Kumparan Logo

Di Yekaterinburg, Kisah Muram Berkelindan dengan Keriangan

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Yekaterinburg. (Foto: Mladen ANTONOV / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Yekaterinburg. (Foto: Mladen ANTONOV / AFP)

Yekaterinburg adalah kota yang terbiasa menyembunyikan kemuraman dan menampilkan yang riang-riang sebagai penggantinya.

Secara geografis, Yekaterinburg terletak di perbatasan antara Asia dan Eropa. Kota ini dikenal sebagai pusat industri besi pada abad 18. Terletak di kaki pegunungan Ural, Yekaterinburg baru mendapat status sebagai kota pada 1796, sekitar 73 tahun sejak diresmikan pendiriannya.

Karena menjadi pusat industri besi, maka bangunan di kota ini diakui sebagai yang terbaik di Rusia dan Eropa. Atap gedung parlemen London dan konstruksi Menara Eiffel di Paris menjadi dua contoh dari sehebat apa besi keluaran Yekaterinburg.

Kota ini adalah rumah untuk manusia-manusia tangguh yang memperjuangkan kehidupannya masing-masing. Di mana-mana, kota industri bukan kota yang elok-elok amat. Pabrik di sana-sini, manusia-manusia lelah menjadi pemandangan yang menghidupkan suasana kota.

Pada umumnya, kota-kota industri tak punya urusan apa-apa dengan estetika. Yang penting bisa bertahan hidup. Tempat-tempat hiburan yang ada pun bukan tempat yang berkelas, paling-paling hanya bar.

Dua tempat ini menjadi cara Yekaterinburg menyembunyikan kemuraman orang-orangnya. Menikmati malam selayaknya merayakan kemenangan. Minum-minum, berdansa, dan menyanyikan lagu-lagu sendu yang kemuramannya ditutupi dengan irama yang riang di akhir pekan.

Meski terdengar klise, bar dan klub mungkin menjadi jalan keluar untuk sebagian (jika bukan banyak) orang. Sebagai hiburan yang diperuntukkan untuk kelas pekerja, keduanya adalah oase yang ramai setelah satu pekan penuh memerah peluh untuk menghasilkan uang.

Hiburan macam ini seolah-olah jadi imbalan atas rongrongan kepenatan seminggu penuh. Mereka, para kelas pekerja yang seolah-olah kalah dalam kehidupan sehari-hari, untuk sesaat bisa menjadi bebas hanya dengan bernyanyi-nyanyi riang.

Sedikit demi sedikit, Yekaterinburg mengubah rupanya. Ia beralih fungsi, tak lagi menjadi kota industri, tapi kota perdaganagan. Kata orang-orang Yekaterinburg dikenal sebagai Manchester-nya Rusia. Kanal-kanal yang mengelilingi kota menjadi buktinya.

Dalam diri Yekaterinburg ada satu upaya gigih untuk menyimpan duka dan cerita kelam rapat-rapat. Jauh sebelum dikuasai oleh pemerintahan modern, Rusia mengusung sistem pemerintahan kekaisaran. Di Rusia sana, seorang kaisar dikenal dengan sebutan Tsar.

Nikolay Alexandrovich Romanov atau juga dikenal dengan nama Nikolai II (Nikolas II) tercatat sebagai Tsar terakhir Kekaisaran Rusia. Sebagai orang nomor satu di Rusia, ia begitu bersetia dengan politik damai Eropa.

Kontras dengan ideologinya, pemerintahan Nikolai II sarat dengan teror, perlawanan, dan kerusuhan. Singkat cerita, Revolusi Bolshevik pada 1917 memaksanya untuk turun takhta. Serupa cerita-cerita tentang mereka yang dipaksa lengser, keluarga dan orang-orang terdekat sang Tsar juga terseret dalam penghukuman. Semuanya dijebloskan ke dalam penjara dan diesksekusi.

Pemerintah Rusia tidak putus asa mencari kepastian nasib keluarga Tsar terakhir mereka. Pada 2003, Kejaksaan Rusia memastikan bahwa sisa jenazah yang ditemukan pada 2002 adalah jenazah dua dari lima anak Tsar Nikolai II, Pangeran Alexei dan Putri Maria, yang meninggal dalam usia belasan tahun.

Secara garis besar, keluarga Romanov memerintah Rusia berkat hak turun-temurun selama tiga abada sebelum Perang Dunia I mengubah wajah dunia. Tsar Nikolai II adalah putra tertua Alexander III, lahir pada 6 Mei 1868, dan naik takhta setelah kematian ayahnya pada 20 Oktober 1894. Ia resmi diangkat sebagai Tsar pada 14 Mei 1896. Hanya, peristiwa penobatan ini diwarnai insiden tewasnya sekitar 1.500 warga yang berdesak-desakan berebut hadiah.

Revolusi Bolshevik yang melengserkannya pada 1917 itu merupakan gerakan anti-Tsarisme dan menolak feodalisme. Berbagai aksi demonstrasi menentang perubahan sistem tsarisme menjadi makanan sehari-hari pemerintahan Nikolai II. Kelompok Bolshevik yang menangkap mereka memindahkan keluarga Tsar ke Tsarkoye Selo sebelum menuju Siberia.

Keluarga Tsar kemudian dipindahkan ke Yekaterinburg di kaki Pegunungan Ural. Pada 17 Juli 1918, para pengikut setia Tsar berhasil mendekati posisi Yekaterinburg, membuat tentara Bolshevik menembak mereka di ruang bawah tanah. Jenazah keluarga Tsar kemudian dikuburkan untuk menghilangkan jejak.

