Ketika 'Halo-halo Bandung' Menggema di Lebak Bulus
ยทwaktu baca 3 menit

Lebak Bulus, 1998. Lagu 'Halo-halo Bandung' dinyanyikan Bobotoh. Menggema membakar semangat penggawa Persib berlaga. Lawannya: sang tuan rumah Persija Jakarta.
Betul, Anda tak salah kira. Pemandangan itu pernah tersaji manakala Persija menjamu Persib di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dalam pertandingan Liga Indonesia (LI) V 1998/99 pada Minggu, 29 November 1998.
Pada laga itu, Persib harus mengakui keunggulan Persija 0-1. Sepanjang dan usai pertandingan, tak ada bentrokan yang terjadi antara Jakmania dengan Bobotoh. Damai.
"Kondisinya dulu biasa saja. Kita nyanyi, mereka nyanyi, saling menghargailah, enggak ada gesekan. Pulangnya juga sama begitu. Enggak ada kerusuhan sama sekali," ujar eks Dirigen Viking, Yana Umar, membuka obrolan dengan kumparan, Jumat (1/9).
Yana menjadi saksi momen manis tersebut. Ia datang ke Lebak Bulus bersama Bobotoh lainnya dengan disambut tangan terbuka oleh seluruh Jakmania.
"Di tribune timur tuh setengahnya sama kami, setengahnya diisi Jakmania. Karena dulu belum ada gesekan, masih adem ayem. Dulu kan di Wilayah Barat [Liga masih dibagi dua wilayah] kayak Persib, Persija, dan tim-tim yang suporternya banyak, jadi kami masih berteman," kata Yana.
"Kami masih datang, dari pengurus The Jakmania datang ke Bandung, kami juga datang ke Menteng atau Lebak Bulus. Enggak ada gesekan," lanjutnya.
Yana mengatakan Bobotoh bisa bertandang ke Lebak Bulus tak lepas dari koordinasi dengan Jakmania. Mereka, lanjut Yana, mendatangi pengurus Jakmania sejak jauh-jauh hari sebelum pertandingan untuk meminta kuota tiket yang akhirnya disetujui.
Namun, ketika Jakmania hendak gantian bertandang ke Stadion Siliwangi, terjadi kesalahpahaman. Yana mengisahkan saat itu komunikasi yang dilakukan baru H-1.
Kedatangan Jakmania ke Bandung akhirnya sia-sia karena tiket seluruhnya sudah terjual sehingga tak tersisa untuk suporter Persija. Di luar stadion, kondisi semakin rumit karena adanya pemukulan kepada Jakmania. Momen itulah, lanjut Yana, yang menjadi awal permusuhan Jakmania dengan Bobotoh.
"Tapi, sekarang alhamdulillah. Pas Kanjuruhan enggak ada lagi keributan. Ada, tapi silent, enggak sampai separah ada yang meninggal, kalau dulu ada yang meninggal, wah pusing," katanya.
Yana menilai kondisi berbagi tribune Jakmania dengan Bobotoh bisa kembali terulang saat ini. Sayangnya, hal itu masih belum terwujud mengingat adanya larangan bertandang dari PSSI.
Ia menilai larangan tandang bagi suporter tersebut merupakan kemunduran karena malah menghalangi untuk berbagai tribune. Hal itu pula yang dilihatnya bisa menimbulkan bentrokan.
"Misalkan saling datang, sekarang Persija main nih, diundang Bobotoh, kasih kuota 500 orang misalkan, terus pengawalan sama Jakmania. Nanti saat itu, dari Jakmania datang ke GBLA [Stadion Gelora Bandung Lautan Api], kasih juga kuota 500 orang, mungkin sudah ada niatan saling datang gitu kan. Kan itu sudah luar biasa, kalau misalkan mau saling ada iktikad baik," ucap Yana.
"Tapi, kan karena si PSSI melarang, ya, gimana lagi. Sayang, makanya ini kebijakan yang mundur sekali buat PSSI. Karena setiap tur pasti Bobotoh atau siapa pun pasti gatel kan mau ke stadion. Itulah bentrokan bisa terjadi. Misalkan, 'Kamu kan Bobotoh kenapa datang ke sini? Kan enggak boleh. Kemarin di Semarang ribut gara-gara itu kan. Makanya, sayang kalau PSSI bikin aturan seperti itu," tandasnya.
