Kumparan Logo

Jurnal: Bandung, 29 Maret, di Tengah Kehebohan Essien

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Michael Essien. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Michael Essien. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Jam tangan saya menunjukkan pukul 11.15 WIB ketika saya tiba di Graha Persib, Bandung. Seharusnya saya tiba 15 menit sebelumnya, akan tetapi macet yang mengepung Bandung siang itu membuat saya tiba lebih lambat dari semestinya.

Graha Persib sudah ramai. Keramaian inilah yang memancing saya keluar dari Jakarta dan dengan senang hati bergabung di dalamnya.

Pintu di lantai tiga gedung itu saya buka, orang-orang sudah ramai di dalamnya. Mereka kebanyakan adalah para jurnalis. Saya melongok lagi, di depan ternyata yang mereka sunggu sudah tiba. Di belakang meja panjang konferensi pers, sudah duduk salah satu karyawan Persib, Manajer Persib Umuh Muchtar, dan sosok yang ditunggu-tunggu siang itu: Michael Essien.

Siang itu, Rabu (29/3/2017), Essien, pemain yang pernah memperkuat Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan itu, untuk pertama kalinya diperkenalkan ke media. Setelah kedatangannya sebagai pemain Persib dua pekan sebelumnya, ini adalah untuk pertama kali pemain asal Ghana itu melakukan dialog dengan para jurnalis. Rabu kemarin itu adalah hari dan awal dari perjalanan Essien bersama Persib.

Sesi konferensi pers itu dibuka dengan sambutan terhadap mantan pemain Chelsea tersebut. Kemudian, barulah sesi tanya-jawab dilakukan. Beberapa pertanyaan dilontarkan kepada Essien. Dengan penuh senyum semringah, pria 34 tahun itu menjawab. Perihal cedera, optimisme, hingga perihal kontrak ditanggapinya satu per satu.

Lalu, giliran Umuh, selaku Manajer Persib, gantian memberikan penjelasan. Jawaban pertama pria yang akrab disapa "Pak Haji" itu kemudian menarik perhatian saya. Ketika ditanya para jurnalis perihal fasilitas apa yang akan diberikan Persib kepada Essien, terlihat kalau pemain terbaik Ghana tahun 2008 itu akan mendapat perlakuan "spesial" dari Persib.

"Kami memang carikan tempat yang nyaman dan aman untuk dia. Biar dia tak terganggu. Kalau dia mau, saya ada rumah yang bisa dipakai. Kalau dia cocok, dia bisa pakai dulu rumah saya. Supaya lebih aman, karena ada pihak keamanannya dan ada pelayanannya. Yang penting supaya dia kerasan di sini," jawab Umuh.

Dari jawaban tersebut, terdengar jika kenyamanan Essien di Bandung adalah hal utama bagi Persib. Karenanya, segala fasilitas dengan kualitas nomor satu pun disiapkan untuknya. Dari mulai tempat tinggal, kendaraan, pengamanan, semua nomor satu.

Hari Rabu itu, Essien diketahui masih tinggal di sebuah hotel bintang lima di Bandung. Pada hari yang sama, pihak Persib sebenarnya sudah mengajak sang pemain mencari-cari tempat tinggal, tetapi ternyata belum ada yang "pas" untuknya.

"Sekarang dia masih tinggal di hotel. Kalau dia di hotel, ada yang menemani. Hotelnya ‘kan juga punya security, pengamanannya juga ketat. Saya juga sudah titipkan dia ke pihak hotel," begitu ujar Umuh kepada kumparan (kumparan.com).

Michael Essien saat konpers di Graha Persib. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Michael Essien saat konpers di Graha Persib. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Agenda mencari tempat tinggal itu pula yang membuat Essien membatalkan agenda latihan perdana bersama penggawa "Maung Bandung" lain di Lapangan Lodaya pada sore harinya. Pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, mengungkapkan jika pemain anyarnya itu sudah meminta izin karena mengaku kelelahan. Dan tak ada masalah jika agenda latihan perdana Essien diundur satu hari.

Pihak Persib juga berjanji akan memberikan pengawalan ketat saat latihan perdana Essien. Bahkan, Djadjang sempat menginginkan adanya latihan tertutup. Sementara Umuh memastikan jika tak boleh ada Bobotoh yang mengajak Essien berfoto bersama.

Hari berikutnya, Kamis (30/3), saya masih mencoba mengejar jejak-jejak Essien. Namun pada pagi harinya, ada agenda di mana Persib mengumumkan bergabungnya mantan pemain Premier League lain, Carlton Cole. Pemain asal Inggris itu melengkapi kuota pemain asing di kubu Persib.

Entah berapa uang yang dikeluarkan untuk mendatangkan Cole. Namun Umuh menegaskan jika harga sang striker di bawah harga seorang Essien yang kabarnya digaji sekitar Rp. 8-9 miliar. Bukan tanpa alasan, memang, karena Essien adalah pemain kunci. Dia adalah ikon Persib di mata dunia saat ini.

Tak heran pula jika Essien-lah —yang secara tak langsung— menjadi magnet dalam usaha merekrut Cole. Dilihat dari beberapa hal, Essien sedikit lebih (di)istimewa(kan). Bahkan soal fasilitas tempat tinggal saja, ada sedikit perbedaan antara Essien dengan Cole. Dalam hal tersebut, situasi Cole terdengar lebih "simpel".

"Kalau fasilitas nanti dia (Cole) atur sendiri. Cuma kami bantu carikan saja, entah rumah atau apartemen. Juga kendaraan dan mungkin sama sopir. Tapi soal pembayaran itu dia yang atur sendiri," ujar Umuh kepada pewarta di Graha Persib, Kamis (31/3).

Satu hal berikutnya yang sedikit membuat saya tertarik adalah, bagaimana jika Essien dan juga Cole menghadapi pertandingan tandang ke tempat yang jauh?

Misal: partai tandang menghadapi Perseru Serui. Ya, seperti kita tahu, tandang ke Serui selain membutuhkan waktu yang lama, juga harus melalui "perjuangan" karena berganti-ganti pesawat dan kapal laut. Karenanya hal tersebut dianggap Persib masih cukup "ekstrem" untuk kedua pemain anyarnya.

"Kalau ke tempat seperti Serui itu mungkin mereka diamankan sajalah. Takut kecapaian juga kalau ikut ke sana nanti," jelas Umuh kepada pewarta di tempat dan hari yang sama.

Padahal tandang ke Serui, mungkin bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuk Essien dan Cole. Karena selain hal seperti itu jarang ada di kompetisi-kompetisi top Eropa, bertandang ke Serui bisa memperlihatkan bagaimana kondisi lain sesungguhnya dari sepak bola Indonesia ini.

Setelah sesi konferensi pers dengan Umuh dan Cole usai, saya beranjak meninggalkan Graha Persib untuk kembali ke hotel tempat saya menginap. Tapi kemudian pikiran saya terngiang-ngiang perihal tandang ke Serui itu. Jadilah saya kemudian terpikir untuk kembali mengejar Essien dan kalau bisa, ingin menanyakan hal tersebut.

Ketika pukul satu siang jatuh di kota Bandung, saya menelepon Umuh, menanyakan di mana keberadaan Essien dan apakah dia bisa saya wawancarai barang sebentar. Lima sampai 10 menit tak apa untuk saya. Akan tetapi, (seperti yang sudah saya duga) saya tidak diberi izin. Karena tak ada yang boleh mengganggu Essien.

"Dia tidak boleh diganggu, ya. Jadi supaya dia bisa istirahat. Jadi nggak boleh wawancara di luar lagi. Semua, ya, sudah dipusatkan di konferensi pers kemarin itu," ujar Umuh saat itu.

video youtube embed

Saya pun menyerah sembari menunggu pukul empat tiba. Karena pada jam tersebut, Essien akan berlatih untuk pertama kali bersama Persib di Lapangan Lodaya. Mungkin pada saat itu —pikir saya— saya bisa mendapat kesempatan untuk bertanya soal Essien. Dan tak apa jika tak bisa soal tandang ke Serui itu tadi.

Dua jam berselang setelah percakapan singkat di telepon tersebut, Bandung diguyur hujan. Saat itu saya mengira latihan perdana Essien kembali dibatalkan. Akan tetapi, semesta tampaknya berpihak kepada Bobotoh dan idola barunya. Lima menit menjelang pukul empat, hujan reda. Latihan jadi digelar, beranjaklah saya ke Lapangan Lodaya.

Sesampainya saya di lapangan berumput sintetis itu, Essien dan para pemain Persib baru saja menginjakkan kaki di tengah lapangan. Sambutan meriah dari para Bobotoh terdengar. Ternyata tak ada latihan tertutup. Tapi benar, penjagaan cukup ketat. Sejumlah pihak kepolisian dan petugas keamanan berbadan kekar berjaga di dalam lapangan.

Bobotoh bahkan tak diperkenankan berada di salah satu sisi lapangan di mana biasanya pemain Persib berkumpul dan keluar-masuk lapangan. Polisi menjaga ketat daerah tersebut. Dua jam latihan Persib berlangsung hingga usai, di sinilah keistimewaan terhadap sang pemain kembali terlihat.

Jika pada latihan biasanya tak ada penjagaan untuk para pemain Persib, dan Bobotoh langsung menyerbu untuk berfoto bersama, kali ini situasi itu tak terjadi. Saat latihan usai, para pemain Persib langsung dijaga ketat oleh petugas keamanan, dari dalam lapangan hingga ke dalam bus.

Benar saja ujar Umuh, tak ada kesempatan bagi para Bobotoh mengajak Essien yang sudah mereka elu-elukan dari tadi berfoto bersama. Jangankan berfoto bersama, menyentuh sang pemain pun mereka sulit. Umuh sendiri menjelaskan kepada saya perihal pengamanan yang begitu ketat tersebut. Beruntung bagi Bobotoh, pengamanan itu dipastikan hanya akan berlaku beberapa waktu saja.

"Ini karena latihan perdana saja makanya kami jaga ketat dia (Essien). Dan beberapa hari ke depan juga tetap seperti ini. Takutnya ‘kan Bobotoh langsung menyerbu. Biar dia nanti terbiasa sendiri," kata dia.

Kim Kurniawan coba membantu Essien. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kim Kurniawan coba membantu Essien. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Latihan selesai, pasukan Persib pulang, saya kembali gagal mewawancarai Essien. Tapi masih menyimpan keinginan. Sehabis bus yang berisikan para pemain Persib, termasuk Essien, meninggalkan Lapangan Lodaya, saya langsung mengejar mereka menuju mes Persib yang tak jauh dari tempat latihan tersebut.

Sesampainya di mes Persib yang berada di kawasan Stadion Sidolig itu, Bobotoh masih ramai. Beberapa pemain berhasil mereka ajak foto. Saya sendiri memutuskan langsung masuk ke dalam mes. Setelah sempat berbincang dengan Febri Haryadi, keberuntungan seperti tampak menghampiri saya: Essien sedang sendiri, berjalan ke arah saya, tanpa pengawalan!

Lantas momen yang saya tunggu-tunggu ini saya manfaatkan dengan baik. Saya membukanya dengan bertanya bagaimana kondisinya setelah melakoni latihan perdana. "Good, good, very good," jawabnya singkat, tetapi kemudian dia melenggang meninggalkan saya untuk berkenalan dengan beberapa keluarga dari para pemain Persib. Mereka pun sempat berfoto bersama.

Setelah itu, saya kembali mencoba mengajaknya berbincang. Sial bagi saya, kali ini Essien menolak. "Not now my man, I'm sorry," tolaknya.

Setelah itu, Essien pergi bersama salah seorang karyawan Persib meninggalkan mes. Seorang karyawan lain kemudian menyebut jika Essien menolak karena sang agen melarangnya melakukan wawancara dengan wartawan dan bukan hanya saya yang sudah dia tolak.

Nahas untuk saya, kesempatan terakhir saya itu gagal menemui keberhasilan. Essien telah pergi meninggalkan mes. Tantangan yang saya pasang sendiri, tak berhasil saya tuntaskan dengan sempurna. Ternyata si "spesial" itu memang sulit ditaklukkan.

Malam gerimis di Bandung dan mes Persib, saya kemudian beranjak pergi menuju Jakarta.