Umat Kristen Ortodoks Rusia dan Nikolai II. (Foto: SERGEI SUPINSKY / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Umat Kristen Ortodoks Rusia dan Nikolai II. (Foto: SERGEI SUPINSKY / AFP)

Ketika Piala Dunia 2018 mengambil tempat di kota ini, orang-orang Yekaterinburg tetap berupaya mengubur cerita muram mereka dalam-dalam. Segala cerita menyoal penindasan Tsar terakhir dan rentetan pemberontakan yang mengiringi sudah berakhir lama, tapi ia tetap hidup di sekitar tanah Yekaterinburg. Cathedral on The Blood menjadi saksi pembantaian sang kaisar terakhir.

Yekaterinburg ingin mengeyahkan atmosfer yang menyeramkan. Mereka mendirikan monumen-monumen tak umum seperti Keyboard Monument, Michael Jackson Monument, dan The Beatles Monument- yang membikin kota ini terlihat sebagai titik temu antara sejarah kelam, kehidupan bisnis yang sibuk dan jiwa-jiwa yang quirky.

Piala Dunia menjadi momentum paling tepat bagi siapa pun yang ingin rehat sejenak dari kehidupan normal. Simaklah kembali segala hal yang dilakukan oleh para suporter dari berbagai belahan dunia yang kini ada di Rusia.

Bila ada satu hari paling gila yang pernah terjadi dalam hidup para suporter Meksiko dan Swedia, maka itu adalah 27 Juni 2018. Di hari itu, Meksiko dan Swedia melakoni pertandingan terakhir babak grup Piala Dunia 2018 mereka. Meksiko datang sebagai pemuncak klasemen. Di bawahnya ada Swedia yang tanpa disangka berhasil tampil sebagai tim kejutan di sepanjang gelaran babak grup.

Laga penting, pertandingan penentuan. Sebagian suporter Meksiko dan Swedia memutuskan untuk melakukan hal gila. Mereka berangkat ke Yekaterinburg demi menyaksikan langsung timnya berlaga. Dan bila membicarakan perjalanan para suporter, maka ia juga akan mengacu pada kisah Kereta Api No.118. Jere Longman untuk The New York Times mengisahkannya dengan brilian lewat tulisan yang berjudul For a 90-Minute Game, a Train Ride of 27 Hours.

Ada banyak hukum tak masuk akal yang berlaku dalam sepak bola. Salah satunya, suporter tak mau berjauh-jauhan dengan para jagoannya.

Hukum inilah yang membuat sepak bola mengenal istilah away day. Bila tim pujaannya melakoni laga tandang, maka suporter akan ikut ke sana demi menonton secara langsung. Hukum seperti ini dapat dimengerti bila kita menyoal zaman lawas, saat satelit dengan segala kecanggihannya belum lahir atau menjadi jamak digunakan.

Kecanggihan satelit seharusnya membuat siapa pun dapat tetap bertemu walaupun secara fisik, ada jarak yang membentang. Para suporter tak perlu repot-repot datang ke Rusia untuk menyaksikan laga Timnas jagoannya. Toh, mau ditonton dari mana pun, jalan dan hasil pertandingannya akan sami mawon. Sama saja, tak ada yang berbeda.

Namun, logika seperti ini kadang tak berlaku dalam sepak bola. Mengutip kalimat dalam tulisan legenda sepak bola Argentina, Jorge Valdano, untuk The Guardian, sepak bola adalah perkara emosi dan primitif. Itulah sebabnya, orang-orang rela berangkat ke Rusia demi menonton dan mendukung para pahlawan mereka secara langsung. Tenggelam dalam atmosfer pertandingan, terhanyut dalam momentum yang menguras emosi.

Suporter Swedia di Yekaterinburg. (Foto: Thomas Johansson/TT News Agency/via REUTERS)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Swedia di Yekaterinburg. (Foto: Thomas Johansson/TT News Agency/via REUTERS)

Perjalanan dari Moskow ke Yekaterinburg bukan perjalanan yang singkat. Menggunakan kereta api tadi, ia akan memakan waktu sekitar 10 jam. Itu jauh lebih baik ketimbang berangkat langsung dari Sochi, kota yang menjadi tempat laga kedua Swedia. Bila para suporter memutuskan untuk berangkat dari Sochi ke Yekaterinburg secara langsung dengan kereta api, maka ia akan memakan waktu dua hari dua jam.

Kisah perjalanan yang ditulis Longman sedikit banyak mengingatkan kita pada cerita perjalanan Sal Paradise pada novel On the Road yang ditulis oleh Jack Keroac. Itu adalah kisah perjalanan yang absurd, yang mengeyahkan perhitungan logika, dan berteman karib dengan kebebasan dan petualangan baru.

Bila membaca tulisan Longman untuk The New York Times tadi, maka kita akan menemukan catatan tentang perjalanan yang dilakoni dengan kenaifan, semangat ugal-ugalan, dan kecintaan akan sepak bola negara masing-masing.

Cerita ini cerita yang menyenangkan, yang membikin orang-orang macam kita yang tak terlibat dalam perjalanan tadi bisa mengerti mengapa mereka rela menempuh jarak yang panjang, uang dan waktu yang banyak -demi mendapatkan tempat di sudut tribune Ekaterinburg Stadium.

Segala keceriaan yang ditampilkan Yekaterinburg dan hal-hal quirky di dalamnya tak membuat cerita-cerita kelam yang pernah hidup di kota ini terlupakan. Mereka yang menancapkan tiang pancang kehidupan di atas tanah Yekaterinburg memilih untuk memegang erat keduanya.

Orang-orang Yekaterinburg menjadikan kisah muram dan keriangan sebagai alarm paling sempurna untuk mengingatkan bahwa hidup tak akan datang dengan membawa cerita seram melulu, bahwa hidup tak akan kelewat iseng untuk tak menguatkanmu dengan kisah muram dan waktu yang buruk.