Kumparan Logo

Kenangan Pahit Kylian Mbappe: Sampai Ingin Nangis saat Kalah di Liga Champions

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Reaksi Kylian Mbappe dari Paris St Germain saat pertandingan melawan Juventus di Parc des Princes, Paris, Prancis, Selasa (6/9/2022). Foto: Sarah Meyssonnier/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Reaksi Kylian Mbappe dari Paris St Germain saat pertandingan melawan Juventus di Parc des Princes, Paris, Prancis, Selasa (6/9/2022). Foto: Sarah Meyssonnier/Reuters

Penyerang Paris Saint-Germain (PSG), Kylian Mbappe, mengungkap momen terburuknya selama berkarier sebagai pesepak bola. Ia bahkan sampai ingin menangis dalam situasi pahit tersebut.

Mbappe menjelma jadi sosok penyerang tajam bersama PSG. Meski baru berusia 23 tahun, pencapaiannya dengan klub maupun timnas bisa dibilang cukup prestisius.

Dengan klub, Mbappe tercatat telah menyumbang 11 trofi bagi PSG sejak 2017 lalu. Sementara bersama Timnas Prancis, ia berhasil mengantar Les Bleus menjadi jawara Piala Dunia 2018 saat usianya baru 19 tahun.

Kendati demikian, Mbappe mengaku punya pengalaman pahit selama berkarier di dunia sepak bola. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Mbappe mengungkap satu pertandingan yang cukup membekas di ingatannya.

Mbappe menyebut satu momen yang membuatnya merasa terpuruk dan menjadikannya sebagai kekalahan terpahit dalam hidup. Itu terjadi saat PSG kalah di final Liga Champions 2019/20 dari Bayern Muenchen.

"[Momen tersebut] ketika kami kalah di Liga Champions bersama PSG, di partai final," tutur Mbappe, dikutip dari Sportskeeda.

"Anda menuntaskan permainan, Anda mengambil medali, dan Anda melihat pialanya, tapi itu bukan untuk Anda. Itu adalah perasaan yang aneh, tapi itulah hidup," sambung Mbappe.

Paris St Germain Kylian Mbappe bereaksi saat hadapi Montpellier di Stade de la Mosson, Montpellier, Prancis, Sabtu (14/5/2022). Foto: Benoit Tessier/REUTERS

Pada momen tersebut, Mbappe mengaku begitu sedih. Ia bahkan hampir meneteskan air mata sebab gagal merengkuh trofi 'Si Kuping Besar'.

"Sejujurnya, saya ingin menangis. Hanya ingin menangis dan menyendiri. Tapi, itu adalah bagian dari sejarah, dan saya harus bisa meningkatkan diri untuk kembali, dan menang," tutur striker 23 tahun itu.

Pemain Paris St Germain Kylian Mbappe berusaha melewati hadangan pemain Bayern Muenchen pada pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions di Parc des Princes, Paris, Prancis. Foto: FRANCK FIFE / AFP

Kala itu, PSG yang tengah mengincar trofi UCL pertamanya harus berhadapan dengan Bayern Muenchen yang telah menggenggam lima gelar. Les Parisiens harus pulang dengan kepala tertunduk usai kalah dengan skor tipis 0-1. Adalah Kingsley Coman yang mencatatkan namanya di papan skor sekaligus membenamkan mimpi PSG merengkuh trofi Liga Champions.

Sejak saat itu, Mbappe dan PSG belum pernah tampil lagi di final Liga Champions setelah tiga musim berlalu. Kini, di bawah arahan Christophe Galtier, hasrat PSG kembali meninggi. Tim asal Paris itu siap merengkuh trofi Liga Champions pertamanya dengan mengandalkan trio Mbappe, Neymar dan Lionel Messi.