Kumparan Logo

Keylor Navas dan Jalan Panjang Sebuah Kepercayaan

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Navas di final Liga Champions 2017. (Foto: John Sibley/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Navas di final Liga Champions 2017. (Foto: John Sibley/Reuters)

Pendukung Real Madrid boleh-boleh saja menyebutkan bahwa pahlawan mereka di partai final Liga Champions 2016/17 lalu adalah Cristiano Ronaldo. Pun demikian dengan Isco atau Sergio Ramos. Tetapi ingat, mereka tidak boleh melupakan jasa Keylor Navas.

Navas memang bukan sosok yang bisa menampilkan permainan yang lantas jadi pujian. Sama halnya dengan penampilannya yang sama sekali tak berhubungan pertunjukkan teknik.

Tapi, ya, begitulah penjaga gawang. Seolah sudah kodratnya untuk dilupakan. Ada yang menyebut, sejak penyebutan formasi saja seorang penjaga gawang sudah dianggap tidak ada. Sehingga, alih-alih menyebut sebuah formasi dengan 1-4-3-3 atau 1-4-4-2, kita lebih sering menyebutnya dengan 4-3-3 atau 4-4-2.

[Baca Juga: Florentino Perez, si Bapak Pembangunan Real Madrid]

[Baca Juga: Madrid dan Beberapa Alasan Mengapa Mereka Mendominasi Eropa]

Namun, dalam laga final Liga Champions tersebut, Navas menunjukkan bahwa pendapat dirinya hanya pelengkap tim adalah hal yang salah. Meski gawangnya sekali dibobol oleh pemain depan Juventus, Mario Mandzukic, Navas melakukan tiga penyelamatan dan membantu tim besutan Zinedine Zidane itu meraih gelar Liga Champions ke-12 sepanjang sejarah.

Navas kembali menjadi buah bibir usai gelar tersebut. Namanya lagi-lagi dielu-elukan, seperti halnya ketika dia pertama kali didatangkan oleh Madrid dari Levante, musim panas 2014 lalu.

Meski tidak memiliki nama besar, Madrid cukup berani mengajukan tawaran untuk menggaet Navas pada musim panas 2014. Dengan klausul pembelian yang “hanya" 10 juta euro, Navas tidak tampak seperti pemain yang biasa digaet Madrid.

Beberapa kritik yang datang saat Madrid mendatangkan Navas tak membuat pelatih saat itu, Carlo Ancelotti, panik. Baginya, mendatangkan Navas adalah sebuah langkah jitu. Betapa tidak, pada musim sebelumnya, Navas mampu menciptakan 17 clean sheet dari 37 penampilan dan penyelamatan yang mencapai rata-rata 3,81 per pertandingan di La Liga Spanyol.

Bagusnya penampilan Navas di Levante tak membuat Perez Zeledon kaget. Menurut pria yang menemukan Navas tersebut, bakat memang sudah terlihat sejak Navas masih kecil.

Dibesarkan oleh kakek dan neneknya di sebuah perkebunan, Navas sudah menunjukkan bakat sepak bola yang luar biasa sejak masih kecil. Namun, ya, begitu… Karier sebagai pesepak bola yang tak dianggap sebagai suatu pekerjaan besar membuatnya memilih untuk menghabiskan harinya di kebun.

Nasib Navas berubah saat Zeledon datang. Sering memerhatikan Navas bermain sepak bola, Zeledon mengajak Navas untuk bergabung ke Saprissa, yang saat itu tengah berjuang membangun ulang tim untuk mengisi akademi.

Navas menghabiskan masa lalunya di akademi. Berlatih dengan sesama pemain junior yang lain dan bersekolah di hari-hari biasa. Namun sayang, hidup Navas tak berakhir seperti pemain akademi yang lain. Hingga memasuki 20-an, tak ada kesebelasan yang memberi Navas kesempatan bermain.

Keylor Navas berdoa sebelum berlaga. (Foto: John Sibley/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Keylor Navas berdoa sebelum berlaga. (Foto: John Sibley/Reuters)

Memasuki usia 24 tahun, kesempatan itu datang. Albacete, yang bermain di Segunda Division, menawari Navas karier di Segunda Division. Kesempatan tersebut tak ditolak oleh Navas dan membawanya ke tanah yang saat ini dia injak.

Perjalanan Navas yang tidak cukup menyenangkan tak hanya terjadi ketika dia masih berada di Kosta Rika. Pada awal kariernya di Madrid, banyak hal baru yang sempat mengganggu hidupnya, mulai dari strata sosial yang berubah hingga ego yang harus diperhatikan.

Salah satunya adalah sikapnya yang harus menerima permintaan manajemen Madrid untuk menjadi bagian dari transfer David de Gea ke Spanyol. Navas, yang saat itu baru setahun di Valdebebas, tak marah atau apa. Baginya, keputusan manajemen Madrid saat itu adalah yang terbaik.

Beruntung buat Navas (tapi mungkin apes buat Madrid), barter itu batal setelah dokumen transfer yang dikirim lewat mesin faks terlambat sampai. Hingga hari ini, insiden mesin faks ini masih menjadi bahan olok-olok. Buat pendukung United sendiri, mereka mensyukurinya karena dengan begitu, mereka masih memiliki De Gea.

Sikap lain dari Navas yang mengagumkan adalah ketika dia melepaskan sepakan ke wartawan BBC, yang sedang mengintip latihan Madrid dan merekamnya lewat kamera ponsel. Entah apa alasan yang dikemukakan oleh Navas, yang jelas, menurut beberapa media, tendangan ini dilakukan untuk melindungi latihan Madrid dari rekaman kesebelasan lawan.

Navas kala melawan Atletico Madrid. (Foto: REUTERS/Paul Hanna Livepic)
zoom-in-whitePerbesar
Navas kala melawan Atletico Madrid. (Foto: REUTERS/Paul Hanna Livepic)

Dengan segala tindak tanduk Navas yang menyenangkan, tak mengherankan jika seluruh penghuni ruang ganti Madrid menginginkannya tetap berada di bawah mistar. Dilansir dari Marca, seluruh pemain Madrid berharap bahwa kontrak Navas bisa ditambah. Padahal, beberapa pekan silam sempat beredar rumor bahwa Madrid kembali mencoba untuk mendekati De Gea.

Tak pelak, perkembangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa Navas sudah diterima oleh ruang ganti Madrid yang penuh dengan ego besar.

Navas juga menjelaskan bahwa Zidane begitu percaya kepadanya. Seperti dilansir Football Espana, Navas tak lupa mengucap terima kasih atas kepercayaan Zidane tersebut.

“Saya memulai musim dengan sebuah cedera, yang mana begitu sulit untuk disembuhkan. Saya ingin berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Zidane dan membalas semua langkahnya dalam mempercayai saya dengan bermain begitu baik,” katanya.

Percayalah, kepercayaan itu datang setelah menempuh perjalanan jauh dan berjuta peluh.