bergerak lebih ke dalam, mendekati penyerang tunggal di depan. Dua winger ini akan berkolaborasi dengan penyerang, menciptakan ruang di area sepertiga akhir lawan yang bisa dieksploitasi.

Selain itu, ketika menyerang, Jose Mourinho juga kerap menerapkan skema berlian dan segitiga. Skema berlian dan segitiga ini melibatkan gelandang bertahan, full-back, gelandang tengah, dan bek (berlian), serta gelandang tengah, winger, dan full-back (segitiga). Tujuan dari skema berlian dan segitiga ini, dasarnya, adalah untuk membongkar pertahanan lawan sekaligus menciptakan ruang gerak bagi para pemain.

Sedangkan ketika bertahan, pakem dasar 4-3-3 Manchester United dilengkapi beberapa sistem tertentu. Ada sistem blok tengah yang mereka terapkan, dengan sedikit mengubah pakem menjadi 4-1-4-1 dan mempersempit jarak antara gelandang bertahan dan empat gelandang sejajar di tengah. Saat lawan terpancing dan memberikan bola ke belakang, para pemain United akan mulai menerapkan sistem tekanan agresif.

Dengan pakem dasar ini, maka sebenarnya Jose Mourinho perlahan sudah mulai membentuk identitas dalam permainan Manchester United. Sekilas, hal ini tak jauh beda dengan apa yang dia terapkan di Chelsea, Inter Milan, maupun Real Madrid. Hanya saja, di Manchester United ini, ada satu hal lain yang dia masukkan, melengkapi pakem dasar permainannya ini.

Manchester United dan Real Madrid di ICC 2018 (Foto: REUTERS/Jason Vinlove)
zoom-in-whitePerbesar
Manchester United dan Real Madrid di ICC 2018 (Foto: REUTERS/Jason Vinlove)

Elemen-elemen yang Membuat Jose Mourinho Tidak Kuno

Selain dikritik karena gagal membentuk identitas, Jose Mourinho juga dikritik karena pendekatan yang dia terapkan dianggap kuno. Padahal, jika ditelisik, sebenarnya elemen-elemen yang digunakan Mourinho di timnya digunakan juga oleh tim-tim lain.

Pertama, soal gelandang bertahan yang turun. Elemen ini kerap hadir dalam skema permainan Pep Guardiola. Baik ketika di Barcelona, Bayern Muenchen, maupun Manchester City, Pep selalu memiliki gelandang bertahan yang turun membantu bek. Sedikit beda dari Mou, gelandang bertahan dalam skema Pep juga acap diserahi tugas sebagai inisiator serangan, semisal Sergio Busquets ataupun Phillip Lahm.

Kedua, soal tekanan agresif kepada lawan. Elemen ini kerap hadir dalam tim yang diasuh oleh Juergen Klopp. Saat menangani Borussia Dortmund, Klopp dikenal karena gegenpressing yang dia terapkan. Skema ini dia bawa juga ke tubuh Liverpool sekarang, menghasilkan Liverpool yang begitu aktif dalam menekan lawan. Mauricio Pochettino juga menerapkan hal yang sama di Tottenham Hotspur.

Ketiga, soal skema segitiga dan berlian ketika menyerang. Di Chelsea dan Napoli, Maurizio Sarri menerapkan hal ini. Skema segitiga dan berlian ini, sama seperti di tim Mourinho, juga diterapkan dalam tim yang diasuh oleh Sarri. Ada full-back yang maju, ada gelandang yang kerap melipir ke sisi lapangan membentuk kombinasi, ada juga dua winger yang kerap turun dan masuk mendekat ke penyerang.

Berbagai elemen yang ada di tim lawan, yang juga bisa ditemukan di United, menandakan bahwa Mourinho terbuka akan segala ide baru yang ada. Jika dirasa baik, dia tak akan ragu untuk menerapkannya dalam tim. Selain itu, yang membedakan Mourinho dengan pelatih lain adalah dia tidak gegabah ketika menghadapi laga-laga besar.

Ketika melakoni pertandingan besar, Jose Mourinho tidak ragu mengubah pakem 4-3-3 beserta turunannya dengan pakem yang berbeda. Biasanya, pakem yang dia terapkan menjadi anti-pakem dari apa yang diterapkan lawan.

Hal inilah yang membuatnya mampu memenangi laga-laga besar, seperti saat menghadapi Chelsea di ajang Premier League 2016/17, momen ketika dia memasang Ander Herrera untuk terus mengikuti Eden Hazard.

video youtube embed

Tapi, tak selamanya pakem anti-strategi ini berhasil. Terkadang, dia juga menderita kekalahan akibat dari anti-strategi yang dia terapkan, seperti ketika kalah dari Tottenham Hotspur di Old Trafford pada awal gelaran Premier League musim 2018/19. Ketika itu, skema tiga bek yang dia terapkan membawa United pada kehancuran.

Kasus Spesial: Marouane Fellaini

Semenjak Manchester United ditangani oleh Jose Mourinho, Marouane Fellaini mulai mendapatkan tempat lebih baik di skuat United. Dalam beberapa momen, dia bahkan acap menjadi penentu, terutama berkat kemampuan sundulan kepalanya yang apik. Kenapa itu bisa terjadi?

Hal ini tak lepas dari skema lain yang juga diterapkan oleh Mourinho, yaitu skema bola-bola panjang. Skema bola-bola panjang ini menjadi opsi ketika mereka menghadapi tim dengan tekanan ketat macam Liverpool. Saat terdesak, Mou akan meminta anak-anaknya bermain dengan skema bola panjang, mengandalkan kemampuan duel udara Lukaku.

Namun, yang menjadi andalan United dalam duel udara bukan hanya Lukaku saja. Fellaini juga kerap menjadi kunci kemenangan duel-duel udara United. Bahkan, Fellaini memiliki daerah cakupan yang lebih luas, dibandingkan Lukaku yang hanya beroperasi di area sepertiga akhir lawan.

Selaku gelandang tengah, dalam satu momen, Fellaini bisa tiba-tiba merangsek ke depan dan membantu Lukaku memenangi duel udara di area sepertiga akhir. Namun, di momen yang lain, Fellaini bisa tiba-tiba berada di area pertahanan sendiri, mencegah lawan memenangi duel udara. Dari udara, Fellaini membantu menghidupkan sistem permainan United.

Dengan peran seperti inilah, Fellaini mulai menemukan tempatnya di Manchester United. Meski tidak terlalu menonjol, setidaknya dia menjadi salah satu senjata rahasia ketika Manchester United mengalami kebuntuan.

Marouane Fellaini ditenangkan Jose Mourinho. (Foto: Reuters/Eddie Keogh)
zoom-in-whitePerbesar
Marouane Fellaini ditenangkan Jose Mourinho. (Foto: Reuters/Eddie Keogh)

***

Melihat segala hal yang sudah dilakukan Jose Mourinho di atas, tampak bahwa selama tiga musim ini, dia sudah membawa identitas dalam permainan United. Tapi, tidak hanya identitas, Mou juga menunjukkan bahwa dia pelatih cerdas dan bisa beradaptasi dengan segala situasi. Dia juga mengerti semua basis permainan dari lawan-lawannya.

Hal inilah yang membuat Jose Mourinho terasa mengerikan, karena dia bagaikan binatang yang dapat menyesuaikan diri di segala situasi. Tak peduli apapun situasinya, dia kerap menemukan solusi untuk segala kesulitan yang dia hadapi. Memang, kadang semuanya tak memberikan hasil sesuai yang dinginkan, tapi, beberapa di antaranya menelurkan hasil positif di luar ekspektasi.

Maka, beruntunglah United memilih Jose Mourinho sebagai pelatih mereka. Apalagi sejauh ini, dia sudah menyumbangkan dua trofi untuk United, lebih banyak dari raihan Louis van Gaal, yang notabene gurunya sendiri.

====

*Catatan Editor: Bedah taktik Jose Mourinho mengambil sumber dari TifoFootball via video yang mereka unggah di kanal YouTube.