kumparan
Bola & Sports6 April 2020 13:51

Ketika Simone Inzaghi Empat Kali Memberondong Gawang Marseille

Konten Redaksi kumparan
PTR, Inzaghi, Eriksson
Simone Inzaghi mendapatkan arahan dari Sven-Goeran Eriksson. Foto: AFP/Gabriel Bouys
Syahdan, rekor berusia 11 tahun itu pun tak lagi milik Marco van Basten seorang. Lazio terhenti di perempat final setelah kalah 3-5 secara agregat dari Valencia, tetapi Simone Inzaghi sukses mencatatkan sembilan gol yang membuatnya berdiri sama tinggi dengan Van Basten.
Liga Champions 1999/2000 adalah panggungnya. Bagi Inzaghi, itu merupakan kali pertama dia berlaga di ajang seprestisius Liga Champions. Semusim sebelumnya, Inzaghi bermain untuk klub kota kelahirannya, Piacenza, yang harus susah payah bertahan di Serie A.
Walau bermain di klub gurem, Inzaghi nyatanya tak kesulitan mengumpulkan gol demi gol. Total, dia berhasil menyumbangkan 15 gol untuk Piacenza di musim 1998/99 dan prestasi itu membuatnya diboyong Sergio Cragnotti ke Lazio.
Di Lazio, Inzaghi yang masih berusia 23 tahun tidak langsung jadi pilihan utama. Dia harus bersaing dengan Jose Marcelo Salas dan Alen Boksic yang lebih tenar serta lebih punya banyak pengalaman. Akan tetapi, pelatih Sven-Goeran Eriksson tidak lantas memarkirnya terus-terusan.
Inzaghi memang kurang bersinar di Serie A musim 1999/2000, tetapi dia berhasil memancarkan sinarnya di ajang antarklub Eropa. Semua dimulai di Piala Super Eropa, ketika dia dipercaya jadi starter bersama Roberto Mancini di lini depan.
Inzaghi kemudian banyak mendapat kesempatan bermain di Liga Champions, sebelas kali tepatnya. Dari 11 penampilan itu, Inzaghi sukses mencetak sembilan gol yang membuatnya menyamai rekor Van Basten.
Belum ada pemain setelah Van Basten yang bisa mencetak sembilan gol di Liga Champions sampai akhirnya Inzaghi datang. Rekor itu sendiri akhirnya pecah di musim yang sama karena Raul Gonzalez Blanco, Mario Jardel, dan Rivaldo sukses mengemas 10 gol.
Meski demikian, mencetak sembilan gol, apalagi untuk pemain debutan, jelas bukan perkara sepele. Dari sembilan gol itu, empat di antaranya dilesakkan Inzaghi ke gawang Olympique Marseille pada fase grup kedua.
Ya, ketika itu Liga Champions tidak mengenal babak 16 besar. Alih-alih langsung diadu satu sama lain dalam babak gugur, 16 tim yang lolos dari fase grup pertama dikumpulkan lagi dalam empat grup berbeda. Dari sinilah perempat finalis dicari.
Video
Lazio berhasil keluar sebagai juara grup dalam fase tersebut, mengungguli Chelsea, Feyenoord, dan Marseille. Empat gol Inzaghi itu sendiri tercipta pada 14 Maret 2000 ketika Lazio menang 5-1 atas Marseille di Stadio Olimpico.
Tiga gol dicetak Inzaghi pada babak pertama. Dua gol dihasilkannya setelah memanfaatkan umpan dari kedua sisi sayap, sementara satu gol lagi diceploskan setelah dia memanfaatkan bola muntah hasil sepakan Dejan Stankovic.
Setelah Marseille mencetak gol lewat sundulan Jerome Leroy, Inzaghi mendapat kesempatan mencetak gol keempat lewat titik putih. Akan tetapi, sepakan kerasnya mampu dibaca kiper Stephane Porato.
Walau begitu, tak lama kemudian, Inzaghi berhasil mencatatkan nama lagi di papan skor usai menerima umpan matang Sergio Conceicao. Boksic lantas melengkapi kemenangan Lazio itu dengan sundulan di pengujung laga.
Bisa dibilang, musim 1999/2000 itu adalah yang terbaik dalam karier bermain Inzaghi. Setelah itu dia terus menurun dan menurun sampai akhirnya harus dipinjamkan ke Sampdoria dan Atalanta pada pertengahan 2000-an.
CVR, Simone Inzaghi
Simone Inzaghi merayakan gol ke gawang Marseille di Liga Champions 1999/2000. Foto: AFP/Gabriel Bouys
Saat ini Inzaghi telah menjadi pelatih Lazio dan kiprahnya sebagai juru taktik lebih baik ketimbang saat dirinya menjadi pemain. Musim 2019/20 ini Inzaghi bahkan berpeluang besar mengantarkan Lazio meraih Scudetto pertama sejak 2000.
Namun, pandemi virus corona membuat musim harus dihentikan sementara. Di tengah ketidakpastian, Inzaghi disebut salah satu pemainnya, Joaquin Correa, sebagai sosok yang memberi ketenangan kepada skuat Lazio lewat pesan singkat yang dikirimkan secara rutin.
Minggu, 5 April 2020, Inzaghi berulang tahun ke-44. Untuk ukuran pelatih, dia masih bisa dibilang muda. Di usia sekian, dia telah menunjukkan kapabilitas sebagai allenatore jempolan, terbukti lewat keberhasilan meraih satu trofi Coppa Italia dan dua gelar Supercoppa Italiana.
Sejak Juventus memulai dominasi di Italia pada 2011, Lazio menjadi klub dengan jumlah gelar terbanyak kedua, sama dengan Napoli. Hebatnya, Inzaghi melakukan itu dengan sumber daya terbatas dari presiden klub pelit bernama Claudio Lotito.
Buon cumpleanno, Mister Inzaghi! Tanti auguri!
-----
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan