Kumparan Logo

Kesaksian Dokter Pribadi Diego Maradona: Saya Sering Diusir, Diancam Dipukul

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengusung peti mati membawa jenazah Diego Maradona di Istana Presiden Casa Rosada, di Buenos Aires, Argentina Kamis (26/11). Foto: Argentina Presidency/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pengusung peti mati membawa jenazah Diego Maradona di Istana Presiden Casa Rosada, di Buenos Aires, Argentina Kamis (26/11). Foto: Argentina Presidency/Handout via REUTERS

Diego Maradona sudah tiada. Segala kenangan soal prestasi, aksi-aksi, hingga kontroversi dirinya semasa hidup kembali menguar ke permukaan seiring jasadnya dikuburkan ke tanah.

Namun ternyata, pun setelah kini jenazahnya telah di liang lahat, kematian Maradona tak bisa diterima sejumlah pihak begitu saja. Sang legenda sepak bola dunia memang wafat karena serangan jantung, terdengar alamiah.

Namun, sejumlah orang menyebut bahwa mungkin semestinya nyawa pria 60 tahun itu bisa diselamatkan. Untuk konteks ini, dokter pribadi Maradona, Leopoldo Luque, jadi sasaran.

Pihak berwenang setempat telah menggeledah rumah dan kantor Luque, Minggu (29/11), sebagai bagian dari penyelidikan seputar kematian Maradona. Penyelidikan itu dilakukan setelah ketiga putri Maradona meminta peninjauan ulang dari obat yang diracik oleh Dokter Luque dan timnya.

Pengakuan Dokter Pribadi Diego Maradona

Pelatih Argentina Diego Maradona merayakan gol timnya melawan Nigeria pada pertandingan sepak bola Grup B Piala Dunia 2010 di stadion Ellis Park di Johannesburg, 12 Juni 2010. Foto: REUTERS/Eddie Keogh

Luque tampak ogah disalahkan atas kematian Diego Maradona. Menurutnya, selama merawat eks bintang Napoli itu, dia sudah melakukan yang terbaik.

"Saya melakukan semua yang saya bisa untuk menyelamatkan seorang teman, dia seperti ayah bagi saya tetapi dia telah memutuskan untuk membiarkan dirinya pergi," katanya kepada wartawan sambil menangis, per La Gazzetta dello Sport, dikutip dari Football Italia.

“Sering kali, dia mengusir saya laiknya ayah pemberontak dan keesokan harinya dia akan selalu menelepon saya: 'Luque, saya baik-baik saja, Pergilah, sial'," lanjutnya.

Luque berujar, itu adalah perilaku yang berulang. Bukan hanya sekali-dua kali. Memang begitulah, lanjut Luque, hubungan antara dia sebagai dokter dengan Maradona.

Diego Maradona di bangku cadangan Gimnasia La Plata. Foto: ALEJANDRO PAGNI / AFP
embed from external kumparan

"Suatu hari saya tak ingin meninggalkan kamarnya, dia bilang akan bangun dan memukul saya. Sudah saya bilang, dia harus berdiri dulu, lalu berpegangan pada saya. Saya sedikit teralihkan dan dia melompat ke arah saya. Namun, saya berhasil membuatnya bangun dari tempat tidur," kenang Luque.

"Keesokan harinya. Saya melepaskan jahitan dari kepalanya, dan di sana, sambil tersenyum, dia berkata kepada saya: 'Kamu takut, eh?'. Dia di sofa dan memejamkan mata, berpura-pura tidur," kisahnya.

Maradona sempat menjalani operasi otak pada awal November 2020. Boleh jadi, jahitan yang dimaksud itu adalah bekas operasinya tersebut.

----

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.