Ketika Ronaldinho Jadi Raja Semalam di Bernabeu

Mudah saja bagi Real Madrid dan Barcelona ketika mereka dihadapkan pada dua pilihan kala itu. Tahunnya adalah 2003 dan kala itu, mereka diminta untuk memilih antara David Beckham dan Ronaldo de Assis Moriera. Yang satu adalah megabintang sepak bola dengan rekam jejak menterang di kompetisi Eropa, sementara yang satu lagi adalah pemuda buruk rupa dengan nama panggilan Ronaldinho.
Beckham ketika itu sedang berada di ambang pintu keluar Old Trafford menyusul perseteruannya dengan Sir Alex Ferguson. Bagi sosok seperti Ferguson, Beckham sudah tak lagi ada gunanya. Menurut sang gaffer, pria kelahiran 1975 itu sudah bukan lagi pesepak bola, melainkan pesolek yang kebetulan mencari nafkah di lapangan hijau. Maka dari itu, bagi Ferguson, Beckham harus segera angkat kaki.
Mencari peminat Beckham tentunya tidak sulit. Apalagi, United ketika itu membanderolnya dengan harga cukup murah. Di usia yang baru menginjak angka 28, Beckham sedang berada di puncak dan niscaya, bakal mendatangkan pelbagai keuntungan dari sana-sini.
Real Madrid dan Barcelona pun ada di garda terdepan dalam barisan peminat Beckham. Bagi Florentino Perez dan Joan Laporta, kedatangan Beckham bakal menjadi sebuah tonggak baru perjalanan klub mereka.
Bagi Real, Beckham adalah pelengkap yang sempurna bagi barisan galacticos mereka. Sebelumnya, mereka telah mendatangkan Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo. Mendatangkan megabintang macam Beckham adalah sebuah langkah logis jika dilihat dari segi apa pun. Sementara, Barcelona kala itu belum memiliki megabintang lagi setelah Figo membelot ke Bernabeu. Jika Beckham datang, maka yang lain bakal menyusul.
Namun, sejarah kemudian mencatat bahwa Beckham akhirnya memilih Real Madrid. Gaya hidup di Madrid dan keberadaan para megabintang lain itu membuat suami Victoria Adams itu kemudian tak juga berpikir dua kali untuk memilih El Real sebagai pelabuhan berikut.
Dari sisi yang lain, Ronaldinho pada saat itu juga sudah tersedia. Setelah dua musim membela Paris Saint-Germain, Liga Prancis kemudian jadi terlalu besar untuknya dan maka dari itu, tidak ada yang mengernyitkan dahi ketika kabar kepindahan Ronaldinho ke klub-klub besar mulai mengemuka. Manchester United yang baru saja kehilangan Beckham pun kemudian bergerak cepat untuk memburunya.
Namun, United rupanya menganggap Ronaldinho sebagai perjudian yang terlalu besar. Mereka pun tak mau mengeluarkan duit terlalu besar untuk menggamitnya. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Laporta yang sudah kadung berjanji untuk mendatangkan pemain bintang untuk mencuri Ronaldinho dari jangkauan United. Dengan dana transfer 30 juta euro, mereka memboyong pemuda keling itu ke Camp Nou.

Sambutan yang diterima Beckham dan Ronaldinho tentu saja berbeda. Di Bernabeu, Beckham disambut layaknya pangeran yang baru saja kembali dari medan perang. Sementara itu, di Camp Nou, Ronaldinho disambut sesuai dengan statusnya kala itu: pemain muda berbakat dari Brasil. Hanya sebatas itu.
Namun, waktu kemudian menjawab pertanyaan soal transfer siapa yang lebih berhasil. Beckham memang mampu membuat Real Madrid yang mewah itu jadi semakin berkilauan, meski pada akhirnya hancur lebur karena buruknya keseimbangan skuat. Di sisi lain, Ronaldinho mampu mengantarkan Barcelona pada sebuah era kejayaan yang terus berlanjut sampai saat ini.
Bertolak belakangnya nasib Beckham dan Ronaldinho itu benar-benar termanifestasi pada sebuah laga El Clasico yang berlangsung pada 9 November 2005. Laga itu sendiri berlangsung di markas Real Madrid, Estadio Santiago Bernabeu, dan nantinya, laga itu bakal dikenang sebagai salah satu laga El Clasico paling menyakitkan dalam sejarah Real Madrid.
Sebelumnya, perlu dicatat pula bahwa sebenarnya, Ronaldinho ini bisa saja bergabung ke Real Madrid ketika PSG mengumumkan bakal melegonya. Akan tetapi, pemain satu ini dinilai tidak sesuai dengan spirit galactico yang diusung oleh Florentino Perez. Kala itu, Ronaldinho belum menjadi merek dagang besar dan itu, tentunya, berbanding terbalik dengan status David Beckham.

Selain Ronaldinho, di skuat Barcelona kala itu ada pula nama Samuel Eto'o. Pemain asal Kamerun ini bergabung dengan Real Madrid pada usia 15 tahun, tetapi kemudian nyaris tidak pernah mendapat kesempatan dan akhirnya dijual ke Real Mallorca. Real sebenarnya bisa saja membeli kembali Eto'o dari Mallorca pada 2004, tetapi mereka hanya mau membeli Eto'o untuk dipinjamkan kembali. Di sini, insting Barcelona bergerak cepat dan didatangkanlah Eto'o dari Mallorca.
Jadilah pada hari itu, Barcelona bertamu ke rumah Real Madrid. Boleh jadi, satu-satunya megabintang di skuat mereka kala itu hanyalah Ronaldinho. Sementara, pemain-pemain lain seperti Eto'o, Xavi, dan Lionel Messi masih terlalu asing bagi telinga awam, sedangkan anggota tim lainnya hanyalah pemain-pemain kelas menengah seperti Giovanni van Bronckhorst dan Edmilson.
Sebaliknya, Real Madrid menjamu dengan penuh keangkuhan. Mereka punya galactico-galactico dengan nama besar dan pemain-pemain lokal mereka macam Iker Casillas, Guti Hernandez, dan Raul Gonzalez pun sudah punya reputasi berkilauan. Ini tentunya belum termasuk nama veteran seperti Roberto Carlos dan Ivan Helguera.
Namun, di situlah terlihat betul bagaimana timpangnya skuat Real Madrid. Tanpa Claude Makelele yang dilego persis setelah mereka mendapatkan Beckham, Los Blancos masih belum kunjung mampu menemukan keseimbangan itu. Sebaliknya, Barcelona ketika itu baru saja lepas dari cengkeraman Louis van Gaal dan kesemenjanaan. Di bawah Frank Rijkaard, mereka berusaha menemukan kembali identitas sepak bola mereka yang dikorup oleh pragmatisme Van Gaal.
Barcelona hanya butuh waktu 15 menit untuk mencetak gol dan gol tersebut dicetak oleh Samuel Eto'o. Dalam perayaannya, Eto'o pun kemudian berusaha sekeras-kerasnya untuk menunjukkan pada Florentino Perez betapa fatal kesalahannya. Namun, itu semua belum seberapa.
Dua gol Barcelona berikutnya dicetak Ronaldinho dengan aksi individual menawan dari sisi kanan pertahanan Real. Dalam prosesnya, dia menjadikan Sergio Ramos, Ivan Helguera, dan Iker Casillas sebagai pesakitan. Akan tetapi, yang paling menyakitkan bagi Real Madrid adalah bagaimana setelah gol kedua itu, para suporter di Santiago Bernabeu justru memberikan aplaus kepada Ronaldinho. Aplaus itu, tentu saja, bukan cuma sekadar aplaus untuk si penampil terbaik, tetapi juga sebuah sindiran untuk Real Madrid yang menurut kesaksian Guti, tidak bermain dengan sepenuh hati.
Dalam sejarah, hanya ada dua pemain lawan yang pernah diberi aplaus oleh publik Bernabeu. Sebelum Ronaldinho, ada Diego Armando Maradona dan dari situ, sudah terlihat jelas di mana posisi Ronaldinho dalam catatan sejarah sepak bola.
Barcelona sendiri kemudian mengakhiri musim dengan gelar juara liga serta Liga Champions. Sementara, para galactico Real Madrid harus menunggu setahun lagi untuk bisa merasakan nikmatnya gelar juara untuk pertama kali. Namun, lebih dari itu semua, ada sebuah pelajaran moral yang bisa dipetik, yakni bahwa dalam sepak bola, yang terpenting bukan deretan individu terbaik, tetapi deretan individu yang bisa membentuk satu kesatuan utuh.
====
*El Clasico akan digelar pada Sabtu (23/12/2017) malam di Santiago Bernabeu. Sepak mula akan dilakukan pukul 19.00 WIB.
