Kumparan Logo

Karena Bundesliga Adalah Jerman

kumparanBOLAverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain-pemain Borussia Dortmund merayakan gol ke gawang Eintracht Frankfurt dalam laga Bundesliga Jerman 2019/20. Foto: AFP/Ina Fassbender
zoom-in-whitePerbesar
Pemain-pemain Borussia Dortmund merayakan gol ke gawang Eintracht Frankfurt dalam laga Bundesliga Jerman 2019/20. Foto: AFP/Ina Fassbender

Akhir pekan ini seluruh dunia akan memberikan dua jam mereka secara sukarela untuk menyaksikan Bundesliga.

Sepak bola Jerman tak lagi meributkan kapan liga dimulai. Pemerintah memberikan restu untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020 di tengah pandemi COVID-19.

Bundesliga sempat menuai kontroversi karena menjadi salah satu liga yang cukup lama mengambil keputusan penangguhan. Ada kesan plinplan karena muncul kebingungan soal dimainkan atau tidak, dengan atau tanpa penonton, dan sebagainya.

Keputusan melanjutkan kompetisi dinilai berani mengingat tetangga-tetangga terdekat mereka, Prancis dan Belanda, mengambil langkah sebaliknya. Ligue 1 2019/20 dihentikan, Eredivisie 2019/20 dibatalkan.

Pemain Bayern Munich Arjen Robben, Rafinha dan Franck Ribery mengangkat trofi usai memenangkan pertandingan Bundesliga. Foto: Reuters/Andreas Gebert

Saat liga-liga top terombang-ambing dalam ketidakpastian akibat pandemi, Bundesliga siap dengan protokol yang tegas, detail, dan patuh pada sains.

Langkah Jerman yang senyap, tetapi efektif, dalam menyusun protokol kompetisi dalam pandemi mengingatkan dunia akan istilah German Meeting.

Operator kompetisi, DFL, menjadikan protokol medis sebagai peraturan, bukan hanya imbauan. Artinya, hukuman bagi yang melanggar. Jika ada suporter yang berkumpul menyaksikan laga, tim bahkan bisa dinyatakan kalah.

Protokol tersebut diterapkan mulai dari persiapan laga sampai setelah pertandingan. Seluruh pemain dan staf akan melakukan tes dalam sepekan, salah satunya sehari jelang laga.

Trofi Bundesliga, kompetisi sepak bola paling elite di Jerman. Foto: Guenter SCHIFFMANN / AFP

Jika suatu tim harus bertanding dua kali dalam sepekan, mereka akan dites sebelum dua pertandingan tersebut. Hasilnya akan dikirim ke dokter klub pada pagi di hari pertandingan.

DFL hanya mengizinkan 322 orang ambil bagian dalam satu laga Bundesliga yang meliputi pemain, pelatih, wasit, petugas lapangan, operator kamera, petugas anti-doping, petugas keamanan, dan anak gawang.

Orang-orang ini akan menempati tiga zona: Luar, tribune, dan lapangan. Tentu saja semuanya harus melakoni pengecekan suhu sebelum bertugas.

Seluruh pihak yang terlibat dalam satu tim akan datang menggunakan bus yang steril. Meski dipersilakan menggunakan kendaraan pribadi, personel tim tuan rumah tidak boleh menumpang atau memberi tumpangan.

embed from external kumparan

Physical distancing diterapkan sejak tim tiba di stadion. Jarak 1,5 meter mesti dipatuhi. Persiapan di ruang ganti tidak bisa dilakukan sekaligus. Sebelas pemain awal akan bersiap dulu, setelah itu giliran para pemain cadangan.

Kalau ruang ganti stadion tidak luas, para personel disebar di ruangan lainnya. Begitu kosong, seluruh ruangan yang dipakai dalam persiapan laga langsung dibersihkan sesuai standar medis.

Aturan physical distancing juga mesti diterapkan di bench. Para pemain dan staf harus berjarak sejauh dua bangku dan memakai masker. Silakan gunakan tribune penonton kalau bench tidak cukup.

