kumparan
4 Juli 2019 18:04

Jangan Coba-coba Pertanyakan Ke-Amerika-an Megan Rapinoe

Megan Rapinoe merayakan gol ke gawang Prancis. Foto: Reuters/Benoit Tissier
Keberhasilan Timnas Amerika Serikat menembus final Piala Dunia 2019, atau final Piala Dunia mereka yang ketiga secara beruntun, menunjukkan satu hal. Yakni, bahwa sampai sekarang belum ada lawan yang benar-benar sepadan bagi mereka di persepakbolaan wanita.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Timnas Putri Amerika bukannya tidak punya seteru. Menariknya, seteru yang dimaksud justru datang dari luar lapangan dalam wujud diskriminasi gender dari Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) dan komentar Presiden Donald Trump. Sampai saat ini, boleh dibilang mereka adalah seteru terberat Timnas Putri Amerika.
Pekan lalu Trump menyuarakan keberatannya terhadap aksi kapten Timnas Putri Amerika, Megan Rapinoe. Sebelum laga melawan Spanyol di babak perdelapan final, ketika lagu kebangsaan The Star Spangled Banner dikumandangkan, Rapinoe enggan menyanyikannya.
Bagi Rapinoe, itu adalah bentuk protesnya terhadap ketidakadilan yang dialami kaum minoritas, mulai dari orang-orang kulit hitam, muslim, sampai para LGBTQ+, di Amerika sana. Ini merupakan lanjutan dari aksi berlutut yang dia lakukan dengan mengikuti jejak Colin Kaepernick pada 2016.
ADVERTISEMENT
Rapinoe berpendapat demikian, Trump punya opini berbeda. Presiden berusia 72 tahun itu menganggap apa yang dilakukan Rapinoe sebagai bentuk pelecehan terhadap negara. Trump pun meminta Rapinoe membuktikan kehebatannya dulu sebelum banyak bicara. Bahkan, Trump 'menantang' para pemain Timnas Putri Amerika untuk datang ke Gedung Putih setelah Piala Dunia.
Pernyataan Trump itu sebenarnya sudah direspons oleh Rapinoe, juga pada pekan lalu. Dia mengingatkan teman-temannya agar tidak mengasosiasikan diri dengan Gedung Putih karena pemerintahan Trump saat ini tidak memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan.
Kini, jelang partai final menghadapi Belanda, Rapinoe kembali menegaskan sikapnya. Dia menjelaskan bahwa memprotes negara bukan berarti memusuhi negara.
"Kupikir, aku malah sangat, sangat Amerika. Kalau yang dijadikan dasar penilaian adalah ide-ide pembentukan negara, lagu kebangsaan, dan hal-hal semacam itu, harusnya malah aku yang sangat Amerika," kata Rapinoe, dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
"Aku membela kejujuran, kebenaran, dan keinginan untuk berdialog. Ketika aku melihat negaraku, aku melihat sebuah negara yang hebat, di sana ada banyak hal yang luar biasa, dan aku beruntung bisa menjadi bagian darinya. Tidak mungkin aku bisa seperti ini kalau aku ada di tempat lain."
"Tapi, bukan berarti kami sudah sempurna. Bukan berarti kami boleh berhenti berusaha. Misalnya, negaraku dibangun dengan landasan-landasan hebat, tetapi perbudakan juga menjadi salah satu landasannya. Intinya, kita semua harus jujur dan mau mengakui bahwa hal-hal seperti itu memang ada. Dengan begitu, semoga kita semua bisa berekonsiliasi dan menjadikan negara ini lebih baik bagi semua orang," jelasnya.
Rapinoe sendiri tidak bermain kala Amerika Serikat mengalahkan Inggris pada babak semifinal akibat cedera hamstring. Tempatnya di situ digantikan oleh Christen Press yang akhirnya mencetak satu gol. Meski begitu, di final nanti, kemungkinan besar wanita 33 tahun ini bisa kembali bermain sejak awal.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan