Keylor Navas: Si Jagoan Madrid yang Selalu Diragukan

Jika Iker Casillas dan Raul Gonzalez saja diperlakukan bak sepah yang dibuang usai disesap manisnya, maka kesempatan apa yang dimiliki oleh seorang Keylor Navas?
Nama Keylor Navas jauh sekali dari kesan mewah. Dia tidak berasal dari negara yang punya nama mentereng di konstelasi persepakbolaan internasional. Dia juga tidak didatangkan dari klub dengan nama besar, dan tentu saja, dia tidak seharusnya menjadi penjaga gawang utama Real Madrid.
Memasuki dekade 2010-an, ada sebuah tren di kalangan klub-klub elite Eropa. Hampir semua dari mereka memiliki dua penjaga gawang berkualitas di skuatnya. Satu penjaga gawang biasanya disiapkan untuk pertandingan-pertandingan liga dan Liga Champions, sementara penjaga gawang satunya adalah ban serep yang terglorifikasi. Para ban serep yang terglorifikasi itu dimainkan pada laga-laga piala domestik atau di laga-laga lain saat rotasi sedang benar-benar diperlukan.
Keylor Navas, awalnya, adalah salah satu dari ban serep yang terglorifikasi itu.
Navas datang ke Real Madrid saat Iker Casillas seharusnya masih berada dalam puncak permainannya, yakni pada tahun 2014 silam. Dia didatangkan dari Levante, sebuah klub semenjana dari Pantai Timur.
Bersama rival sekota Valencia itu, Navas punya rekam jejak yang sebenarnya tidak buruk, tetapi juga tidak cukup untuk memenuhi syarat tak tertulis sebagai kiper utama Real Madrid. Rekam jejak yang dimaksud adalah keberhasilannya membawa Levante lolos ke Liga Europa untuk kali pertama sepanjang sejarah klub pada musim 2011/12 serta menjadi kiper terbaik La Liga bersama Thibaut Courtois dan Wilfredo Caballero pada musim 2013/14.
Atas dasar itulah Navas kemudian ditarik ke Real Madrid pada musim panas 2014. Biaya yang mereka keluarkan untuk menggaet Navas pun tidak terlalu mahal; hanya 10 juta euro. Namun, kualitas Navas di La Liga sudah tak perlu diragukan dan maka dari itu, amanlah stok penjaga gawang Los Blancos.
Setahun lamanya Navas berada di bawah bayang-bayang Casillas dan pada musim 2015/16, manajemen Real Madrid punya rencana baru. Mereka ingin menggantikan Casillas yang sudah menurun dengan David de Gea dan upaya itu sebenarnya sudah berhasil. Hanya saja, kerusakan mesin faksimile kemudian membuat surat-surat transfer De Gea tidak pernah sampai.
Insiden mesin faks itu pada akhirnya menjadi berkah, baik bagi Keylor Navas, Real Madrid, maupun Manchester United selaku pemilik De Gea. Bagi United, misalnya, sampai saat ini, mereka masih benar-benar bergantung pada De Gea untuk menyelamatkan gawang mereka dari pertandingan ke pertandingan. Entah jadi apa United tanpa keberadaan mantan kiper Atletico Madrid ini di bawah mistar mereka.
Sementara itu, bagi Navas, itu menjadi berkah karena dengan bulatnya keputusan manajemen Real Madrid untuk menyingkirkan Casillas, mereka pun tak punya pilihan lain kecuali menjadikan Navas sebagai penjaga gawang utama. Jadilah sejak saat itu nama Navas tak lagi tergantikan di bawah mistar El Real. Kiko Casilla, kiper cadangan baru Real Madrid itu, walaupun punya afinitas lebih dengan klub mengingat statusnya sebagai alumnus La Fabrica, pada akhirnya tetap tak memiliki kemampuan yang cukup untuk menggeser Navas.
Berkah Navas itu kemudian menjadi berkah Real Madrid pula. Pasalnya, pria 31 tahun ini kemudian menjadi bagian integral dari salah satu tim terbaik Real Madrid dalam sejarah. Dia adalah sosok penting di balik keberhasilan Los Merengues merengkuh La Decima dan Una Decima. Selain itu, gelar La Liga pertama dalam lima tahun yang diraih musim 2016/17 juga tak bisa dilepaskan dari andilnya.

Akan tetapi, Real Madrid memang tak pernah puas. Navas yang sejak awal tidak pernah tampak seperti pemain Real Madrid itu kembali digoyang. Pelbagai rumor mengenai kedatangan sosok kiper baru tak pernah berhenti berembus dari kamp Real Madrid di Valdebebas. Nama De Gea, tentunya, kembali disebut. Selain De Gea, Courtois juga konon dipertimbangkan untuk menjadi sosok penjaga gawang besar El Real berikutnya. Tak cuma itu, nama kiper belia, Kepa Arrizabalaga, pun ikut-ikutan disebut.
Navas, untungnya, bergeming. Pada akhir November lalu, dia menyatakan bahwa dirinya tak lagi perlu melakukan pembuktian apa-apa, dan dia tidak (sepenuhnya) salah.
Bagi seorang Keylor Navas, memberi bukti adalah sesuatu yang sudah dilakukannya sejak masih kanak-kanak dulu. Jika kini, di saat dia sudah mengoleksi dua medali juara Liga Champions, dia masih diragukan, artinya ada yang salah dengan mereka yang meragukannya itu.
Ketika masih bocah dulu, Navas pernah secara menyakitkan ditolak untuk bergabung dengan klub kota kelahirannya, Club Municipal Perez Zeledon. Navas masih berusia 12 tahun ketika dia diminta untuk mengikuti trial di klub tempat ayahnya bermain itu. Namun, Perez Zeledon saat itu tidak menganggap Navas layak untuk bergabung di akademi mereka. Alasannya? Karena posturnya terlalu kecil.
Untuk ukuran penjaga gawang, postur Navas memang tidak sebesar kiper-kiper papan atas lainnya. Tinggi tubuhnya hanya 185 cm dan hal ini, di beberapa kesempatan, bisa menjadi kelemahan tersendiri. Akan tetapi, Navas menutupi itu semua dengan ketangkasannya dalam bergerak, lompatan tinggi, dan kemampuan apiknya dalam situasi satu-lawan-satu.
Pada akhirnya, klub yang beruntung mendapatkan jasa Navas untuk pertama kalinya adalah Deportivo Saprissa, klub terbesar di Kosta Rika sana. Untuk itu, Navas harus berterima kasih kepada kakeknya yang tak pernah lelah mengantar dirinya berlatih ketika kecil dulu. Kakeknya menjadi figur penting karena kedua orang tua Navas harus bekerja di Amerika Serikat.

Navas menghabiskan waktu lima tahun di Saprissa sebelum hijrah ke Albacete pada tahun 2010. Menariknya, Albacete merekrut Navas persis 20 tahun sejak mereka merekrut kiper asal Kosta Rika lainnya, Luis Conejo. Meski gagal menyelamatkan Albacete dari degradasi ke Divisi Tiga pada musim pertama, Navas tetap berhasil menjejak La Liga ketika dipinjamkan ke Levante semusim berikutnya.
Musim pertamanya di Levante itu diwarnai dengan keberhasilan lolos ke Liga Europa itu tadi dan setelah itu, makin muluslah perjalanan Navas menuju puncak. Adapun, selain performa bersama Levante, satu alasan lain mengapa Real Madrid akhirnya kepincut untuk mendatangkannya adalah penampilan Navas di Piala Dunia 2014. Di situ, dia berhasil membawa Kosta Rika ke perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sayang, La Sele kemudian dihentikan Belanda pada babak adu penalti.
Rentetan pembuktian itu memang seharusnya membuat Navas tak perlu lagi membuktikan apa-apa, khususnya kepada suporter dan manajemen Real Madrid. Akan tetapi, kalau ada sedikit keraguan mereka menyoal Navas, itu mungkin bisa sedikit dimengerti karena memang sosok satu ini tidaklah sempurna.
Navas adalah tukang blunder dan itu sudah cukup sering terjadi selama dirinya berkostum Real Madrid. Bahkan, musim ini pun dia sudah membuat satu kesalahan yang berujung gol. Dengan obsesinya pada kesempurnaan, terang saja segenap pendukung dan manajemen Real Madrid tidak menganggap Navas sebagai sosok yang benar-benar pantas.
Akhir pekan ini, Navas punya sebuah tugas berat. Dia harus mengawal gawang Real Madrid dari gempuran para pemain Barcelona. Tidak ada tempat dan toleransi bagi kesalahan sekecil apa pun pada pertandingan seperti El Clasico dan Navas seharusnya tahu itu. Pasalnya, jika kesalahan itu sampai terjadi, yang akan kena batunya bukan cuma Real Madrid, tetapi juga dirinya sendiri.
