Karier Ronaldinho Boleh Berhenti, tapi Tidak dengan Ceritanya

20 tahun karier Ronaldinho sebagai pesepak bola telah berakhir, tapi tidak dengan kenangan-kenangan yang ia berikan.
Tak ada yang lebih menyenangkan dalam sepak bola, selain melihat Ronaldinho bermain. Nyaris dalam setiap kesempatan, ia menunjukkan olah bola yang istimewa. Diiringi senyuman, meski kadang terlihat mimik serius, ada hal yang rasa-rasanya tak bisa digantikan pemain lain.
Namun, semuanya telah usai. Agen sekaligus kakak Ronaldinho, Roberto de Assis Moreira, memastikan bahwa adiknya resmi pensiun. Entah ini kabar yang menyedihkan atau menyenangkan.
Cerita-cerita soal Ronaldiho tak ubahnya epos tentang perjuangan. Ia dibesarkan oleh pasangan berkecukupan yang tinggal di kawasan favela Porto Alegre. Ayahnya adalah seorang pekerja galangan kapal, sementara ibunya adalah suster paruh waktu. Masa kecilnya mirip pesepak bola Brasil kebanyakan: bermain sepak bola di jalanan.
Bagi Ronaldinho kecil, bermain sepak bola di jalanan tak ubahnya rutinitas yang harus dilakukan setiap harinya. Ia boleh saja bersekolah di pagi hari atau menemani Dona, ibunya, untuk membersihkan pakaian dan sepatu Roberto di siang hari, tapi selalu ada waktu untuk sepak bola.
Masa ketika Ronaldinho bermain sepak bola di jalanan tak sepenuhnya menyenangkan. Ada kalanya ia bertemu rombongan gangster yang meminta apa saja yang ia punya. Ada kalanya juga, ia harus bermain sendirian karena tak sedikit yang merasa aneh dengan hubungan Ronaldinho dengan sepak bola.
Bombom, anjing jantan milik keluarganya, adalah sobat setia Ronaldinho bermain bola. Baginya, Bombom tak hanya menemani ketika bermain sepak bola, tapi juga lawan yang tak memiliki rasa lelah.
“Jika Anda tinggal di Porto Alegre, Anda akan menemukan banyak penjual narkoba hingga gangster. Oleh karena itu, hidup Anda tak akan mudah. Namun, jika Anda bermain sepak bola, di mana pun itu, bersama seekor anjing, mungkin Anda akan merasa aman.”
“Anda bisa saja bermain bersama Roberto hingga anak-anak seumuran, tapi ketika semuanya lelah dan Anda masih terus bermain, Bombom adalah pilihan yang tepat. Ia seperti anjing Brasil yang lain, ia menyukai sepak bola. Ia adalah lawan yang pas untuk mengasah dribel dan teknik.”
Dari segenap pelajaran yang ia petik dari masa lalu, Ronaldinho mengembara mencari petualangan dalam kamus sepak bola. Masa lalunya di Gremio, yang rasanya berjalan menyenangkan, coba ia ulangi saat mencari peruntungan di Eropa.
Awalnya, Ronaldinho digembar-gemborkan bakal bergabung dengan Arsenal. Roberto bahkan sudah ke sana kemari mencari tiket pesawat ke London Utara demi mempermudah negosiasi adiknya. Ronaldinho bahkan sudah membeli segepok kamus untuk belajar bahasa Inggris.
Namun, semuanya gagal. Peraturan tenaga kerja sepak bola Inggris yang ruwet memaksanya menunda keinginannya bergabung dengan Arsenal. Pun demikian dengan gagalnya rencana untuk bergabung dengan St. Mirren sebagai batu loncatan menuju The Gunners.
Beruntung, impian Ronaldinho untuk bermain di Eropa terwujud. Paris Saint-Germain datang di saat negosiasinya dengan Arsenal tak kunjung terjadi. Lewat mahar lima juta euro, Ronaldinho terbang dari Porto Alegre ke Paris.
Di Paris, Ronaldinho mendapatkan kegembiraan yang ia cari. Hidupnya semakin menyenangkan dengan tumpukan uang dan deretan gelar yang ia dapatkan. Di balik itu, mimpinya naik satu level lebih tinggi: bermain di kompetisi antarklub Eropa.
Harapannya datang di waktu yang tepat. Penjualan David Beckham ke Real Madrid pada 2003 lalu membuat nama Ronaldinho menjadi buruan utama dua kesebelasan yang buntung karena transfer Beckham: Barcelona dan Manchester United.
Barcelona saat itu tengah panas dengan kedatangan Beckham ke Madrid. Pasalnya, Joan Laporta, presiden Barcelona saat itu, menjadikan Beckham sebagai bagian kampanyenya. Nah, melihat kedatangan Beckham ke Madrid, tak ada jalan bagi Laporta kecuali mencari pemain yang lain bisa mengubah Barcelona.
Di sisi lain, United butuh winger kanan baru sepeninggal Beckham. Kabar kedatangan Ronaldinho bahkan telah diceritakan oleh Sir Alex Ferguson kepada pemain-pemainnya, seperti Paul Scholes dan Quinton Fortune.
Namun, semua hal yang diceritakan oleh Ferguson soal Ronaldinho kepada anak asuhnya tak berlanjut di atas lapangan. Kegagalan petinggi United, Peter Kenyon, melakukan negosiasi karena hujan yang begitu lebat di Manchester, membuat Ronaldinho memilih Barcelona.
“Aku tidak pernah memikirkan hal itu (menjadi pilihan di bawah Beckham),” katanya. “Aku memilih Barcelona karena aku punya kesempatan untuk bertarung dengan Galacticos. Bersama pemain-pemain muda di Barcelona, kami mengubah asumsi banyak orang.”
Ronaldinho menghabiskan total lima tahun di Barcelona. Namun, ada satu momen di mana ia dikenang sebagai salah satu pahlawan: laga melawan Sevilla pada pekan kedua La Liga musim 2003/04.
Kendati digelar pada tengah pekan, Camp Nou saat itu begitu sesak. Tak ada lagi bangku kosong yang tersedia. Permintaan wartawan untuk peliputan pun jauh lebih banyak ketimbang biasanya. Seperti firasat, ada perasaan kuat soal bakal terjadinya hal yang tak akan bisa diingat.
Laga tepat memasuki menit ke-58 saat Ronaldinho membawa bola di tengah lapangan. Ia kemudian melewati dua pemain Sevilla di daerah permainan mereka. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan sepakan dari jarak 30 yard ke gawang Sevilla. Gol!
“Aku mencetak sebuah tendangan jarak jauh dan seluruh penonton yang hadir Camp Nou berteriak dan meloncat kegirangan,” katanya. “Aku masih ingat hampir semua koran di Barcelona menjadikan fotoku sebagai headline.”
Memilih Barcelona sebagai pelabuhan karier tampaknya tak disesali oleh Ronaldinho. Di Barcelona, ia mendapatkan semua yang ia mau. Termasuk gelar Liga Champions yang masyhur itu.
Hari itu, di Paris, Ronaldinho tak menyesali kepindahannya ke Barcelona. Di sana, ia berperan besar atas gelar Liga Champions kedua Barcelona usai mengalahkan Arsenal lewat drama yang berakhir dengan skor 2-1.
“Aku memiliki keyakinan besar hari itu," katanya. “Setiap tahun, Barcelona mendatangkan pemain baru. Dari sana, kami yakin akan bisa mengalahkan semua kesebelasan yang kami temui di atas lapangan.”
Seperti halnya perjalanan, gelar tersebut menjadi pemandangan indah terakhir yang diraih oleh Ronaldinho. Dari sana, kariernya mandek. Serangkaian permasalahan, mulai dari kelakuan di atas lapangan hingga bobot yang semakin melonjak, menjadikan pesona Ronaldinho pudar.
Kondisi tersebut pada akhirnya membuat Ronaldinho tak nyaman bermain. Ia pun memutuskan berhenti mengolah Si Kulit Bulat. Kariernya boleh berhenti, namun magi kakinya dan senyum khasnya tak akan pernah bisa dilupakan.