Ofisial laga tidak boleh menginap di hotel jelang laga sehingga harus melakukan perjalanan di hari pertandingan. Mereka juga mesti memastikan laga dihelat tanpa seremoni dan perlengkapan pertandingan disemprot disinfektan.

Klub sepak bola Bayern Muenchen menggelar latihan di Saebener Strasse, Muenchen, Jerman, Jumat (24/4). Foto: Reuters/Andreas Gebert

Kita yang menyaksikan pertandingan lewat siaran televisi tidak bakal bisa melihat para bermain merayakan gol dengan berpelukan, bersalaman, atau bergerombol. Selebrasi semacam itu dilarang, Puan dan Tuan.

Aturan tersebut sinkron dengan etika memprotes keputusan wasit. Tidak akan ada fragmen mengepung wasit atau mendorong pemain lawan. Konferensi pers tidak luput dari protokol. Wawancara akan dilakukan via telepon atau video. Serba-digital, serba-berjarak.

Protokol medis ketat juga diterapkan seusai pertandingan. Begitu sampai di hotel atau rumah, para pemain dan staf harus langsung membersihkan dan mengisolasi diri sesuai standar medis. Keluarga atau orang terdekat yang tinggal serumah diimbau melakukan tes secara mandiri.

Pemain RB Leipzig Marcel Sabitzer (kedua kiri) melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Tottenham Hotspur, Rabu (11/3). Foto: REUTERS/Annegret Hilse

Pertanyaannya, mengapa Jerman? Mengapa Bundesliga yang tampil duluan? Mengapa bukan Premier League yang disebut-sebut sebagai liga terbaik di dunia?

Mengutip Ulrich Hesse dalam 'Tor!: The Story of German Football', karena mereka adalah Jerman.

Orang-orang Jerman terbiasa mengupayakan keunggulan bahkan sampai mencapai kegilaan yang paling muskil. Saat dunia memercayai bahwa keinginan menguasai Bumi tak lebih dari sekadar legenda dan mitos dewa-dewi, seorang Jerman mewujudkannya: Adolf Hitler.

Mungkin Hitler gila, kerasukan Ares, atau jelmaan iblis paling bajingan yang tak puas bertakhta di neraka. Namun, ia memaksa dunia untuk percaya bahwa di muka Bumi ini tak ada yang lebih baik ketimbang ras Indo-Arya.

Tidak ada satu pun manusia di dunia yang berani memperkenalkan konsep ueber mensch selain orang Jerman bernama Friedrich Nietzsche. Konsep yang diperkenalkan dalam bukunya yang berjudul 'Thus Spoke Zarathustra' itu mengecam kualitas rata-rata atau kehidupan yang biasa-biasa saja.

Hall of Names di dalam Yad Vashem Holocaust Museum berisi nama dan foto-foto para korban lengkap dengan kisahnya. Foto: Shutter Stock

Ueber mensch bukan manusia barbar atau amoral. Ueber mensch adalah manusia yang menciptakan dan menghidupi nilai-nilainya sendiri.

Keunggulan Jerman menjangkau ranah kepenulisan. Ada banyak mahakarya di jagat ini. Namun, 'Sein und Zeit (Being and Time)' garapan penulis Jerman, Martin Heidegger, disebut sebagai magnum opus meski dinilai sebagai buku yang tidak selesai.

Sebagai kumpulan manusia unggul, Jerman membungkam raksasa sepak bola dunia, Hongaria, pada Piala Dunia 1954.

Hongaria di awal 1950-an adalah sebenar-benarnya Superman di ranah sepak bola. Hongaria menutup 32 laga dalam empat tahun dengan kemenangan 100 persen. Jangankan kalah, seri pun tidak.

Hongaria yang datang ke Piala Dunia 1954 itu diasuh oleh Gusztav Sebes. Tim mereka bahkan diperkuat oleh Ferenc Puskas yang sangat masyhur.

Miracle of Bern. Foto: STR / INTERCONTINENTALE / AFP

Sebaliknya, Jerman datang sebagai tim yang diperkuat oleh para veteran Perang Dunia II. Saat dunia mengira Jerman bakal babak belur, Jerman justru sampai ke final dan menang 3-2 atas Hongaria di perebutan takhta juara.

Dunia mengenang hari bersejarah itu sebagai Miracle of Bern. Jerman-lah keajaiban yang muncul di Kota Bern saat itu.

Dua dekade setelahnya, pada Piala Dunia 1974, Jerman menampar sepak bola yang berkoar-koar memuja keindahan.

Jerman dan Belanda bertemu di partai puncak. Belanda membawa total football mereka yang agung, Jerman datang dengan entah-taktik-apa-yang-penting-menang.

Johan Cruyff dalam partai final Piala Dunia 1974. Foto: AFP

Johan Cruyff memimpin rekan-rekannya dengan permainan indah dan menakjubkan. Mereka unggul 1-0 pada menit kedua karena pelanggaran yang dilakukan Uli Hoenes pada Cruyff yang tengah berpenetrasi di kotak penalti.

Alih-alih kacau, permainan Jerman justru tambah rapi. Mereka berhasil mengemas keunggulan 2-1 saat turun minum.

Keunggulan itu bertahan sampai peluit akhir. Cruyff yang dihantam kekalahan cuma bisa berkata, 'Pada akhirnya keindahan akan lebih dikenang daripada kemenangan.'

Cruyff tak salah. Belanda selalu ada dalam sejarah Piala Dunia 1974. Belanda dikenang sebagai runner-up, sedangkan Jerman diingat sebagai kampiun.

Rudi Krol dikolongi Gerd Mueller di final Piala Dunia 1974. Foto: STAFF / AFP

Di jagat sepak bola modern, karakter ueber mensch Jerman diperlihatkan dengan keseriusan merawat dan mengelola keuangan.

Bundesliga memiliki tiga regulasi yang sanggup mengokohkan keuangan klub-klub peserta: Sistem lisensi, dana jaminan, dan kepemilikan 50+1. Tak heran jika akhirnya RB Leipzig menjadi klub yang paling dibenci di Jerman.

Jerman bukan negeri romantis. Mereka enggan memeram luka menjadi elegi dan megatruh yang puitis. Jerman tidak meratapi dosa masa lalu Hitler dan Nazi dengan melahirkan generasi yang tertunduk malu.

Mereka menjadi negara yang terbuka dan memberi tempat kepada para imigran. Monumen Holocaust dibangun di sejumlah negara sebagai peringatan tak akan ada lagi dosa seperti ini. Investasi juga diinjeksikan pada sejumlah negara, termasuk Yunani dan Spanyol.

Keengganan Jerman untuk tunduk di hadapan kegagalan terlihat saat mereka terpuruk di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. DFB merespons kenyataan itu dengan membangun 366 pusat latihan di seantero Jerman.

Leon Goretzka merayakan gol bersama rekan-rekannya di Timnas Jerman. Foto: AFP/Ina Fassbender

Jerman mereformasi sepak bola dengan mewajibkan seluruh klub Bundesliga dan Bundesliga 2 memiliki dan mengelola akademi. Di setiap kelompok umur, setidaknya, harus memiliki 12 orang pemain Jerman supaya bisa diorbitkan ke Timnas.

Kegagalan di Piala Dunia 2018 membuat Jerman merumuskan ulang arti regenerasi. Kepercayaan diberikan kepada para pemain yang berusia di bawah 25 tahun, mulai dari Kai Havertz, Serge Gnabry, Joshua Kimmich, Jonathan Tah, Suat Serdar, sampai Nadiem Amiri.

Tentu saja masih terlalu awal untuk menyimpulkan Bundesliga bakal mengalahkan pandemi. Tentu saja terlalu naif untuk mengamini sepak bola Jerman sebagai jagat yang sempurna.

Namun, sampai saat ini Jerman memang berulang kali membuktikan bahwa mereka adalah negeri yang unggul.

====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona.