Jelang El Clasico: Membandingkan Lini Serang Madrid dan Barcelona

Benar jika jumlah gol Real Madrid musim ini lebih rendah daripada jumlah gol Barcelona. Dalam kompetisi La Liga dan Liga Champions musim ini, Real Madrid mencatatkan 38 gol, sementara Barcelona telah berhasil mencetak 48 gol.
Membicarakan lini depan Madrid, Cristiano Ronaldo adalah tulang punggungnya. Di antara semua penyerang, dialah yang terbanyak mencetak gol di kedua kompetisi tadi di musim ini. Dari 17 penampilan (UCL dan La Liga), ia berhasil mencetak 13 gol. Angkanya jauh di atas Bale (6 pertandingan, 3 gol), Borja Mayoral (10 pertandingan, 2 gol), dan Karim Benzema (13 pertandingan, 2 gol).
Bila menyimak data-data tadi, 18 gol Real Madrid tidak diciptakan oleh mereka yang memiliki posisi dasar sebagai penyerang. Dan selama musim ini, mereka berhasil menciptakan 290 peluang, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Barcelona yang menciptakan 232 peluang. Namun, yang menjadi masalah, 232 peluang itu membuahkan gol yang lebih banyak dibandingkan Madrid.
Dibandingkan dengan penyerang-penyerang lainnya, Ronaldo jelas yang paling diwaspadai. Ia memang menjadi mesin gol utama bagi Madrid. Nah, yang perlu diingat adalah Ronaldo sudah memainkan perannya sebagai mesin gol Madrid sejak 2009 dan (lagi-lagi) sepak bola adalah perihal merespons taktik. Melihat lamanya Ronaldo bermain, satu hal yang berpotensi menjadi penyebab menurunnya jumlah gol Ronaldo adalah lawan bisa membaca bagaimana Ronaldo (dan rekan-rekannya) membangun serangan.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan jumlah serangan yang dibangun Ronaldo pada musim ini dan musim lalu. Jumlah yang dilakukannya di musim ini tidak berbeda jauh dengan jumlah peluangnya tahun lalu. Di tengah musim ini, total peluang yang diciptakan Ronaldo adalah 25, sementara musim lalu ia berhasil mencatatkan 50 peluang. Di tengah musim ini, jumlah mencapai separuh dari total peluang yang diciptakannya musim lalu.
Sementara di Barcelona, Lionel Messi dan Luis Suarez yang menjadi tumpuannya. Dari 21 pertandingan (Liga Champions dan La Liga), Messi berhasil mencetak 15 gol. Sedangkan Suarez, penampilannya di 18 pertandingan berhasil melahirkan sembilan gol. Namun, yang berbeda, adalah bagaimana gol-gol tersebut tercipta.
Dibandingkan Real Madrid, penyerang-penyerang Barcelona, terutama Messi, cenderung lebih fleksibel. Bila diperhatikan, dalam banyak pertandingan, Suarez sering menjadi penyerang yang ditinggalkan Messi di kotak penalti. Messi lebih sering bergerak turun ke kotak penalti lawan ataupun melebar ke arah sayap. Kecenderungannya, ia justru menciptakan peluang dari luar kotak penalti. Contoh yang paling terlihat, ada pada laga Barcelona melawan Valencia pertengahan November lalu.
Saat Barcelona menghadapi tim dengan pertahanan yang begitu rapat, biasanya mereka akan menaikkan garis pertahanan sampai setengah lapangan. Dengan penguasaan bola yang tinggi, diharapkan mereka bisa mencari celah. Makanya, saat membandingkan produktivitas gol pemain depan Madrid dan Barcelona, Barcelona jelas lebih unggul. Tulang punggung lini penyerangan Madrid lebih sering bermain di sepertiga area lawan. Sementara mobilitas mesin gol Barcelona lebih tinggi. Untuk pemain sekelas Messi, semakin tinggi mobilitas, maka peluangnya pun akan semakin besar.
Menjadikan Ronaldo sebagai satu-satunya mesin gol jelas menjadi pilihan yang amat berisiko buat Zidane. Apalagi jika mengingat usia Ronaldo yang tidak lagi muda, 32 tahun. Dalam pertandingan melawan Sevilla, Zidane merombak skema dasar permainannya. Jika biasanya mereka menggunakan 4-3-1-2, kali ini mereka bermain dengan 4-4-2. Dengan formasi ini, mereka cenderung lebih cepat dalam mengalirkan bola dari lini sayap.

Bagi para penyerang, jumlah gol adalah perkara serius. Naik-turunnya performa mereka sering dihakimi dengan banyak-sedikitnya jumlah gol yang diciptakan. Namun, bila melihat apa yang dilakukan Zidane dalam beberapa pertandingan terakhir, permainan Madrid juga ibarat memberikan panggung bagi para pemain lain. Agaknya, yang ingin ditunjukkan Zidane di sini adalah, pemain Madrid tak cuma Ronaldo dan Benzema. Marco Asensio dan Lucas Vazques berhasil menjadi poros utama serangan Madrid. Dalam 17 penampilannya bersama Madrid, ia mencatatkan 30 peluang dan empat gol. Sementara Lucas Vazques, dalam 16 penampilannya, ia berhasil membukukan dua gol dan 17 peluang.
Kesimpulannya, Zidane bukannya tutup mata atas penurunan performa lini depan Real Madrid. Makanya, pertandingan tak hanya menjadi panggung buat pemain yang itu-itu saja. Karena peran yang lebih menyebar ini, barangkali performa lini depan Madrid yang pada dasarnya diisi oleh 'pemain lama', terlihat tidak terlalu membahayakan. Sementara Barcelona, pun tahu bagaimana caranya menjaga kestabilan produktivitas gol mereka. Sejauh ini, Messi dan Suarez belum 'terjegal' masalah teknis seperti Ronaldo.
Massimiliano Allegri, pelatih Juventus, pernah mengeluarkan pernyataan menarik menyoal kemandulan para penyerang. Katanya; "Semua penyerang pasti pernah mengalami siklus (penurunan jumlah gol) ini." Lantas, jika omongan Allegri memang bisa dipercaya, bukannya tak mungkin bila Messi dan Suarez bakal mengalami hal yang sama.
====
*El Clasico akan dihelat pada Sabtu (23/12/2017) di Santiago Bernabeu. Sepak mula akan dilakukan pukul 19.00 WIB.
