kumparan
28 September 2018 18:11

Kini, Renato Sanches Sudah Benar-benar Jadi Pemain Bayern

Renato Sanches
Renato Sanches kini sudah nyetel di Bayern Muenchen. (Foto: Reuters/Andreas Gebert)
Rasanya baru kemarin ketika masa depan Renato Sanches terlihat begitu kelabu. Di usianya yang masih belia, pemain yang bersinar di Piala Eropa 2016 itu seperti sudah kehilangan segala potensinya. Di Swansea City, klub yang di akhir musim 2017/18 terdegradasi dari Premier League, Renato tak sanggup berbuat banyak.
ADVERTISEMENT
Jika narasi perjalanan karier Renato itu terdengar begitu segar, jangan heran. Sebab, apa yang tertulis di atas memang baru terjadi pada musim lalu. Oleh Bayern Muenchen, Renato disingkirkan -- ingat, bukan disekolahkan -- ke Swansea karena Carlo Ancelotti (pelatih Bayern di awal musim 2017/18) tidak menginginkan jasanya.
Padahal, Renato datang ke Bayern pada musim 2016/17 dengan membawa segudang harapan. Performanya di Piala Eropa 2016 -- di mana Portugal keluar sebagai juara -- adalah puncak dari segala potensi yang dia pamerkan saat berseragam Benfica pada musim 2015/16. Kecepatan, teknik, kekuatan, semua dimilliki oleh pemain kelahiran Amadora itu.
Akan tetapi, di Bayern segala potensinya itu seakan-akan menguap. Pada musim 2016/17, Renato hanya bermain sebanyak 17 kali, dengan 11 di antaranya sebagai pengganti. Di Swansea, pemain keturunan Tanjung Verde ini juga akhirnya cuma dipercaya tampil 12 kali.
ADVERTISEMENT
Setelah musim 2017/18 rampung dan Swansea turun kelas ke Championship, nama Renato terlupakan. Dunia sepak bola seperti sudah siap menerima kenyataan bahwa gelandang berambut gimbal itu hanya akan menjadi satu dari sekian banyak pemain berbakat yang layu sebelum berkembang.
Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Di awal musim 2018/19 ini, Renato yang dulu mengundang decak kagum itu telah kembali.
Sejak masa pramusim, Renato sudah menjadi bagian dari skuat Bayern besutan Niko Kovac. Meski begitu, jebolan akademi Benfica ini tetap harus sabar menunggu untuk bisa melakoni laga kompetitif di bawah pelatih asal Kroasia tersebut. Pada pertandingan resmi keenam Bayern musim ini, Renato baru dipercaya untuk turun.
Menariknya, 'debut' Sanches itu dilakoninya dengan bertanding di markas Benfica, Estadio da Luz. Pada laga Liga Champions itu, Renato turun sebagai starter mendampingi Javi Martinez dan James Rodriguez. Hasilnya? Luar biasa manis. Pada menit ke-54, Renato sukses mencetak gol kedua sekaligus memastikan kemenangan Bayern.
ADVERTISEMENT
Sejak itu, Renato selalu turun di laga-laga Bayern. Memang, pada laga menghadapi Schalke, Renato cuma turun selama tiga menit. Akan tetapi, ketika Bayern menjamu Augsburg di spieltag berikutnya, dia dipercaya turun sejak awal di Bundesliga oleh sang trainer. Tak cuma turun sejak awal, Renato pun mampu merampungkan pertandingan tanpa ditarik keluar.
Renato Sanches
Renato Sanches usai membobol gawang mantan klubnya, Benfica. (Foto: Reuters/Pedro Nunes)
Catatan yang ditorehkannya kala bertanding melawan Augsburg itulah yang membuat Renato kini begitu percaya diri. "Baru sekarang aku benar-benar datang ke Bayern. Aku merasa bahwa pelatih (Niko Kovac), rekan-rekan setim, serta para staf memercayai diriku. Bagiku, kepercayaan itu sangatlah penting," kata Renato seperti dikutip dari ESPNFC.
"Aku merasa dalam keadaan bagus dan aku puas dengan penampilanku. Walau demikian, aku tadi masih membuang-buang peluang," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Capaian Renato ini mendapat tanggapan positif dari dua pemain senior Bayern, Arjen Robben dan Mats Hummels. Menurut Robben, kini yang perlu dilakukan Renato adalah mengasah penyelesaian akhirnya.
"Renato punya kekuatan yang luar biasa. Itu terlihat dari bagaimana dia menendang bola. Aku pernah bilang kepadanya bahwa dia terlalu sering menendang bola hanya dengan kekuatan. Aku tidak menyalahkannya, tetapi alangkah baiknya kalau dia rileks sedikit dan lebih memilih untuk melakukan placing," kata Robben.
Sementara, Hummels berkata bahwa Renato punya potensi untuk jadi salah satu pemain penting Bayern. "Dia mampu mengkreasi kans untuk dirinya sendiri dengan akslerasinya yang sukar dihentikan. Namun, ya, pada akhirnya, yang terpenting adalah apakah bolanya masuk ke dalam gawang atau tidak," kata eks pemain Borussia Dortmund itu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan